31 July 2012

Love Song, an intermezzo



I know, this isn't the original version of this song, but by the way 311 covers the song, I constantly fall in love with the way they pack the song and bring the ambience that comes so, so soft and....lovely :)

I miss us that listening to this song together, laying in bed and giggled of the awkwardness because you listened to the song for the very first time.
You listened to this song once, then twice, then repeated it over and over again,
then you hugged me,
tightly.
Then you smiled, indeed you showed your signature silly smile. Silly :p

Sometimes I wonder, with everything that we're facing now, will we survive?
Then I would listen to this song,
and suddenly the faith comes back to the surface.
That we are,
going to be alright..

However far away, I will always love you.
However long I stay, I will always love you.
Whatever words I say, I will always love you.
I will always love you..
:)

Noran Bakrie x Let's Adopt

So am gonna write something that is quite serious here. Wait, not that serious, actually, but, well....
WHATEVS. HERE WE GO.

A friend of mine, a grrrreat one, Noran Bakrie but I call her Momo as my friend Gogo calls her so, yea I know, too much information here :p, Momo would like to donate some of her photographs (she's an INCREDIBLY GREAT photographer, FYI) to be sold. Here I give you some to take a look at her masterpiece(s):
 I'm really proud of Momo,
because she's talented, and she uses her talent to help others. Isn't it lovely? :)

If you  wonder what kind of thing is this, let me tell you now.
Those photographs you've seen above called as The "Noran Bakrie x Let's Adopt" Series, a donating program which will be donated to Let's Adopt Indonesia. This foundation is the one that rescues abandoned pets and let people adopt them. Isn't it a great thing to do? So why do you waste your time by ONLY  reading this post? Go move and donate, because you will save and get these lovelies their prettiest smile!


 
Stevie
 
Quincy

Coco - My fave!


Jemima
You sure you still don't wanna spend few of your money to help them? Go and donate for a better life and future! Also, would please help us spread the news by posting this donation to your blog so that more people will be concerned? The more the merrier! Yay yay! Happy day, folks! :D

29 July 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #7: Susi

Kepada yang tersayang, Mas Djatmiko..

Aku tidak tahu apa kamu sudah menerima suratku atau belum atau malah bahkan sudah membalasnya dan aku tidak tahu. Itu karena sampai saat ini aku masih di Jakarta, Mas. Aku menulis surat ini dengan diam-diam dan sekarang sudah jam 3 pagi di sini. Keadaan Papi semakin memburuk. Kami sudah mulai kehabisan biaya, hutang sudah di mana-mana. Tapi ada satu hal lagi yang lebih buruk dari itu:
Papi meminta aku menerima lamaran Soetopo, bajingan tengik anak Pak Eman sang Walikota yang memang sudah lama menaruh hati padaku.

Papi minta aku untuk menerima pinangannya karena keluarganya bisa membantu biaya berobat Papi. Aku sungguh tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku mencintai Papi dan aku akan berbuat apa saja agar Papi kembali sehat dan bahagia, tapi di sisi lain aku mencintai kamu dan aku ingin memperjuangkanmu sekeras mungkin. Air mataku sudah habis memikirkan semua ini setiap malam, Mas. Tentang kamu dan masa depan seperti apa yang akan kita hadapi, juga tentang keadaan Papi dan bagaimana cara keluar dari semua masalah ini. Ingin rasanya aku berteriak, namun menurutku itu terlalu kekanakan dan tidak akan menyelesaikan masalah.

Tadi pagi Soetopo mengajakku pergi makan malam hari Sabtu nanti, Papi memintaku untuk menerima ajakannya namun aku merasa ada yang aneh dan sesuatu yang tidak baik akan terjadi padaku.

Mas Djatmiko,
cepat pulang, Mas.. Aku mulai takut..

Susi Marina Dewi







---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini

28 July 2012

#CerpenPeterpan: Di Belakangku

Malam terasa sunyi, di kamar kost busuk ini ada aku dan kamu, saling menatap dingin satu sama lain.
"Siapa laki-laki itu?" Aku sudah tidak bisa memendam lagi. Ingatan tentangmu yang sedang dipeluk mesra oleh laki-laki itu sungguhlah menyakitkan.
"Bukan siapa-siapa" Kamu memang pintar akting dengan cara menjawabmu yang tetap tenang itu.
"Lalu mengapa dia merangkulmu mesra seperti itu? Kalian saling menatap dan tertawa. Itu yang kamu sebut 'Bukan siapa-siapa'? Aku juga sering merangkulmu. Apa aku juga bukan siapa-siapamu?
"Beda dong, Sayang.. Kamu kan tunanganku, dia teman kerjaku. Kamu paham, dong. Nggak usah kolot, ah." kamu sekarang tersenyum manis. Senyum beracun.
"Erlangga, sayangku, dengar aku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia. Dia hanya sedikit mabuk dan aku membantunya berjalan. Dia orangnya juga suka bercanda makanya aku tertawa-tawa karena dia kalau lagi mabuk suka aneh sekali.. Jangan marah ya, sayang, ya.." kamu mulai mengusap pipiku dan memelukku. Wangi parfummu yang khas menyeruak indera penciumanku dan meluluhkan hatiku. Kamu jalang, tapi aku mencintaimu, Mariska..

"Kau peluk aku sebelum membunuhku
Tersenyum melihatku merenung melihatmu.."

---

"Kamu sudah makan?" Kamu menghampiriku di taman biasa tempat aku menikmati sore.
"Sudah. Kamu dari mana saja?"
"Hmmm. Kantor sebentar tadi."
"Hari Minggu seperti ini?"
"Iya, kan sebentar lagi kantorku ulang tahun, sayang.. I have to work harder to make this happen. For the sake of my career, baby.." Kamu mendaratkan ciuman manis di pipiku. Harum parfummu kembali menyeruak ke dalam indera penciumanku. Tunggu, ini bukan wangimu.
"Kamu ganti parfum?" aku memalingkan perhatianku dari awan berbentuk pohon yang sedari tadi aku perhatikan. Entah kenapa matamu sempat sedikit terbelalak sebelum menjawab pertanyaanku.
"Masa? Nggak, tuh. Kenapa, sayang?" kamu sekarang menyandarkan kepalamu di bahuku, mengalihkan wangimu yang berbeda tadi dengan harum rambutmu.
"Wangimu berbeda" aku kembali memusatkan perhatianku pada langit sore. Warnanya bagus. Suasananya tenang, namun entah kenapa, hatiku tidak.
"Aku mengerti kamu mencintaiku, tapi kan aku sudah menjadi tunanganmu.. Kita akan menyelenggarakan pernikahan yang sudah kita rancang dalam waktu dekat ini.. Kenapa kamu masih curiga?"
"Aku bukannya curiga, tapi..."
"Sssh, sayang. Sudah. There's nothing wrong, okay? I love you, that's all" kamu lagi-lagi tersenyum manis dengan senyum beracunmu yang tanpa kusadari, membunuhku perlahan-lahan dengan kenaifan.

"Kau menungguku menunggu ku terjatuh
Setiap langkah tertuju setia dalam menunggu
"

---

Aku menutup pintu kamar kost-ku yang sudah penuh sesak dengan barang-barang pemberianmu. Bantal, ransel, celengan, gitar, dan barang-barang lainnya yang jika dijajarkan bersama, dapat dikategorikan dari 'Barang penting' ke 'Barang tidak penting'. Semuanya kamu. Aku duduk di pojok berdebu kamarku, satu-satunya gelintiran sentimeter persegi yang tidak tersentuh oleh barang-barang pemberianmu.
Di sana, aku duduk, memejamkan mata.
Bayanganmu dan laki-laki itu kembali muncul. Segala keanehan dan keganjilan yang terjadi kepadamu akhir-akhir ini juga muncul ke permukaan. Sering menghilangnya kamu, gerak gerikmu, hingga yang terjadi tadi sore: Harummu yang berbeda.
Aku membuka mataku, tiba-tiba merasa ingin muntah.
Aku muak. Terlalu muak olehmu yang sudah muak mencintaiku. Terlalu muak oleh semua kepura-puraanmu.
Kuambil telepon genggamku dalam hitungan detik, kemudian..
"Halo sayaaang" suaramu yang ceria menyapa panggilanku. Tetap menyenangkan, namun tidak lagi menenangkan.
"Kamu di mana?"
"Masih di kantor niiih"
"Selarut ini?"
"Iya, kan kemarin sudah aku ceritakan, sayang.. Ada apa kamu tumben nelepon? Nanti telepon lagi mau, ya? Aku lagi meeting"
"Nggak, tidak perlu, aku hanya ingin menyampaikan satu hal"
"Apa itu sayang? Please say it fast, don't have pretty much time"
"Aku mencintaimu. Maafkan aku sudah melemparkanmu dengan segala prasangka buruk"
"Aaah, sayaaang. I love you too. Besok malam kita ketemu, ya. Aku balik meeting dulu. Dadaaah"
Tanpa aba-aba, kamu menutup teleponnya. Aku tersenyum. Senyum bengis, lebih tepatnya. Kalau saja kamu tahu mengapa aku lebih memilih untuk meminta maaf dan mengatakan bahwa aku mencintaimu, sama jawabannya seperti, 'kalau kamu bisa berpura-pura selama ini terhadapku, mengapa aku tidak?'.


"Aku menunggumu menunggumu menunggumu mati
Di depanku di depanku di depanku.."


---

Pukul 3 pagi.
Telepon genggamku berdering. Aku terkaget dan bangun. Sebuah telepon masuk. Nomor teleponmu.
"Halo?" Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku untuk menjawab telepon itu.
"Halo selamat malam. Betul dengan saudara Erlangga?" Sebuah suara yang tak kukenal namun terdengar berat dan berwibawa berbicara denganku.
"Iya betul, siapa ini?" aku terkaget. Apakah kamu diam-diam sudah menjadi laki-laki?
"Saya dari kepolisian, menemukan telepon genggam ini di dalam tas korban" sayup sayup terdengar suara sirine. Aku membelalak. Ada apa ini?
"Sebentar. 'Korban'? Maksud Anda apa?"
"Pemilik telepon genggam ini mengalami kecelakaan, seorang perempuan, dan ketika kami cek telepon genggamnya, nomor Anda yang terakhir ada dalam daftar panggilannya"
"Mariska? Kecelakaan? Apa yang terjadi, Pak? Tolong jelaskan. Sekarang di mana Mariska berada?!" aku mulai panik.
"Korban sudah dilarikan ke rumah sakit, lalu........."
Percakapan berlanjut. Aku mendapatkan alamat rumah sakit tempat kamu mendapat tindakan gawat darurat. Dengan motor teman yang kupinjam, aku menuju rumah sakit.. Tunggu aku, sayang.

Aku menemui pihak kepolisian yang tadi menelponku. Kamu mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak trotoar kemudian tiang penyangga jalan layang. Ternyata kamu tidak sendiri, namun bersama seorang laki-laki  yang aku curigai selama ini. Si laki-laki meninggal di tempat, sementara kamu masih sempat diselamatkan dan dilarikan ke rumah sakit. Keadaanmu sangat kritis, kata mereka. Pendarahan di mana-mana. Setelah menghubungi keluarganmu, aku memilih untuk memisahkan diri sejenak dan duduk di kafetaria dengan segelas kopi hangat, sampai akhirnya ibumu meneleponku dan memberitahu bahwa kamu sudah sadar dan ingin berbicara denganku.
"Erlangga.." kamu mencoba tersenyum, walau robek di mulutmu tidak dapat kuhindari untuk tidak kulihat.
"Jangan berbicara dulu, kamu masih terluka" aku mencoba tenang, walaupun kepalaku berdenyut kencang. Aku tidak tahu aku harus marah atau sedih atau tetap berpura-pura kepadamu.
"Maaf...kan...ak....." kemudian kamu terbatuk hebat, mulutnya mengeluarkan darah. Setengah berteriak, aku memanggil dokter. Seluruh keluargamu langsung berkumpul dan terlihat panik, sementara aku memilih untuk diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kasihan kamu. Namun, mengingat apa yang sudah kamu lakukan kepadaku.... Ah, apa yang harus aku lakukan?

Dokter meminta kami semua keluar ruangan. Ibumu terisak sedih. Aku memilih untuk duduk dan membenamkan kepalaku ke dalam telapak tanganku. Kepalaku terasa semakin sakit. Tidak lama kemudian, dokter keluar. Kami semua bangkit dari tempat duduk, menunggu kabar, apapun itu..
"Mohon maaf, semuanya. Mariska telah pulang ke pelukan Yang Maha Kuasa.."
Seketika tangis ibunya meledak. Aku masih diam. Tuhan, ada apa ini?
Dokter menghampiriku dan memberi isyarat untuk agak menjauh dari kerumunan anggota keluarganya.
"Saya minta maaf atas apa yang telah terjadi. Saya sudah berusaha sekuat apa yang saya bisa, namun Mariska dan calon anak kalian tidak dapat terselamatkan.."
Dunia mendadak terasa hening. "Calon anak kalian?" aku mengulang perkataan sang dokter.
"Betul, Pak. Anda suami dari Mariska, benar? Sebenarnya dia tengah mengandung, namun akibat kecelakaan itu, dia dan sang jabang bayi tak dapat terselamatkan.."
Perempuan jalang.
Aku tidak pernah menyentuhmu sedikitpun dan kamu ternyata telah hamil?
Aku mengangguk kepada dokter itu, lalu memilih untuk menyelesaikan permainan yang akhir-akhir ini menjadi permainan favoritku: Pura-pura mencintaimu. Aku membantu pengurusan acara pemakamanmu. Aku tidak tidur selama dua hari. Mataku berat, kepalaku sakit, tapi semua ini tidak seberapa dibandingkan semua kebohongan yang kita rancang dengan cara masing-masing..

"Apa yang kau lakukan dibelakangku
Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku?
"

---

Aku duduk diam di depan pusaramu. Menebar bunga dalam genggam terakhir kemudian menyiramnya dengan sebotol air mawar. Aku menunduk, memejamkan mata, lalu memanjatkan doa untukmu, Mariska. Kutatap tanah yang masih merah dan hangat itu, kemudian tanpa sadar aku berbisik,
"Kamu jalang, tapi bagaimanapun, aku mencintaimu. Selamat jalan, Mariska.."
Aku bangkit, pamit kepada Ibumu, kemudian pergi meninggalkan semua tentangmu, di belakangku.

20 July 2012

"Kamu pernah mikir nggak kalo kita akan lebih baik kalo sendiri-sendiri?"
"Iya aku pernah sih berpikir kayak gitu.."
"Lalu?"
"Apa kita bisa menerimanya?"
"Kamu mau ngelepas aku?"
"Nggak"

Percakapan yang dimulai oleh saya, diakhiri oleh kamu. Sayang, sudah aku bilang,
Nanti dulu..

And the tears dropped.

---

"Apa kamu yakin kita bisa bertahan?"
"Kita terlalu banyak perbedaan. Susah untuk bersatu"
"Kamu yakin kita bisa bertahan?"
"Aku nggak yakin kita bisa bertahan"
"Terus hubungan ini sampe kapan menurutmu?"
"Aku nggak tau"
"Kamu mau pertahanin aku sampe kapan?"
"Sampai kamu dapet yang lebih baik dari aku"
"Kamu jangan gitu.."
"Terus gimana, sayang? Aku nggak tau harus ngapain lagi.."
"Kamu mau nyerahin aku ke orang yang nggak kamu tau sama sekali?"
"Kamu pantas dapet yang lebih baik dari aku"
"Kamu udah ketemu perempuan yang lebih baik dari aku?"
"Nggak"
"Sayang, ada pun juga nggak apa-apa. Aku pasrah.."
"Nggak, sayang.. Di sini aku mau fokus, banyak sekali promosi pekerjaan akhir-akhir ini dan aku hanya bisa melihat dan tidak termasuk di dalamnya karena aku New Hire.."
"Iya.."
"Cerita temenmu itu bikin aku sadar kalo kejadian itu akan terjadi pada kita, cuma kita nggak tau kapan.."
"Kamu mau aku tunggu di kontrak keduamu?"
"Bingung"
"Kamu tinggal jawab ya atau tidak. Kalau kita masih bareng ketika kamu pulang, apa kamu mau aku tunggu di kontrak keduamu?"
"Bingung, sayang.."
"Kamu sayang aku?"
"Sayang"
"Lalu?"
"Ya karena aku sayang kamu aku nggak mau nanti kamu kecewa"
"Tapi, aku sayang kamu.."

And the conversation stopped. I just have no idea about what to write anymore. Mereka benar. Hubungan seperti ini memang destructive. Seperti bom waktu, kita tinggal hitung mundur. Tapi bedanya, kita tidak tahu kapan bomnya akan meledak dan menghancurkan kita, dua orang bodoh yang membangkang pada logika.
Sayang, jangan dulu..

05 July 2012

Nanti dulu

Kamu ingat, ketika kita berdua, berbaring bersampingan, memandang langit-langit dengan kipas angin tua menggantung yang berputar penuh semangat menghilangkan kegerahan kita akan cuaca pulaumu yang meradang?
6 hari sebelum keberangkatanmu, hari terakhir aku berada di sampingmu sebelum malamnya aku pulang, ke kotaku.
"Jadi gimana? Kita tetap pada kesepakatan sebelumnya?"
"Kamu mau?"
Aku diam, lalu balik bertanya, "Kamu?"
"Ndak"
"Kenapa?"
"Ya ndak mau aja. Jangan, ya.. Tunggu nah sebentar. Nggak lama"
"Kenapa?"
"Udah ya, tunggu, ya?"
Lalu kamu peluk aku. Lama, tapi hangat. Aku suka, lalu kemudian memilih untuk tenggelam di dalamnya.

"Be.."
"Ken?*"
"Nanti kan jadi makin jauh.."
"Iya, tapi kan cuma sebentar.."
"Jangan nakal ya?"
"Nah"
Aku menenggelamkan kepalaku di bawah ketiakmu, diam-diam berbisik,
"Aku sayang kamu"
Memang dasar pendengaranmu setara dengan ibu-ibu tetangga yang suka gosip, kamu mendekapku erat. Tanpa kata. Dalam diam, aku terisak.

Kamu tahu, kadang hal ini membuat kepalaku sakit luar biasa. Jarak dan perbedaan agama yang menjadi permasalahan utama kita mengeroyok keyakinanku, akan kamu, akan diriku sendiri, dan kita. Aku terkadang iri dengan kebersamaan mereka yang bisa dengan lancarnya merencanakan masa depan dengan para kesayangan, sementara aku hanya bisa diam mengamati mereka.

Aku, sama seperti mereka, memiliki keingingan yang besar untuk bisa kemudian menyeduhkan teh hangat untukmu setiap pagi, sejak kamu bukanlah penyuka kopi. Aku memiliki keinginan yang besar untuk bisa ada setiap malam menemanimu berbincang tentang segala hal sebelum kita akhirnya pergi tidur. Aku memiliki keinginan yang besar untuk memberimu sentuhan-sentuhan kecil di bagian kepala setiap kali kamu mengeluh kamu mengkhawatirkan banyak hal. Tapi kembali, aku akan membiarkan pikiranku diam daripada membiarkan kelenjar airmataku produksi massal.

Sayang,
kamu percaya, apapun yang kita jalani saat ini, akan berbuah manis? Walaupun hasilnya tidak seperti yang kita inginkan, tapi apa kamu yakin itulah yang kita butuhkan? Setidaknya, untuk pembelajaran?
Kamu sadar, sebesar apa resiko yang kita ambil perlahan-lahan saat ini?
Kamu sadar, sebanyak apa kesabaran yang harus kita terus menerus sediakan dan jaga agar tidak habis?

Kenapa kamu mengambil keputusan ini? Kenapa aku setuju?
Aku rasa,
karena kita peduli,
karena kita saling menyayangi.

Untuk Kadek Yudiarta,
jangan menyerah dulu.
*Ken: Bahasa Bali, biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, artinya "Kenapa?"

01 July 2012

Senja di batas khatulistiwa #6 - Susi

Kepada Mas Djatmiko,

Semoga kamu masih baik-baik saja di sana. Aku berdoa dengan sepenuh hati di sini agar prajurit kebanggaanku tetap bertahan dan berjuang.
Aku sangat amat mengkhawatirkan keadaanmu, Mas. Ternyata warga sekitar sini ada yang suaminya meninggal terkena tembakan di kepala, dan dia satu daerah denganmu. Mendengar berita itu, hatiku mencelos. Aku tidak bisa lagi menahan tangis tiap malam jika mengingat betapa khawatirnya aku akan keselamatanmu. Tapi kemudian, aku serahkan semuanya kepada Tuhan. Aku sempat menceritakan tentang semua ini kepada Matthew, tamunya Pak Kades yang di surat lalu aku ceritakan. Kamu ingat? Dia masih tinggal di sini dan belajar bahasa Indonesia. Setelah aku menceriakan semuanya kepada Matthew, dia berkata, "If it's meant to be, it will be". Dia bilang, kalau Tuhan mengijinkan kita berdua untuk bersama, seperti apapun caranya, kita akan bersama. Dia juga bilang agar aku tidak kehilangan keyakinanku terhadap kamu. Terhadap diriku sendiri yang menyayangi kamu, terhadap kita.

Matthew juga bilang, kalau keadaan di tempatmu yang sangat kacau dan penuh perang itu juga merupakan kehendak Tuhan. Kalau Tuhan ingin kamu membuktikan bahwa kamu orang yang kuat, kalau kamu adalah orang yang bisa bertanggung jawab untuk berjuang. Mendengar Matthew berkata itu, aku lega luar biasa. Aku sudah tidak terlalu sering menangis. Mataku tidak sebesar bola sepak takraw lagi, tapi bola ping-pong. Walaupun kadang-kadang masih bengkak karena khawatir memikirkan keadaanmu, setidaknya kadarnya berkurang.

YA HABISNYA MAU GIMANA LAGI MAS AKU KANGEN KAMU, AKU KHAWATIR, AKU TIDAK INGIN SESUATU YANG BURUK TERJADI PADAMU!

Cukup dengan capslock-nya. Lanjut, Mas.
Minggu depan aku akan kembali ke Jakarta. Papi sakit dan meminta aku pulang. Mungkin ketika kamu membalas surat ini, aku sedang di Jakarta. Tapi aku sudah menitipkan kepada Ibu Nur sang kepala keperawatan di tempatku untuk menyimpankan surat darimu. Semoga ketika kamu membaca surat ini dan membalasnya untukku, keadaan sudah jauh lebih baik: Perang di tempatmu, dan keadaan papiku. Semoga ya, Mas..

Dengan doa yang tak henti-hentinya tertuju untukmu, aku menutup surat ini. Kamu dapat salam dari Matthew. Stay strong, stay cool, keep away from drugs katanya.

Peluk hangat dan wangi,
Susi Marina Dewi






---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini