18 October 2012

Saya akan singgah untuk beberapa hari ke depan, di pulaumu yang dihujani sinar matahari namun selalu menyenangkan.

...Untuk kemudian tinggal dan menetapkan hati.

02 October 2012

picture source

There will be you and I, sitting in front of each other, talking about how we should plan our future, or how will we end this relationship.
Because in the end, life is about choice, don't you think?

Senja di Batas Khatulistiwa #8 - Susi

Kepada Sersan Djatmiko, pemberani kesayanganku..

Aku sangat minta maaf karena baru sekarang bisa membalas suratmu. Keadaan Papi sungguh memburuk dan aku hampir tidak memiliki celah untuk membalas suratmu. Soetopo si ingusan itu juga tidak berhenti mendatangi dan mendekatiku. Terakhir dia mengajakku berlibur bersama yang tentu saja aku tolak mentah-mentah. Aku hampir menyerah ketika aku harus menghadapi kenyataan bahwa Papi terus mendesak aku untuk menikahi Soetopo si anak walikota tengil itu, aku nyaris pingsan ketika minggu lalu dia dan kedua orang tuanya datang untuk melamarku. Kala itu, nampaknya Papi lupa akan sakit dan rengekan serta keluhan akan penyakitnya, Mas. Yang aku lakukan hanya mengingat senyummu dan harum terakhir sekotak martabak  yang kita habiskan berdua dengan beringasnya sebelum kamu berangkat ditugaskan.

01 October 2012

Quickie

This will be a quick post. Oh you can say that I'm doing a quickie, without condom.
So I found Kadek wrote on his facebook status, "I have so much to say, but you're so far away".
Do you know how does it feel to read such writing?
Failure.
And it hurts me.

A good Monday you're gonna have, people. Please be grateful of what you have, please be thankful of having a good lover who can always be bside you in your upside down. Not the one like me.

29 September 2012

A prove of love and faith

Rabu kemarin, saya makan siang.
Bukan sekedar makan siang biasa, tidak ada sepiring ketoprak dengan telor ceplok di depan saya, melainkan seorang teman. Teman lama, yang tidak akan saya sebutkan siapa dan namanya di sini, for the sake of privacy.

So, let me begin the story.

Siang terik, sekitar jam 2 siang di Sudirman dan sekitarnya. Sinar matahari terasa panas menusuk, setajam tatapan perempuan yang sedang insecure sama pacarnya. Kebetulan dia habis ada panggilan untuk melakukan psikotes di kantor saya untuk kebutuhan recruitment pegawai baru. Setelah memesan es teh manis untuk dia dan es teh tawar untuk saya, kami menyalakan rokok masing-masing (baca: rokok dia yang saya rampok MUAHAHAHAHA), kami memulai pembicaraan. Been a long time since our last conversation. Kalau dirasa-rasa tanpa diraba, kangen juga saya sama kampret yang satu ini.
Kami memulai pembicaraan dengan topik standard: Current life.
Dia menanyakan bagaimana pekerjaan saya yang sekarang, begitu juga dengan saya. Kami saling bertukar cerita, sampai akhirnya..
Dia: Gue kan kemaren sempet juga dipanggil di tempatnya (salah satu nama teman kami)
Saya: (dalem hati: gue udah tau, yang lo gak dateng kan? Gue diceritain sama dia. Monyiong gue sebel sama elo udah dipanggil masih mangkir) He eh, terus?
Dia: Gue nanya sama anak gue.
Saya: *bengong* Nanya apaan? Anaklo kan baru lahir?
Dia: Iya, gue nanya sama dia, "De, besok Ayah ada panggilan nih di tempatnya tante (nama teman kami), kalo menurut kamu Ayah lebih baik dateng, Dede nangis ya. Tapi kalo menurut Dede, sebaiknya Ayah jangan dateng, Dede ketawa aja.." eh terus anak gue ketawa, Ta.
Saya: ....terus lo nggak dateng?
Dia: Nggak, Ta.
Saya: (diam seribu bahasa. Asli, saya sangat merasa bersalah sama si kampret yang rokoknya habis saya rampok ini. Maafin gue, ya. Now you read this, no?)
Dia: Terus pas ada panggilan di tempat elo, gue nanya juga nih ke anak gue..
Saya: Nanya gimana?
Dia: Ya sama. Gue bilang, "De, besok Ayah ada panggilan nih di tempatnya Tante Nita. Kalo menurut Dede,  Ayah sebaiknya jangan dateng, Dede nangis ya. Tapi kalo menurut Dede, Ayah sebaiknya dateng, Dede ketawa, ya".
Saya: Terus?
Dia: Anak gue diem aja, Ta.
Saya: Lah?
Dia: Eh terus gak lama, dia nyengir. Yaudah gue datengin ke tempatlo.

Percakapan tentu tidak berakhir di situ, kami masih ngobrol tapi ngalor ngidul. Memang di antara kami, percakapan serius tidak akan panjang umurnya, ya kayak yang saya tulis di atas tadi :))

27 September 2012

Marathon Race

Kemarin saya berbincang dengan dua orang teman yang saya tidak akan sebutkan namanya di sini.
Percakapan ini terjadi ketika kami sedang di perjalanan pulang, sehabis meeting.
Saya banyak bercerita tentang situasi relationship yang saya jalani bersama Kadek. Up and down-nya, senang-susahnya, percaya-insecure-nya, semuanya.
Sampai akhirnya, saya bersuara.
Bukan sekedar deretan kata yang terpendam dalam otak saya, namun kali ini dia bekerja sama dengan hati saya.
"Gue capek."
Akhirnya keluar juga kalimat itu dari bibir saya. Sialan.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali mengalami mental drop setiap kali bayangan-bayangan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk terjadi.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali memiliki kecurigaan yang besar.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali putus asa dan memutuskan untuk menyerah setiap kali saya memikirkan tentang ke mana hubungan ini akan berujung.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali merasa pesimis untuk hasil akhir dari hubungan kami nanti.

21 September 2012

#RasaCinta, tulisan tentang cinta yang penuh rasa

Rasa Cinta - Mencecap Cerita di Setiap Rasa

Yes it issssssss, people!
Our baby has been born!
Setelah selama ini cuman jadi impian dan menumpahkan seluruh sampah pikiran di dalam blog ini, akhirnya, saya ikut berpartisipasi dalam sebuah buku, yang saya tulis bersama beberapa teman lainnya. WOO HOO!
*kibas-kibas pecut kuda lumping*

Jadi begini, ceritanya dari Awal..
Pada suatu malam minggu yang tidak terlalu sendu karena saya ditemani nasi goreng yang warnanya tidak abu-abu *cuman buat ngelengkapin rhyme aja sih*, saya di-BBM sama Ariev, ngajakin jalanin project ini. Saya emang ya dasarnya banci tampil, seneng banget diajakin nulis dan langsung meng-ho oh-kan tawaran tersebut tanpa pikir panjang. And here goes the real story..
Brainstorming dilakukan. Saya diperkenalkan dengan Roy dan Teh Dewi lewat email. Total penulis as you can see from the picture, ada 7. Selain kami berempat ada juga Dwika, Wandy dan juga Loli. Diskusi kami lakukan lewat email. Tema dan topik tanpa Hidayat juga dibicarakan. Masing-masing update tentang tulisan apa saja dan tentang apa ceritanya, Roy beberapa kali mengingatkan tentang deadline yang dengan tak bermartabat manisnya kami langgar. Sampai akhirnya, selesai sudah tugas menulis kami. Lanjut ke tahap berikutnya..

Kami set up waktu untuk ketemuan dan ngomongin ini itu perintilannya. Dari judul, tagline, konsep cover seperti apa, dan lain-lainnya. Saya jelas seneng banget karena waktu itu akan jadi waktu pertama kalinya saya ketemu Roy dan Teh Dewi. Janjian ketemuan sama Roy di mal paling gaul seantero dunia-akhirat, Arion Mal. Sempet agak bodor nyasar-nyasar dikit, akhirnya saya ketemu Roy. Akhirnya! Roy Saputra, sang penulis kondang tapi sayangnya jomb...........hmmmmppphhhttt.
*keburu dibekep Roy*
LANJUT!
Setelah ketemu sama Roy dan menjemput Dwika di sebuah hotel (?), kami meluncur ke tempat ketemuan, yaitu Ketjil Kitchen. Tempatnya enak dan cozy, menyenangkan. Dan di situlah saya pertama kali ketemu Teh Dewi. Senangnya dobel. Lalu kami ngobrol-ngobrol haha-hihi dan sedikit memperbincangkan tentang perintilan "anak" kami ini :)

Percakapan berjalan seru dan menyenangkan. Kami bahkan sempat pindah ke Beer Garden  yang juga di SCBD. Merasa capek ketawa-tawa dan karena ada anak perawan yang harus diantar pulang sebelum tengah malam, kami pulang.