06 March 2011

Tentang Kamu

Ada sesuatu pada kamu, yang selalu berakhir di saya dengan senyuman.
Sinar dari matamu yang berwarna hitam pekat, sesuai dengan kopi hitam favorit saya.
Caramu membuat saya tertawa dari hal-hal sederhana,
caramu membuat saya tersenyum dari senyummu,
caramu membuat saya merasakan wajah saya memanas tiap tanganmu menyentuh poni saya lalu mengelus kepala saya hanya untuk membuat saya cepat tidur. Hanya sejauh itu yang kamu lakukan dengan nyalimu, dan saya tidak keberatan, malah merasa senang.

Kamu dan suaramu.
Apa kamu tahu, setiap "Halooo!" di awal percakapan telepon yang kita lakukan selalu saya ucapkan dengan senyum lebar?
Seperti ketika saya mengangkat telepon dari Papa. Ya, seperti itu. Kamu kaget? Saya juga tidak menyangka. Ternyata selain nama kalian berdua yang sama, efek yang kalian berikan kepada saya juga sama.
Apa kamu tahu, setiap mendengar kamu menyanyi, pipi saya memerah? Ya, saya tersipu.
Suaramu mulus, saya yang bergetar. Ya, sehebat itu efeknya.
Cara kamu menyanyi, sungguh terlihat tulus dan tidak main-main. Saya tidak akan pernah bosan untuk mendengar kamu menyanyi. Kapanpun. Dimanapun. Lagu apapun. Sungguh.

Kamu dan gitarmu.
Pasangan yang serasi. Satu-satunya yang saya cemburui ketika saya sedang bersama kamu.
Ingin rasanya saya rebut dia dari kamu dan bilang,"You're with me, NOW!"
tapi tidak, saya tidak segila itu.

Kamu dan kesederhanaanmu.
Hal yang paling saya suka dari kamu. Tidak macam-macam, tidak banyak prosedur, sungguh santai. Hal yang paling cocok dengan kita yang tidak terburu-buru.

Kamu dan kesediaanmu terhadap saya.
Menemani saya yang banyak maunya, mendengar cerita saya yang tidak ada habisnya, tersenyum melihat kerutan di bibir saya yang biasanya orang sebut dengan cemberut, mengangkat setiap telepon saya yang lebih banyak tidak pentingnya daripada inti pembicaraannya, menghembuskan asap tembakau bersama saya diselingi cerita-cerita dan obrolan ringan. Saya suka itu semua.

Mas,
saya tidak tahu kamu akan baca tulisan ini atau tidak.
Tapi yang jelas, saya mau kamu tahu,
walaupun kita belum bisa menyebut apa yang kita punya ini sebagai sesuatu,
walaupun saya masih terbungkus ketakutan dan keraguan untuk membebaskan perasaan(tapi kamu mau menunggu, terima kasih untuk itu. Sungguh),
tapi saya suka dengan apa yang kita jalani sekarang. Apapun itu namanya.
Saya selalu menyambut semburat merah di pipi saya yang kurang minimalis ini dan kupu-kupu yang dengan brutalnya beterbangan di dalam perut saya seperti helikopter dengan pilot yang hanya punya SIM B untuk truk sapi Jakarta - Garut.

Mas,
kalau kamu mau,
genggam tangan saya. Jangan biarkan saya kemana-mana, dengan caramu yang saya selalu suka.
Waktu yang kita miliki, saya tidak tahu masih banyak atau tidak.
Kesempatan yang kita punya, saya tidak tahu masih tersedia sebanyak apa.
Tidak perlu khawatir, di sini kamu tidak sendiri. Ada saya,
ada kita.
Ya?
:)