06 June 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #4 - Susi

Dear Mas Djat yang selalu bikin aku mules pingin buang haDJAT tiap diingat..
Wow, it rhymes, Mas.
...
Aku agak lupa, karena ejaanku akhir-akhir ini British sekali, jadi Romi aku tulis Romy, tapi namanya tanpa Raffael jadi tidak bisa menghipnotisku.. Indah Dewi Pertiwi yang bisa hipnotis akuuuh~

Oke, aku mulai ngawur. Aku kebanyakan minum sari aren ini nampaknya, Mas. Jadi rada tipsy gimanaaa~ gitu.

Mas Djat yang bikin aku selalu lon-djat lon-djat kegirangan,
Aku juga tidak mementingkan betapa perbedaan secara teori memisahkan kita. Tapi aku selalu yakin kalau hati kita satu, Mas. Terkadang aku sedih ketika orang tuaku terus menanyakan siapa calon suamiku, tapi aku masih sangat takut untuk menyebut namamu, Mas. Aku terkadang bingung dan menangis kalau aku mengingat hal ini, tapi apa boleh buat, aku tidak bisa berbuat apa-apa..

Mas Djatku sayang,
Sebagaimanapun bingungnya kita berdua akan masa depan, aku mohon agar kamu tetap serahkan semuanya kepada Tuhan. Walaupun kita menyebut dan menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda, namun aku yakin kalau Dia akan selalu ada untuk kita para umatnya.. Untung di dekat sini ada gereja walaupun kecil, jadi Misa Jum'at pertama kemarin, aku berdoa untukku, untukmu, dan untuk hubungan yang kita jalani dengan sepenuh hati ini.. Aku selalu percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan untuk kita, kalau kita ditujukan untuk satu sama lain.. Kalau memang benar adanya, pada akhirnya kita akan pulang dengan aman ke sebuah peluk yang nyaman.

Bahwa aku sangat menyayangimu seperti sekotak martabak keju spesial, bagai sebungkus sate ayam sepuluh tusuk yang baru turun dari panggangan lengkap dengan nasi putihnya yang mengepul.
...
Aku jadi lapar, Mas.
Aku makan malam dulu, ya. Kamu juga jangan lupa makan malam.

Kutunggu ceritamu yang berikutnya, akan kubaca dengan segenap senyum hangat.

Salam rindu yang menggebu,
Susi Marina Dewi
Dalam keadaan lapar 







---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini