Showing posts with label personally. Show all posts
Showing posts with label personally. Show all posts

22 August 2020

Ale

Teruntuk kamu.

Kamu datang dengan tenang namun serta merta, telah mengisi hari-hari saya dengan detak jantung yang berlomba-lomba dan tak acuh irama. 

Kamu, membuat aliran darah saya naik cepat ke kepala, hanya dari memandangi matamu ketika kamu berbicara. 

Kamu, yang membuat saya menoleh ke kiri setiap kali saya pulang, hanya untuk melihatmu dan merasa tenang. 


Kamu sudah tau apa yang saya rasa setiap kamu hadir di dekat saya. 

Kamu sudah tau bahwa kamu adalah istimewa yang berbeda, karena kamu tidak hanya datang, namun juga menghadirkan ruang. 

Kamu sudah tau bagaimana saya tidak ingin kamu beranjak, karena lembutmu telah membuat saya kembali berpijak.


Pada tulisan saya yang ini, saya bercerita tentang bagaimana saya, untuk pertama kalinya melihat orang yang sama sekali tidak saya kenal, sangat memasrahkan hidupnya pada Yang Maha Memiliki: Doa yang terdengar nestapa, air mata yang mengalir tanpa jeda, berlindung lemah pada sujud yang bersimpuh luruh. Semua terjadi di depan mata saya, menyadarkan saya bahwa hidup ini memang bukan milik kita. Semua rasa yang dirasa, asa yang dipuja, tidak pernah benar-benar kita punya.  


Teruntuk kamu, yang baru saja mendengar isak khawatir saya.


Saya tidak tau Dia memiliki rencana dan kehendak apa untuk kita, namun saya ingin menikmati hadirmu dengan seksama. Saya juga mau kamu tau bahwa kamu membuat saya merasakan jenis nyaman yang belum pernah saya raba, dengan cara yang belum pernah orang lain tawarkan kepada saya sebelumnya. 


Kamu, membuat saya merasa utuh.

Karenamu, saya menjadi perempuan paling bahagia di dunia.

21 February 2020

One Magical Journey

Orang bilang Umrah adalah perjalanan spritual yang maknanya tidak akan sama pada tiap orang. Saya, sebagai orang yang beragama namun tidak terlalu taat, menganggap Umrah hanyalah sebuah ‘liburan’ biasa dengan latar belakang agama. Setidaknya, pemikiran tersebut menetap di pikiran saya hingga saya mengalaminya sendiri. Saya baru saja kembali dari menjalani ibadah Umrah bersama keluarga: orang tua dan adik saya. Pesawat kami landing tadi pagi, 20 Februari 2020, pukul 09.30 pagi.

Hari-hari pertama menjalani rangkaian wisata ibadah ini memang menyenangkan: kami landing di Madinah, jarak dari airport ke hotel tidak terlalu jauh, dan yang paling penting, jarak dari hotel tempat kami menginap ke masjid Nabawi, hanya 1 menit jalan kaki. Dekat sekali sampai kami bisa mendengar adzan yang berkumandang dari kamar kami. Suhu udara masih sejuk cenderung dingin karena kami datang di mana musim dingin baru berakhir dan musim panas belum datang. Semangat sekali saya jalan kaki ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Masjidnya bagus, bersih, dan teratur. Kebanyakan orang di sana — petugas hotel, penjaga toko, sampai petugas masjid, bisa berbahasa Indonesia walaupun mendasar sekali. Saya jatuh cinta pada damainya Madinah.

Tiba pada hari ke 4, di mana kami sekeluarga bersama rombongan harus berangkat ke Mekkah. Di sini keindahan itu mulai terkikis.....

Kami harus melakukan perjalanan kurang lebih 5 jam dengan bus. Di awal perjalanan, kami sudah harus memakai baju ihram, serta larangan-larangan yang telah berlaku: tidak boleh ada sehelai pun rambut yang terlepas dari tubuh, tidak boleh ada sesenti pun kuku yang patah karena dipotong atau digigit secara tidak sadar, tidak boleh memakai wangi-wangian (ini yang paling membuat iman saya tergoyahkan, karena saya paling takut sama yang namanya bau — selalu stand by minyak wangi di tas saking takutnya badan saya bau dan mengganggu orang sekitar), dan hal-hal lainnya. 

Kami tiba di Mekkah sudah malam sekali, lalu langsung ke hotel untuk check in dan tidak lama dari situ, diharuskan untuk berkumpul lagi dan melakukan Tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali) dan Sa’i (berjalan bolak-balik bukit Safa dan Marwa, sebanyak 7 kali juga). Pengalaman pertama kali melihat Ka’bah memanglah sangatlah luar biasa. Perasaan kagum, haru, dan bahagia kurang lebih bercampur jadi satu. Jarak dari hotel tempat kami menginap ke Masjidil Haram di mana Ka’bah berdiri kokoh selama ribuan tahun di dalamnya, juga sangat dekat. Namun kedua faktor tersebut tidak bisa membuat saya menyembunyikan emosi saya dari rasa lelah dan pegal karena energi yang sudah sangat menipis. 

Kami selesai Tawaf dan Sa’i kurang lebih pukul 1 dini hari. Kaki saya mau copot rasanya. Pegel luar biasa. Saya menjadi anak yang sangat cranky dan melemparkan attitude tidak ramah kepada sekitar terutama pada orang tua saya, yang saya yakini membuat orang tua saya malu punya anak se-nyebelin itu. Kami baru tidur sekitar jam 2 dini hari, sehingga adzan subuh pun tidak terdengar dan kami sekeluarga kesiangan, padahal di dalam kamar ada speaker yang tersambung ke sound system Masjidil Haram sehingga adzan dan shalat berjamaah yang sedang berlangsung, bisa terdengar. Emang kayaknya kami aja yang agak kebo’ sih tidurnya.
*ditabok*

Tawaf dan Sa’i kedua di 2 hari setelah Tawaf dan Sa’i pertama saya jalani dengan less cranky karena sudah cukup tidur dan belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak mau membuat orang tua saya malu. Walaupun pegelnya masih nggak masuk akal, saya sampai berpikir, mungkin ini cara Tuhan kasih tau saya bahwa I’m not good enough for this. Hahaha.
*ketawa pasrah nahan nangis*

Hari-hari di Mekkah yang seharusnya lebih menyenangkan karena saya bisa merasa lebih dekat dan ‘intim’ dengan Tuhan, justru lebih berat rasanya. Karena Mekkah ini lebih padat, lebih ‘berantakan’ karena lebih banyak jenis manusia yang datang ke situ, dan suhunya tidak sesejuk Madinah, yang tentunya lebih mudah membuat saya cranky karena rame banget boooosssshhhh nggak shanggup eke. Banyak orang-orang nggak tau aturan yang main selak antrian, untuk datang dan shalat di spot yang nyaman dan beralaskan karpet pun lebih kecil kemungkinannya. Mau minum air zamzam juga ngantri banget dan berdesakan, intinya sih ya Mekkah untuk saya, tidak senyaman Madinah. Saya mulai malas datang ke masjid dan lebih memilih untuk shalat di hotel saja yang pastinya lebih sejuk dan tenang. Sempat istighfar, namun tetep aja kalo nggak bareng sama Ibu saya, saya ogah jalan sendiri ke mesjid. 

Tiba pada akhirnya di hari terakhir, hari kepulangan ke Jakarta. Namun sebelum pulang, ustadz pembimbing kami meminta kami berkumpul jam 02.30 DINI HARI lalu melakukan Tawaf Wada yang merupakan gestur ‘pamitan’ kepada Tuhan karena kami akan meninggalkan tanah suciNya. Saya sudah pasrah dan honestly, mulai mempertanyakan kenapa Tuhan menetapkan cara begini banget sih buat komunikasi. Saya menjalani tawaf dengan biasa saja, tidak ada perasaan sedih ataupun haru lagi, karena tujuan saya hanya satu: TIDUR DI PESAWAT MENUJU PULANG.
Ustadz pembimbing memberi kami 2 pilihan untuk dilakukan jika sudah selesai Tawaf: Menunggu sekitar 2 jam menuju subuh namun bisa shalat subuh sambil memandangi Ka’bah, atau balik ke hotel, tidur, dan sholat subuh di hotel saja karena kalau sudah ‘pamit’ dengan melakukan Tawaf Wada, kami tidak diperbolehkan untuk mendatangi Masjidil Haram lagi. Oh tentu saja tekad saya sudah mantap untuk BALIK KE HOTEL DAN TIDUR LAGI. Karena capek dan ngantuknya ya Tuhaaaaan!

Kami selesai Tawaf Wada, saya shalat sunnah Tawaf 2 rakaat, seperti seharusnya. Ngantuk dan capek jadi satu. Maka kalimat pertama yang saya ucapkan setelah mengucap salam di tahiyatul terakhir adalah:
“Ya Allah, capek.....”
Yang tadinya maksud saya adalah saya ‘capek’ karena tawaf ini, namun mendadak seluruh memori buruk yang saya alami, dimuntahkan semua oleh Hippocampus otak saya, seolah-olah dia bilang,”Capek? Nih semua memori nggak enak yang bikin capek NIHHHH SEKALIAN NIHHHH!” 
...
Saya menangis luar biasa, dalam diam. Setengah mati menahan isak, karena Ibu saya berjarak tidak jauh dari saya jadi kalo beliau nengok dikit, beliau bisa liat anak perempuannya lagi cirambay berlinangan air mata dan ingus. Mana gak bawa tissue, jadinya meper ingus di ujung lengan baju, kadang kerudung yang saya pakai, yang memang agak panjang. 

Kalimat singkat yang terdiri dari tiga kata namun satu inti tersebut membuat saya berubah pikiran: saya akan tetap berada di sini. Nunggu 2 jam nggak masalah, yang penting bisa berlama-lama memandangi Ka’bah. 

Saya menghabiskan waktu menunggu subuh dengan banyak hal: main game, dzikir, main game sambil dzikir, apapun yang membuat saya tidak ketiduran dan kehilangan wudhu (karena kalau tidur yang sampai hilang sadar, katanya wudhu dianggap batal. Sementara tempat wudhunya ada di luar mesjid yang kalo saya keluar lalu balik lagi, belom tentu nemu spot di depan Ka’bah lagi).

Ketika saya main game, ada 1 ibu-ibu Arab yang berdiri di sebelah saya, membaca Al Qur’an. Ada kali tuh 15 menit dia berdiri. Saya agak heran juga ngapain dia baca Al Qur’an sambil berdiri padahal mah enakan duduk kan ya. Namun dengan banyaknya pengalaman liat kelakuan orang-orang yang ‘unik’ di Masjidil Haram ini, saya memutuskan untuk nggak mikirin kira-kira apa alasannya baca Al Qur’an sambil berdiri begitu, karena toh suaranya enak juga, lalu saya kembali ke game yang sedang saya mainkan dengan backsound suara Ibu tersebut baca Al Qur’an. Lumayan juga nih, perasaan jadi adem. 
Saya main game.
Ibu itu masih baca Al Qur’an sambil berdiri.
Saya masih main game.
Kemudian ibu itu meletakkan Al Qur’an yang tadinya dia baca, ke paha saya. 
HAH HAH APA-APAAN INI SEMBARANGAN BANGET WOY KAGET GUAAAAAH!
Saya nengok ke arah ibu itu, dan dia sedang dalam posisi Rukuk.
HAH HAH TERNYATA DARI TADI DIA BACA AL QUR’AN SAMBIL BERDIRI ITU......DIA SHOLAT????
Saya kaget. Yaiyalah kaget, masa huruf udah segede gitu tanda tanya sebanyak itu masih kurang menunjukkan ekspresi kaget?
Ibu itu masih sholat. Yaiyalah menurut ngana?
*digampar kursi lipet*
Kemudian ibu itu sujud. Lama sekali. Ada kali 5 menit. Asli. 
Di sujudnya, dia berbicara dalam bahasa Arab. Saya tidak tau artinya, namun saya bisa merasakan kelirihannya. Dia terdengar pasrah, dan benar-benar berserah. Saya mulai nyuekin game yang lagi saya mainin, dan fokus mendengarkan si Ibu.
Dia bangun dari kedua sujudnya, saya ngasih Al Qur’an-nya ke dia, supaya dia bisa baca lagi di dalam sholatnya. 
Durasi baca Al Qur’an sambil berdiri masih sama dari sebelumnya. Namun kali ini bye-bye Matchington Mansion. Saya mendengarkan si Ibu baca Al Qur’an. Jika rakaat pertama saya menganggap suara dia membaca Al Qur’an menyejukkan, di rakaat kedua ini, saya mendengar intonasi yang lebih sendu namun tetap kuat.

Air mata saya mulai berkumpul di sudut mata, seolah-olah mereka mau konvoi turun ke pipi saya, barengan sama ingus.
Dan benar, saya menangis, hanya karena mendengar bacaan Al Qur’an yang saya nggak tau itu surat yang mana ayat berapa artinya apa.
Si Ibu rukuk dan kembali memberikan Al Qur’an-nya kepada saya. Berbeda dengan rakaat pertama yang mana saya hanya meletakkan Al Qur’an di paha saya lalu saya lanjut main game, kali ini saya peluk Al Qur’an-nya, saya jaga baik-baik. Si Ibu sujud, suaranya makin lirih, saya makin nangis. Padahal ngerti dia doa ape juga kagak. Saya ngeliatin dia sujud, berdoa sungguh-sungguh, nadanya pasrah, seolah-olah dia benar-benar menyerahkan kehidupan nasibnya kepada Tuhan. Saya serasa ditampar melihat kejadian ini. Di sebelah saya ada yang benar-benar mempercayakan kehidupannya ke Tuhan, sementara saya masih mempertanyakan beberapa hal sepele yang berhubungan dengan agama ini. 

Si Ibu selesai sholat, saya kembalikan Al Qur’an-nya ke dia. Dia tersenyum dan mengucapkan,”Syukron”. Matanya berkaca-kaca, dia mengusap Al Qur’an-nya dan mengusap wajah saya sambil berbicara dengan bahasa Arab, yang walaupun saya tidak mengerti artinya, saya yakin dia mendoakan saya. Saya makin menangis, dia mengusap pipi saya, memandang saya sungguh sungguh dan berbicara dengan bahasa Arab yang lagi-lagi walaupun saya tidak mengerti artinya, namun saya merasakan ada energi yang menguatkan saya untuk menjauhkan diri dari keputus asaan. 

Adzan subuh berkumandang, kami pun mengikuti shalat berjamaah. Saya memang merasa istimewa ketika bisa shalat sambil memandangi Ka’bah, namun shalat kali itu benar-benar berbeda rasanya. Lebih istimewa dan ‘mewah’, karena saya mendapatkan pengalaman dengan si ibu ini. Saya menangis tidak berhenti dari mulai rakaat pertama. Saya merasakan kepasrahan yang mengalir deras dari air mata saya, merasakan bahwa sebagaimanapun saya melawan, saya hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan energi. Dan hanya dengan berserah diri lah saya mendapatkan dorongan energi baru untuk terus berjuang dan melawan diri sendiri dari keputusasaan.

Shalat subuh berakhir, Ibu saya menghampiri saya dan mengajak saya pulang ke hotel untuk siap-siap check out. Saya merapikan barang-barang saya yang honestly, prosesnya saya lama-lamain supaya Ibu saya jalan duluan. Dan benar, beliau jalan duluan. Saya berdiri untuk berjalan menyusul ibu saya, namun ada perasaan yang mengganjal. Lalu saya menghampiri si ibu tadi, dan menggenggam tangannya.
“Thank you so much”
Hanya kalimat itu yang bisa saya ucapkan di dalam tangis saya kepadanya. Dia juga ikut menangis, mengusap punggung tangan saya, dan tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya sambil berbicara bahasa Arab, yang saya yakini sebagai sarannya kepada saya untuk terus berdoa. Saya hanya bisa mengangguk sambil menangis, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan dia karena saya harus menyusul Ibu saya yang kalau jalan udah kayak pake sepatu roda saking cepetnya.

Saya kembali ke hotel, packing, dan lalu bergegas check out bersama keluarga saya. Di jalan saya terus memikirkan si Ibu itu, dia gimana sekarang, masalah apa yang sebenarnya lagi dia alami, apakah doa-doanya sudah terjawab, namun kemudian saya sadar bahwa yang penting bukanlah doa yang terjawab atau tidak, melainkan kerendahan hati kita sebagai manusia untuk selalu berserah diri karena tidak ada ketenangan hati yang lebih murni dari keyakinan akan doa sebagai fondasi utama dari segala sesuatu yang sedang kita usahakan atau lakukan.

Saya datang ke Mekkah dengan perasaan sombong sebagai manusia, dan saya meninggalkan Mekkah dengan perasaan haru, di mana Tuhan menyadarkan saya dengan mempertemukan saya dengan Ibu-ibu random yang baca Al Qur’an sambil berdiri namun dia menjadi sosok yang sangat hebat di mata saya, dengan keimanannya.
Terima kasih, Tuhan. Saya tidak akan melupakan pengalaman berharga ini sebagai pengingat saya bahwa do’a adalah sumber energi terbaik yang pernah ada. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. 

11 October 2017

Dua Puluh Tujuh

7 September 2017.

Hari di mana usia saya memasuki tahun ke dua puluh tujuh.
Semakin banyak hari yang dilewati, semakin banyak hal baru yang dipelajari, dalam kata lain: saya makin tua.
Namun tidak cukup tua untuk tidak bersyukur.
Apa yang saya hadapi selama ini, saya serap baiknya, saya buang buruknya.
Karena saya tidak tahu hidup saya akan sesingkat apa. 
Karena saya tidak tahu apakah saya akan mencapai titik kebahagiaan sejauh apa selama menjalani hidup saya. 

Saya menerima banyak ucapan yang diiringi senyuman, doa, sukacita bahkan kejutan-kejutan manis dari orang-orang terkasih. Dari mereka yang menyempatkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengejutkan saya dengan kue yang ditancapkan lilin dan dengan riangnya menyanyikan "Happy birthday", dia yang menelpon interlokal dari ranah Sumatera di tengah-tengah waktu liburannya, dan tentu saja, mereka yang dengan tulus mendoakan saya dari berbagai macam bentuk media. 

Saya merasa sangat istimewa dan tentunya bahagia. Dua puluh tujuh tahun sudah saya menjalani kehidupan sehari-hari. Jatuh-bangun, asam-garam, suka-duka, tawa paling bahagia juga tangis paling sendu pernah saya alami, dan tentu saja, saya syukuri.
Rasa syukur. Gratitude.
Itulah satu hal yang saya minta sama Tuhan sebagai kado ulang tahun saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang lebih bersyukur. Saya menjalani hari-hari saya dengan fisik yang sehat, sanctuary berupa orang tua dan adik laki-laki yang tak hentinya menghujani saya dengan kasih sayang dan doa, juga orang-orang yang mengelilingi saya dengan kebaikan hati dan ragam karakternya, yang tentu saja membuat saya belajar hal baru tiap harinya, dan membuat saya merasa membutuhkan rasa syukur yang lebih banyak lagi, dan lagi.

Saya sadar bahwa rangkaian kata yang diuntai sedemikian rupa diuntai menjadi ucapan terima kasih tak akan cukup untuk menggambarkan betapa tentramnya hati saya memiliki support system sekuat dan se-membahagiakan ini. Namun saya tetap melahirkan tulisan ini, untuk sedikit berdoa:
Semoga mereka yang membuat saya bahagia, lebih berbahagia lagi. 
Semoga doa-doa baik yang dipanjatkan ke saya, berkali-kali lipat dikembalikan kebaikannya kepada mereka yang mendoakan saya, oleh Tuhan.
Semoga mereka yang tulus ikhlas hadir di kehidupan saya, diberi cinta kasih yang meluap tak terbendung.
Aamin ya rabbal'alamin.

28 July 2017

A letter to an old friend

Hello, old friend.
It's been a long time.
Did you miss me? Because I missed you, so much.
I'm sorry I haven't talked to you in ages. It's because my head's been filled with things, and responsibilities.
I know it's not supposed to be an excuse, because you're always here, waiting for me to have a moment with you, just like our old days.

Old friend,
I'm no longer a girl you used to know.
I'm, obviously, older.
But I don't know whether age makes me wiser or not.

I'm still fighting, like you see.
For everyone's sake: the people I love, those who I care about.
The number's not as big as those days when you first met me, but the value is much meaningful.
Because I don't have time to think about things I'm not supposed to consider.

Old friend,
There are so many things I wanted to tell you.
But it's not like the old days that I could tell you rightaway,
I become more.....cautious.
And worried, sometimes.
That's why I kept the words in my head. Only in my head.

I'm happier now.
Of course I had my hard days, but as you always know, I'm stubborn enough to fight.
Are you proud of me? Because that's what I always been worrying about: whether I make the people I love proud of me or not.
I cried a bit on my hard days, but I know I always have the smile of a mother, the courage of a father, and the bravery of a brother that will always put me in their warmth.
You know how much I love them, old friend.
You know I'll fight for their happiness, no matter what.
That's what always put me into a whole person, over and over again.
No matter how exhausted and broken I am.

Old friend,
thank you for being a good company after all this time.
The warmth of your embrace and the peaceful silence of yours never fails to amaze me.
I'm sorry for being too busy, but it's always nice having you around.
And I know that I'll always have you,
until my last breath takes me to another place.
Thank you, Night.
You're so special to me.

Your (not so) Favorite Night Owl,
Anita

***

Just in case you people read this and wondering who am I writing to, you're not reading it wrong. It really is for the night. Yes, night time, the time when people are supposed to sleep, when the stars and moon are hanging beautifully up there. I know I'm weird, feel free to judge me however you want, but at least I'm being honest.

07 May 2017

I am not okay.
I've been exhausted.
Restless.
And hurt.

I was in my happiest days.
I thought I lived a proper life: 
Work, family, friends, and of course you.
Until that Sunday night, 
Everything I've been building, destroyed by only a single phone call. 

How dare you.
Coming into my life, to my monochrome world, 
bringing lights and colours,
then taking it all out so suddenly,
leaving me in darkness, sorrow, and despair?

I've been faithful to you,
and you left me broken into pieces.
What did I do to you, to deserve this?

I don't know who to trust anymore.
Not even myself.
Now I won't listen to Feist's "Now At Last" as the same beautiful song anymore. 

26 February 2017

First time

The first time I saw you.
I caught that pair of eyes,
which is yours,
staring at mine.

First time I saw you.
You were sitting there,
at the corner of the bar,
with your bottle of beer

First time I saw you.
I said hello,
You hello-ed me back,
And there goes the conversation,
On and on.

The first time I saw you.
I knew I wouldn't waste my first precious 5 minutes for judegement,
because, man, you're absolutely worth it.

Thanks for filling the space this whole time.

Intuisi

Saya baru bertemu seorang teman baik sore ini. Sebut saja dia Ms. Theressa.
Kami duduk berhadapan, dengan cangkir kopi masing-masing dan sebuah asbak yang setengah terisi. 
Kami bercerita tentang current issue yang sedang kami alami sekarang-sekarang ini. Dia memulai sesi dengan sebuah cerita yang agak membuat pupil mata saya memperbesar ukurannya dan rahang saya agak terbuka dengan sendirinya. Saya tidak menyangka dia akan mengalami hal sebegitu menyakitkannya. Dia bercerita sambil tertawa getir, dan saya menangis di hadapannya. Tidak membantu, memang. Namun tidak ada airmata yang jatuh dari sepasang mata indahnya. "Udah lewat nangisnya", kata dia. Saya menghapus airmata saya dan menceritakan apa yang akhir-akhir ini menambah kisah di dalam hidup saya. Tidak banyak, memang. Hanya seputar pekerjaan dan keluarga. Namun, untuk kedua kalinya, saya menangis di hadapan dia. Cengeng emang si Anita. Dengerin cerita orang nangis, menceritakan cerita sendiri ke orang pun nangis. Saya tadinya mau menyalahkan hujan yang turun dan menghadirkan mood gloomy, tapi saya malu sama isi dompet yang lebih membuat gloomy daripada hujan. Jadi, ya saya diam saja.

Kemudian saya dan Ms. Theressa melanjutkan percakapan. Topik yang kami bicarakan lebih ringan dan cenderung tolol, sebenarnya. Kami banyak menghabiskan waktu untuk tertawa-tawa bodoh diiringi hujan dan suara knalpot Kopaja. Apapun bisa jadi bahan tertawaan kami: dari gosip terkini hingga ukuran sepatu. I spent a great time with her. Hingga akhirnya saya menulis postingan ini, saya masih bisa nyengir mengingat berbagai jenis kebodohan yang kami lakukan tadi sore. Saya rasa orang tidak akan mengira jika dua perempuan di pojokan tersebut mengalami kejadian yang menguras tenaga dan pikiran di minggu sebelumnya. 

Saya dan Ms. Theressa memiliki benang merah yang kurang lebih sama dalam kehidupan kami: Kerap dihantam intuisi. 

pic source


08 September 2016

7 September

Seharian ini, saya dihujani.
Bukan hujan air, bukan hujan batu, apalagi hujan uang.
Namun hari ini saya dihujani doa.
Doa baik dari orang-orang baik.

Saya tidak menyangka bahwa masih ada yang peduli sama saya. Sayang sama saya, mau meluangkan waktu, tenaga dan kuota mereka untuk mendoakan bahkan memeluk saya dengan hangat. Dari pagi hari awal saya membuka mata, hingga ketika blogpost ini saya publish, saya masih membaca kalimat-kalimat baik yang dirangkai dengan indah menjadi doa yang saya amini sepenuh hati dari mereka yang menyayangi saya.

Saya tidak dapat berbuat apa-apa selain berterima kasih, dan kembali mendoakan mereka sekuat mampu saya. Saya memang bukan orang yang religius. Kualitas ibadah saya patut ditertawakan oleh mereka yang lebih taat. Tapi saya percaya kebaikan. Saya percaya doa. Saya tau, meskipun saya memenuhi kriteria untuk dijebloskan ke lubang neraka saat ini juga, saya tau Tuhan masih memperbolehkan saya berdoa.
Untuk mendoakan mereka yang mendoakan saya.
Mendoakan mereka yang baik sama saya.
Mendoakan mereka yang peduli akan keadaan saya.

Saya melewati 2 kali pergantian usia di tahun-tahun sebelumnya dengan isak tangis sendu.
Namun hari ini, rangkaian doa dan kebaikan yang saya terima dapat saya gubah menjadi alunan melodi yang merdu.
Untuk mengiringi langkah saya di usia yang baru,
kemanapun saya menuju.

 Let's do better this time, shall we, self?

01 July 2016

13

Sekotak memori penuh terisi.
Ratusan hari,
ribuan jam,
jutaan menit,
milyaran detik.

Sekotak memori penuh terisi.
Baik dan buruk,
hitam juga putih,
tawa bahagia serta tangis sendu,
diselipi luapan rindu kala jarak memisahkan untuk sementara waktu.

Sekotak memori penuh terisi.
Seperti tumpukan benang yang menunggu untuk ditenun hingga menjadi kain.
Merapuh seiring berjalannya waktu,
dilapisi debu.

Peluk hangat menjadi penanda,
bahwa apa yang pernah ada,
memang harus binasa.

Saya memang bukan ahli puisi.
Tapi saya sedikit tau cara merangkai kata untuk meluapkan isi kepala ini.
Yang entah kenapa,
hanya berisi kamu,
sejak tadi pagi.

Sekotak memori penuh terisi.
Tidak mati.
Penuh arti.
Tersimpan rapat terkunci.
Di satu sudut hati.
Sejak empat Januari.

03 April 2016

A (future) Letter

Sebelum saya memulai postingan ini, ada baiknya saya memberi sepatah-dua patah kata sebagai pembuka. 
EHAAAAAI TILCIKERS DAN TILCIKERSWATI YANG TERKASIH TERSAYANG TERMEHEK-MEHEK BAGI YANG JOMBLO~
*digebuki*
Jadi, masih dalam rangka tulisan rutin tiap hari Minggu pukul 21.00, saya (alhamdulillahnya) masih konsisten menulis di dalam tag '9 PM' ini. Berunding untuk topik "What to write next?", saya yang emang gak bisa mikir berat-berat dan partner menulis saya yang tulisannya hanya menjadi konsumsi pribadi saya karena dia sempat punya blog tapi sayangnya sekarang udah ga ada pun sempat bingung menentukan tulisan bertemakan apa lagi yang akan kami tulis. Kemudian saya mengingat-ingat, tulisan pertama bertemakan masa sekarang (ibarat kata tenses, it's a 'present tense'), tulisan kedua berisikan tentang masa lalu (past 'tense') dan tulisan ketiga berhubungan dengan masa sekarang (present 'tense') lagi. Kemudian saya bilang sama dia,"Gimana kalo tulisan berikutnya kita pake 'future tense'?" dan kemudian dia setuju, dan dia mengusulkan kalau tulisan selanjutnya yang akan saya post jam 9 malam di hari Minggu yang entah kenapa nggak hujan-hujan ini bertemakan tentang........
A Letter to Your Child.
*petir menggelegar*
*tukang fogging siap-siap*
*kenapa tiba-tiba ada tukang fogging?*
*lagi jamannya DBD, buat jaga-jaga aja*
*oh oke*
Saya sempat lumayan bingung memikirkan untuk menulis apa kalau saya harus menuliskan surat untuk anak saya kelak. Karena jangankan punya anak, menikah aja belom ada di bayangan saya dalam waktu dekat ini :)))
*dipelototin Mama*
*oke Ma saya akan menikah, doain aja ya, Ma*
Jadi, dengan segenap energi dan rasa kenyang yang melanda, let me write you a letter. A letter to my (future) child, to be exact.

27 March 2016

Sanctuary

pic source
Rumah. Kebanyakan orang menganggap bahwa rumah adalah tempat kita mengistirahatkan diri dari segala macam energi negatif yang berasal dari rasa lelah akan aktivitas sehari-hari; pekerjaan yang memberatkan, guru di sekolah yang mendadak mengadakan ulangan (eh masih 'ulangan' nggak sih bahasanya? Jaman saya sih masih. #MenolakTua). Saya juga sering tanpa sadar berpikir bahkan mengatakan,"Aku mau pulang ajaaaa ngumpet di ketek Mama" tiap kali saya mengalami hari yang tidak begitu menyenangkan. Emang, Anita anak cengeng dikit-dikit kepingin pulang. Tapi yang bisa saya simpulkan adalah, hingga saat ini, rumah dan keluarga adalah tujuan saya untuk pulang dan mencari nyaman.

Masing-masing dari kita memiliki definisi sendiri untuk rumah. Apapun itu, saya yakin tiap orang pasti tersenyum ketika membayangkan rumah; baik bersenda gurau dengan keluarga ataupun duduk-duduk selonjoran nonton TV pake piyama belel lalu kemudian ketiduran (kayak saya HAHAHA). Namun selain rumah, ada satu lagi tujuan kita untuk pulang. Tidak hanya untuk mencari nyaman, namun untuk membuat kedamaian yang kita tidak bisa ajak orang lain untuk ke sana. Hanya diri kita sendiri. Dan biasanya, tempat itu biasa disebut dengan Sanctuary

Sanctuary, atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan suaka menurut Google Translate. TOLONG JANGAN BAYANGKAN SAYA BERSEMEDI DI BAWAH AIR TERJUN NGGAK MAKAN NGGAK MINUM TUJUH HARI TUJUH MALAM. Karena jangankan tujuh hari tujuh malam, tujuh jam nggak makan aja asam lambung saya udah demo.
Oke, fokus, Anita.
*tenggak Aqua*
Tiap orang memiliki sanctuary atau 'tempat ngumpet' masing-masing. Kebanyakan menjawab bahwa hobi adalah sanctuary mereka, di mana mereka bisa mendapatkan inner peace dan kesenangan dengan diri sendiri ketika melakukan dan 'tenggelam' di dalamnya. Kalau kalian tanya sanctuary saya apa, tentu saja saya jawab kalau sanctuary saya adalah berkuda, setelah itu minum teh dan kukis Inggris yang tentu saja saya import......dari Indomaret Rawamangun.
*disepak kuda*

Nggak deng, sanctuary saya adalah hal sederhana yang kalian semua tau, yaitu menulis.

20 March 2016

Mistakes

Ehai! Selamat hari Minggu. Bagaimana hari Minggu kalian pada tanggal tanggung ini? Nggak kemana-mana karena bokek? HAHAHAHA KASIAN.

Sama dong sama saya.
*ditiban mesin ATM*

Masih ingat tulisan saya sebelumnya yang ini? Nah kali ini, masih dengan orang yang sama, saya 'janjian' lagi nulis dengan topik yang berbeda. Bukan, topiknya bukan Hidayat meskipun saya napsir berat sama dia apalagi kalo lagi tanding terus wajahnya teralirkan keringat, saya bawaannya mau lari-lari ke tengah lapangan bawa-bawa handuk Good Morning terus elap-elap keringatnya.
*dijejelin nett bulu tangkis ke lobang hidung*

Seperti postingan sebelumnya, saya kali ini akan menulis tentang suatu hal yang mana adalah yaitu:
Mistakes in life I wish I could change.

People make mistakes, they say. Di dalam hidup ini yang namanya kesalahan pasti ada aja muncul di waktu dan tempat kami persilakan yang pastinya tidak terduga. Namanya juga manusia, hidupnya bersosialisasi. Sama diri sendiri aja suka salah paham, apa lagi sama orang lain yang isi kepalanya nggak bisa kita paksakan?
*kibas poni*
*ke kanan dan ke kiri*
Apalagi orang yang ceroboh kayak saya, pasti ada aja kesalahannya. Entar terlambat, entar salah ngerti padahal udah dikasih instruksi, entar ini, entar itu. Tapi dari sekian banyak kesalahan yang sudah saya lakukan, saya mau menuliskan 2 kesalahan yang sedikit-banyak mengubah hidup saya, yang kalau saya pikirkan lagi hari ini, saya ingin menjadi ilmuwan dan menciptakan mesin waktu agar saya bisa kembali ke masa ketika saya melakukan kesalahan tersebut dan tidak melakukannya.

09 March 2016

Most Precious Thing(s) In Life

Ehai, para tilcikers dan tilcikerswati dari berbagai macam sudut dunia jagad raya ini. Pada bingung ya kenapa saya mendadak nulis lagi? Jawabannya mudah, karena saya pintar dan produktif dalam menulis.
*diselengkat blog statistic*
Maka apa yang membuat saya posting dua blog posts dalam dua hari berturut-turut? Memang inisiatifnya bukan dari jiwa dan skill menulis saya yang amatir, namun berawal dari percakapan via WhatsApp ini:


Maka kami pun sepakat untuk menulis tentang topik yang sudah disepakati sebelumnya: 
The most precious thing(s) in life. 

Saya sempat bingung (dan bahkan bengong) ketika topik itu muncul ke permukaan untuk sesuatu yang saya tuliskan. Spontan saya berbicara pada diri sendiri: “Apa ya?” pertanyaan itu pun terus berputar di otak saya yang kosong ini.
Bagi beberapa orang yang mengenal saya dengan baik, kehidupan saya akhir-akhir ini sungguhlah selow kalo kata anak jaman sekarang. Bangun tidur, siap-siap, pesan ojek online, pergi ngantor naik ojek, sampai di kantor ceritanya kerja, lalu pulang. Udah, gitu-gitu aja. Palingan kalo ada janji ngopi sama temen-temen saya aja saya baru keluar rumah. Sudahkah hidup saya terlihat cukup membosankan bagi kalian semua? Kalau sudah, sekarang saya akan menceritakan tentang betapa lebih membosankannya lagi hidup saya, and now let me tell you about the most precious thing(s) in my life, as mentioned above. 

07 March 2016

Remedi Indonesia Experience: First time, and having fun!

Pada suatu Selasa sore yang nggak tau mau ngapain, saya lagi di kantor dan scrolling-scrollling timeline Path saya, and I found this post:



05 January 2016

New Year, New Me. Not really.

Hai hai.
*sapu-sapu debu*
WAAAAAAAAWWWWW INI POSTINGAN PERTAMA TILCIK DI 2016.....DAN SETELAH SEKIAN LAMA!!
*putar-putar sapu ke segala arah*
*kelilipan kena debu*

Udah tahun baru, nih. Tilcikers di seluruh jagad raya. Gimana acara tahun baruan kalian? Wasted? DASAR PEMABUK KALIAN SEMUA!!
*digebukin*

Di hari ke-5 di 2016 ini, udah seberapa panjang daftar resolusi dan target-target kalian? Saya yakin banget nih gym laku keras, banyak yang daftar di awal tahun karena resolusinya pasti menjadi lebih kurus dan kekar di 2016. Woelah, itu resolusi apa mau daftar polisi?
*dipentung*
*pake paha ayam*
*yang crispy apa yang original, Kak?*
*yang crispy tapi masih original boleh? Yang idungnya belom dioperasi yang dagunya belom dilancipin*
*APA SIH ANITAH?!*


Speaking of resolusi tahun baru 2016, let me tell you one thing:
I have none.

18 August 2015

That peace



Saya akhirnya memutuskan untuk membuka diri, untuk kembali menulis lagi.

Tidak mudah bagi saya menjalani keseharian saya beberapa minggu ini, tanpa kamu.
Kekecewaan terhadapmu yang sempat menghantam kepala saya hingga membuat saya hancur berantakan, perlahan hilang dan sudah tidak muncul lagi ke permukaan.

Saya selalu bilang sama kamu berkali-kali, dan akan terus saya tanamkan di dalam pikiran saya sampai mati, saya tidak mau hidup dalam dendam. Tidak ada dendam sama sekali dalam hati saya terhadap semua yang sudah terjadi. Pun, saya bukan sosok suci yang tidak pernah melakukan kesalahan. Banyak sekali kebodohan yang saya lakukan dan melukai hati banyak orang.

Saya masih ingat percakapan terakhir kita. Every word of it. I still clearly remembered the way you look at me that night. Your eyes. Baby, you have no idea how much I love your eyes behind those glasses. Your voice, the one which always greeted me good mornings and whispered me good nights. Your hands, the ones that used to caress my hair in a lovely way I can't even describe. Everything. You were my everything, Boo..

Namun pada akhirnya saya harus menjalani hari ini, hari ke-sekian belas tanpa kamu. Walaupun berat, tapi saya sangat bersyukur bisa pernah menjalani keseharian saya denganmu. Good and bad, laughter and tears, happy smiles and grumpy faces. Banyak hal sudah kita jalani, kita lewati. Our date places, the theaters, the coffee shops. Our songs, oh kamu sekarang sudah terbebas dari polusi suara berupa nyanyian sember saya setiap kali lagu kita diputar di radio, ya. Hehehe. Oh, all those good memories you gave me that I'll never forget.

Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Terima kasih untuk semua kebaikan dan kasih sayang yang pernah kamu berikan. Terima kasih untuk semua support kamu untuk hal-hal positif dalam hidup saya. Terima kasih sudah menjadi pasangan, sahabat, sekaligus partner debat saya. Terima kasih sudah mengajari saya banyak hal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Terima kasih sudah membuka mata saya bahwa berita nasional juga penting untuk ditonton, bukan cuma infotainment atau TV Series saja, hehehe. Terima kasih sudah being really considerable sama sahabat-sahabat saya. Dan yang paling penting, terima kasih sudah sayang sama Mama Papa..

And I need you to know, bahwa namamu tetap saya sebut di setiap sujud saya. Agar kamu menjalani hidupmu dengan lebih baik, tanpa kehadiran saya di sela-sela waktumu. Tuhan pasti dengar, saya yakin Dia akan kabulkan doa saya dengan caraNya sendiri.

Dan seperti picture yang saya upload di atas, saya sudah memaafkan.
Memaafkan diri saya sendiri dan tidak membiarkan kesedihan, kemarahan, ataupun kekecewaan menggerogoti hati saya.
Iya, saya sudah berdamai.
Dengan diri saya sendiri.
And now I'm ready,
to let go.



The girl,
A.


---
P.S: I've always been very proud of you. Tuhan tau seberapa besar rasa sayang saya kepadamu, hingga hari ini.

11 July 2015

A nonsense crap about friendship

Ehaaai PaPemTil a.k.a Para Pembaca Tilcik yang budiman dan budiwati, baik yang di rumah maupun di studio, baik di studio rekaman maupun studio foto, baik fotosintesis maupun fotokopi, baik kopi hitam maupun kopi.....okay I'll stop.
*berdehem penuh wibawa*
Bulan Ramadhan sudah memasuki hari ke-sekian. Gimana pemirsa puasanya? Lancar? Udah bolong berapa? Alhamdulillah belom ada yang batal.. Apa? Yang di pojok belakang udah batal 5? Ooh karena datang bulan....WAIT, TAPI KAN KAMU LAKI-LAKI? Mungkin kamu lagi halu. Baiklah.

Makin deket sama Lebaran, entah kenapa jalanan Jakarta pas jam pulang kantor makin macet ya, Saya biasanya kalo pulang kantor jam 5, jam setengah 7 udah di rumah goler-goler manis sambil makan risol sisaan takjil mamak saya sambil nonton serial. Lha sekarang jam setengah 8 ajun baru assalamualaikum menginjakkan kaki di rumah. Eh ini jam pulang kantornya jam 7 malam ya, bukan pagi. Hangsip kali ah gue pulang shift malem jam 7 pagi.

Bulan Ramadhan identik dengan satu tradisi yang dari jaman saya nonton Doraemon sampe sekarang.....tetep nonton Doraemon. #AnitaAnaknyaSulitMoveOnDariMasaKecil
Tradisi itu tak lain dan tak bukan adalah.....bukber. Alias buka bareng. Buka puasa, bukan buka toko ataupun buka mulut. Baik mulut kawah ataupun mulut goa. Baik goa..............IYA IYA SAYA MINTA MAAF UDAH ABIS INI NGGAK AKAN DIULANGI LAGI.
Sampe mana saya tadi? Oh iya bukber. Tradisi bukber ini sungguhlah happening dari dulu sampai sekarang. Kenapa eh kenapa? Karena.............mempertemukan teman dari berbagai lapisan pertemanan.
Setahun sekali.
Pas bukber itu doang.

02 July 2015

Apology

Dear E.W,
Saya tahu saya sudah mengacaukan semuanya,
saya tahu apa yang saya lakukan memiliki efek yang sangat buruk untuk kamu,
saya tahu apa yang saya ucapkan, saya sampaikan, membuat hati kamu terluka.

Saya terjebak dalam pemikiran saya sendiri. Saya bahkan tidak tahu apa yang sekarang sedang saya pikirkan, I lost myself, and I have no idea who I am right now. Yes, I'm a lying, cheating, hypocrite bitch. Tapi saya tidak tahu bahwa efeknya akan sedalam ini..

Talking to you this morning was the last thing I could do. My heart was torn apart to hear you crying. I feel like I was the worst person in the world I can't even remember when was the last time I do a good thing. Please don't cry..

Saya tidak tahu bagaimana caranya agar kamu memaafkan saya. Saya bahkan tidak berharap kamu memaafkan saya, karena saya tahu yang saya lakukan selalu menyakiti hati kamu. Tidak hanya untuk kekacauan pagi ini, tapi seluruh kesalahan saya terhadap kamu.

And please know, kamu tidak akan kehilangan apapun atau siapapun, kecuali saya orang yang selalu membuat kekacauan.

Bahkan pada faktanya kita tidak terlalu mengenal satu sama lain, but it feels like I have lost a very good friend. You are the most wonderful person I've ever known, and I'm the fucking worst person you've ever known for doing such horrible thing to you..

Thank you for talking to me. Thank you for always being nice to me, thank you for understanding me, thank you to have forgiven me for my past mistakes. Thank you for being a very amazing person. I don't know what else to say. I'm out of words. I don't even know what I have inside my head. I'm a brain-less, heart-less, care-less and the most selfish bitch in the world. Menulis postingan ini adalah satu-satunya cara saya menyampaikan how sorry I am to you, because I know you read this..

Once again, for what it's worth, I'm sorry.. Please keep in mind that you're the strongest person I've ever known to keep putting your feet on the ground..

01 June 2015

About being a Secretary

pic source
Hari Senin saya dimulai dengan quote ini. Ya nggak pas bangun tidur ngeliat quote, sih. Bangun tidur saya yoga dulu 30 menit lalu dilanjutkan dengan minum infused water... Oh tentu saja saya bohong. Boro-boro yoga, muter pinggang dikit aja saya salah urat.
*pembaca pun mulai berbisik,"Anita emang udah renta.."*

Do what you love, love what you do.

Saya suka sekali dengan kalimat ini. Because it's related to me, so much.

29 April 2015

Back on track

Prologue
Orang-orang terdekat saya pasti mengetahui how much I love writing. Bagi saya, menulis bukanlah sekedar hobi ataupun pekerjaan. It's a part of me. Saya memulai kecintaan saya terhadap menulis sedari kecil. Saya ingat ketika saya berusia 4 tahun, Mama mengajari saya cara menulis, dimulai dari huruf vokal. A, I, U, E kemudian O yang lalu dilanjut oleh huruf konsonan. God, I clearly remembered that I HATE IT SO MUCH. Saya sempat marah dan membanting pensil saya, namun berkat kesabaran beliau, saya akhirnya lulus pelajaran tulis menulis.  Memasuki SD, pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran favorit saya, dan Matematika pastinya menjadi mata pelajaran yang bawaannya pingin saya musnahkan. Saya merasa selalu bersemangat tiap kali saya belajar Bahasa Indonesia, kenapa? Karena ada sub-bab 'mengarang', di mana saya bisa membawa imajinasi saya berjalan-jalan dan merangkainya ke dalam kumpulan paragraf pada satu cerita. Apalagi kalau habis liburan sekolah, ketika saya masih SD guru saya pasti meminta murid-muridnya untuk menulis pengalamannya pada liburan kemarin. Saya selalu sangat bersemangat tiap kali mengerjakan tugas itu dan meskipun saya tidak selalu mendapat nilai terbaik di kelas, saya sangat menikmati setiap aliran kata yang mengalir dari kepala saya ke atas kertas.