21 September 2012

Saya kangen.
Kangen menulis sesuatu yang bukan hanya sekedar dialog.
Kangen menulis sesuatu yang bercerita.
Kangen menulis tentang rasa,
tentang kamu,
tentang apa saja.

Tunggu ya, sebentar lagi saya pulang, saya akan banyak bercerita :)

19 September 2012

pic source

I don't want anyone else,
only. you.

09 September 2012

Kalau sudah tidak ada yang diperbincangkan, untuk apa tetap diam? Pergi.

04 September 2012

pic source

"Sayaaang, mau kopi?"

(hampir) Menangis

Siang ini, saya hampir menangis.
Membayangkan kamu di samping saya, membawakan banyaaaak sekali cerita setelah kepulanganmu dari benua seberang sana.
Kemudian kita akan menjadi berdua saja, tanpa ada siapa-siapa.

Kamu, yang berbaring di samping saya, terlihat lelah.
Kulitmu yang menggelap karena terbakar sinar matahari, namun ototmu yang lebih kencang. Kerja kerasmu menghasilkan, sayang. Lebih lama lagi di situ, pasti kamu sudah bisa jadi binaragawan. Oh iya, masih ada kontrak kedua, ketiga dan seterusnya, ya. Baiklah.
Sebentar lagi matamu akan terpejam, melepaskan diri sejenak dari apa yang harus kamu kerjakan.
Dan saya akan diam-diam merebahkan kepala saya di dadamu,menyelundupkan wangi rambut saya yang katanya kamu suka, ke dalam indera penciumanmu.

Kita akan berpelukan dalam diam, menikmati kebahagiaan yang akhirnya kita rasakan kembali.
Kita akan tersenyum sendiri, juga dalam diam, membayangkan betapa bodohnya masing-masing kita telah meluapkan emosi kemarin-kemarin dengan cara yang salah. "Apa jadinya kalau kamu marah dan akhirnya meninggalkan aku?" mungkin itu yang ada di dalam otakku nanti.
Kita akan berhenti diam untuk kemudian saling memandang dan tersenyum ke satu sama lain. Mengeluarkan senyum bodoh yang selalu kita lemparkan untuk akhirnya kita leburkan jadi tawa membahana dan peluk yang semakin hangat.

Siang ini, saya hampir menangis.
Merasakan betapa saya rindu kamu, rindu berbicara tentang apa saja, kapan saja, dan dimana saja denganmu.
Memusingkan hal-hal kecil yang akan kamu timpali dengan komentar-komentar singkat.

Biasanya, kamu akan bertanya keberadaan saya dan apa yang sedang lakukan, mengingat pacarmu ini tukang lompat-lompat dari satu lokasi ke lokasi lain dan melakukan banyak hal, jelas kamu akan melontarkan pertanyaan yang sama beberapa kali dalam satu hari.

Biasanya, kita akan berbicara tentang menu makan siang kita. Kamu yang akan selalu menghadirkan tempe, dan saya yang tak hentinya mengomentari hal itu. Kita pernah tertawa bodoh mengenai tempe, kamu ingat, sayang? Kamu yang tidak boleh memakan daging sapi dan saya yang tidak boleh memakan daging babi, lalu kalau kita menikah nanti kita akan makan tempe tiap hari.

Biasaya, kita akan saling mendengar suara satu sama lain di telepon, sebelum kita tidur, setelah kita menjalankan ibadah malam kita. Kamu dengan sembahyang-mu, dan saya dengan sholat saya. Kita melanggar aturan Tuhan dengan mencintai satu sama lain, tapi bukan berarti kita tidak beriman. Ya sayang, ya?

Siang ini, saya hampir menangis.

Sayang, ayo pulang, biar nanti aku bisa peluk aku pijitin aku usap-usap kepalanya sampe ketiduran biar capeknya hilang, ya? Setelah itu, baru kita bicarakan lagi..

03 September 2012

Mahogany

Halo halooo! Postingan dari domain pribadi, akhirnyaaa setelah sekian lama, tilcik berdiri sendiri jua! Mamaaaak!
*menangis haru*
*potong tumpeng*
*gelar dangdutan tujuh hari tujuh malam*

Jadi, saya mau menulis postingan berkualitas untuk membuka postingan di tilcik dotkom pada kesempatan kali ini, yaitu...
Akhirnya saya merubah warna rambut saya. Ihik ihik.
*kibas dulu dikit rambut barunya*
Begini, tadi pagi saya lagi celingukan pegel-pegel di depan Bleki dari pagi-siang, sampai akhirnya hati saya tergerak untuk memberikan punggung ini sentuhan-sentuhan cinta dari tukang pijet di salon. Iya, namanya Masseur. Tapi kalo yang mijetin mbak-mbak, ya namanya Mbakseur.
*ditotok mati*

Akhirnya saya mandi dan ganti baju, setelah rapi jali kece dan wangi WHICH IS SAYA BINGUNG KENAPA SAYA MANDI PAN ENTAR KALO PIJETNYA PAKE LULUR SAYA MANDI LAGI, saya pamit dan meminta restu kepada kedua orang tua saya untuk menjalankan ibadah kecantikan pada hari Minggu kali ini.
Berikut percakapan saya dan Papa yang terjadi siang tadi:
Saya : Pa, berangkat dulu, ya.
Papa : Mau kemana?
Saya : Ke salon.
Papa : Mau ngapain?
Saya : ............
APAKAH BAPAK SAYA BERPIKIR SAYA AKAN MAIN CONGKLAK ATAU IKUT KELAS MEMASAK DI SALON? ATAU MEMANG SELAMA INI BAPAK SAYA MENGANGGAP SAYA LAKI-LAKI? SEBAGAI ANAK PEREMPUAN YANG BERASAL DARI PELUH DAN BIBITNYA, SAYA MERASA GAGAL-SODARA-SODARA SEKALIAN!
*menangis di bawah lampu pekarangan kantor Kelurahan*
*diusir hansip domestik*
Saya menyerah, akhirnya mengalihkan proposal izin juga restu dan doa-doa terlampir kepada Mama. Dengan rasa pegal di punggung yang makin terasa serta dorongan juga hasrat mendengar bunyi keretek-keretek ketika punggung saya dihajar pijatan mahadahsyat, saya cium tangan dan pamit. Berikut juga percakapan yang terjadi antara saya dan Mama:
Saya : Berangkat dulu, Ma"
Mama : Mau kemana?
Saya : Salon
Mama : Mau potong rambut?
Saya : Enggak, krimbat aja.
Mama : Oh, yaudah hati-hati.
.......
Udah gak usah protes. Saya juga bingung kenapa ketika ditanya apa yang akan saya perbuat di salon dari harusnya jawaban "Mau pijet dan lulur" menjadi "Krimbat". Namun dalam sepersekian detik saya ingat kalau saya belum keramas dengan baik dan benar. Lagipula, kalo krimbat kan dapet pijetnya juga, jadi 2 in 1. HOBAHH! Dengan tekad yang bulat, saya pun berangkat. #rhyme.

Sesampainya di salon.