31 May 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #2 - Susi

Kepada yang terkasih, Mas Sersanku yang gagah, Djatmiko..

What's up, Mas? Jangan kaget kalau aku sedikit berbahasa Inggris, karena di sini ada tamu dari Pak Kades yang berasal dari Amerika. Orangnya seumuran kamu, tinggi, rambutnya warna cokelat, matanya warna biru, giginya warna kuning.. Tapi tetap setampan dan segagah apapun dia, tidak bisa mengalahkan pesonamu terhadapku.

Aku kadang berpikir, kamu di sana sendiri, apa bisa kamu merawat dirimu sendiri? Apa makanmu teratur? Apa kamu mencuci pakaianmu dengan bersih? Apa kamu menyetrikanya dengan rapih? Apa tidurmu cukup? Apa kesehatanmu terjaga? Apa kamu mengurangi konsumsimu akan kopi?
Di tengah seluruh pertanyaan ini, ada satu pertanyaan terbesar yang terus berputar di kepalaku, Mas..
Apa kamu tidak tergoda untuk mencari penggantiku?
Karena kita semua pun, maksud dari "kita" di sini adalah aku, kamu, dan rumput yang bergoyang ke kanan dan ke kiri seiring irama kopi dangdut, tau kalau tidak mungkin lelaki sepertimu tidak menarik perhatian perempuan. Apa kamu tidak tergoda untuk menggantikanku dengan seseorang yang senantiasa akan lebih dekat denganmu, setia menemanimu dan rela berkorban lebih banyak daripada aku, untukmu?
Aduh mas, maaf aku lagi insekyur. Ini juga aku tidak tau bagaimana cara penulisannya. Cuma si bule cengengesan itu yang kasihtau aku kalau aku ini insekyur..

Kapan kamu akan dipindahkan ke Aceh? Itu tandanya cinta kita akan berjarak MAKIN ujung ke ujung? Lalu bagaimana jika suratku tidak sampai? Bagaimana jika Pak Pos-nya malas mencari alamat? Bagaimana jika suratku atau suratmu terjatuh di antara surat yang hendak dikirim? Bagaimana nanti kita bisa terus bertahan, Mas?

Aku tidak tahu apa yang membuatku insekyur seperti ini, tapi aku rasa, kamu bisa mengerti. Martabak manis mana martabak manis.


Peluk hangat namun insekyur untukmu,
Susi Marina Dewi






Dalam keadaan insekyur luar biasa
---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini

26 May 2012

Senja di batas khatulistiwa - Susi

Kepada yang terkasih MasSanKoNo a.k.a Mas Sersan Djatmiko Hardjotaruno,
Aku yakin kabarmu baik, kamu sudah makan, sudah ngopi, sudah siap beraktivitas, cuman manja-manjaan sama akunya aja belum.
Abaikan.
Aku senang kamu memimpikan aku seperti itu. Namun akupun menyesali kenapa di mimpimu aku kurang agresif? Padahal kan kamu tahu aku seorang perawat, aku sudah terbiasa merawat orang, sudah sangat hapal cara-cara menyembuhkan luka. Namun kamu pun tahu, aku juga pintar merawat rasa rindu dan cara-cara mengobati kehilanganku akan sosokmu yang hanya sementara ini..
Mas Djatmiko-ku yang gagah,
Di pelosok Sukabumi ini orangnya ramah-ramah terhadapku, seramah deburan ombak yang menangkan hatimu ketika kau menulis surat untukku. Ya iya dong ramah, kalo nggak ramah mah namanya tsunami, Mas. Eh, sebentar. Ini surat cinta, bukan naskah lenong. Baiklah, fokus ya Mas, fokus.
Hari-hari tanpamu sungguhlah berat dan jarak yang terbentang di antara kita sungguhlah besar, sebesar hatiku, tapi lebih besar lagi hatinya Vicky Vette. Jangan tanya dia siapa, Mas. Aku pun hanya mendengar dari obrolan petani-petani sebelah. Menjalani hari tanpa sapaanmu di pagi hari seperti menanak nasi tanpa air. Kering, mas. Aku sangat berharap kita bisa bertemu secepatnya, pada satu malam minggu, dengan aku yang membuatkan kopi untukmu dan kamu membalasnya dengan senyumanmu yang selalu jadi kesukaanku.
Juga,
Kamu tidak tahu betapa aku selalu tersenyum membayangkan kamu, begitu gagah dengan balutan seragam dan atribut-mu, berjuang dengan berani melawan seluruh ketakutanmu, untuk akhirnya pulang ke pelukanku. Kamu tidak tahu betapa aku setiap hari, di dalam seragam serba putih ini, mengobati mereka yang terluka dan terserang wabah penyakit dengan tekun dan sabar, untuk memberitahu diriku sendiri bahwa setiap senyum di dalam kesabaran akan membuahkan hasil yang manis.
Dan untukku, itu adalah kehadiranmu.
Mas,
Salam untuk pantai Losari-mu. Sungguh aku iri hati padanya dapat menemanimu menumpahkan kerinduanmu, yang suatu saat nanti aku kusambut dengan senyumku, padamu.
Salam rindu,
Susi Marina Dewi



Dalam bentuk penulisan surat model Full Block.
---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini

17 May 2012


"I won't give up on us,
even if the skies get rough.
I'm giving you all my love.
I'm still looking up."

"Our differences, they do a lot to teach us,
how to use the tools and gifts we got, we got a lot at stake"

-Jason Mraz, I Won't Give Up-
Yes, baby. I won't give up..
With all of the differences,
at least we're trying, no?
:)
full lyrics can be seen in the video

*3 detik kemudian*

This will be another mellow-yellow-sendal jepit swallow post.
Since my boyfriend set sail abroad,
and I can't stop being galau by myself about it.

Okay, start mixing language, Anita. You're not even close to Cinta Laura either Cinta Kuya.
*dihipnotis*

Jadi, pacar saya sudah mulai berlayar. Hari pertama nyampe Los Angeles, dese langsung ngabarin saya. Layaknya ABG kece jaman sekarang, kami berkomunikasi via.....message facebook. Mungkin kalo Friendster masih ada kami akan saling berkirim testimonial di profile masing-masing dengan tulisan "I Love You" berglitter pink dan menyala-nyala. Iya, I ever lived in that era and proud of it.
*pasang pose manis manja gelendotan di pilar Bank Indonesia*
*diusir satpam*
Kenapa lewat message Facebook? Karena waktu dia sudah mendarat di LA, henfon saya masih rusak dan kami belom bisa BBM-an, jadinya pake cara itu..
Kami saling bertukar cerita, dia ngapain aja, gimana kesan pertamanya di sana, dan seperti biasa, I can't stop telling him what to do for some certain circumstances.. Because he's dating a Virgo here.
Saya juga cerita gimana saya dari daerah satu ke daerah lainnya mendatangi panggilan interview pekerjaan, how I hope that we're going to be okay. How he hopes that I'll get a better job. Everything.
Dari situ, jaraknya terasa lebih jauh. Saya baru pulang interview siangnya, dia baru mau tidur. Bok, perbedaan waktu tadinya cuman 1 jam sekarang jadi 14 jam, MENURUT NGANA?
*cemilin jam dinding*

Lalu 2 hari kemudian, tibalah saatnya dia naik kapal. Sempet BBM-an karena henpon saya yang manja ini udah kembali prima performanya. Tapi nggak lama, dia menghilang tanpa kabar. Di sinilah "perjuangan" dimulai..

Saya sudah menyiapkan mental jauh-jauh hari kalo-kalo saya akan dikabarin seminggu bahkan dua minggu sekali, mengingat dia akan sibuk sekali dan saya nggak mau jadi perempuan manja.
So, there I go on his first day.
Rasanya, kangen, banget. But then I keep remembering the commitment. Jadi, nggak melow-melow banget.
Saya hari itu ada panggilan interview kerja, dan menjalani hari seperti biasa. Pulang ke rumah agak siangan. Lagi duduk-duduk manis di depan TV, nggak bisa nahan kangen, saya kirim BBM (yang udah pasti nggak akan nyampe ke dia) panjang lebar. Setelah mengetik panjang lebar, saya akhiri dengan "Sayang, aku kangen..". Setelah saya kirim BBM rongsok yang nggak akan nyampe ke dia itu, henfon saya bunyi, ada yang nelpon. Nomer Indonesia tapinya. Saya angkat.
Saya: "Halo"
Dia: *3 detik kemudian* "Halo, di mana?"
Saya: "Di rumah, ini siapa?"
Dia: *3 detik kemudian* "Lagi apa? Ooo gitu ya, nggak kenal suaraku"
Saya: "......."
Dia: *3 detik kemudian* "Beb?"
Saya: "WAAAAAAAAA!!!!! KAMOOOOOOHHH!! DIMANAAAAAAAHHHH???!!"
anjis, langsung heboh, sodara-sodari sebangsa dan setanah air!
Dia: *3 detik kemudian* "Udah di kapal, baru selesai kerja. Kamu lagi apa?"
Saya: "How's your first day? Room-matenya orang mana? Gimana suasananya? Aku lagi nonton TV, tadi abis interview, ini itu ina itu daradam daradam hoi ning nang ning dung..."
Lalu kami saling bercerita.

Dia bercerita tentang gimana hari pertamanya kerja, "Aku mau pulang aja rasanya" HAHAHAHAHA you've got punk'ed, baby. Kena sindrom homesick hanya dalam satu hari sajaaa. Lalu kami bercanda-canda, seperti biasa. Sampai akhirnya dia bilang, "Gimana kamu di sana? Udah dapet yang baru?" Saya pahamnya dia nanya tentang pekerjaan baru, saya jawab dengan jumawanya, "Belum, sayang. Doain aja ya.." dan 3 detik kemudian, terdengar "OOOOH GITUUUUU. IYAAA AKU DOAIN SUPAYA KAMU DAPET YANG LEBIH BAIK YAAAA"
Hening.
Saya bingung.
Lalu dengan kecepatan cahaya lampu disko dangdut, saya sadar.
"MUAHAHAHAHA. ENGGAK SAYAAAANG! OGUT PIKIR TEH KERJAAN BARUUUU!"
"Gitu yaaa kamu yaaa. Okeeeee"
"Ampun, sayang. Ampoooon"
Saya jadi makin kangen.
Lalu,
"Aku mau telpon Bapakku dulu, ya. Nanti kamu aku telpon kamu lagi"
"Oke"
Dan percakapan kami pun berhenti di situ.

Saya kembali duduk-duduk manis nonton TV. Nggak lama, dia nelpon lagi.
Saya: "Loh beneran nelpon lagi? Ini nomer mana yang kamu pake?"
Dia: *3 detik kemudian* "Nomer kapal. Di sini henpon nggak dapet sinyal. Aku beli kartu buat pulsa nelpon di kamar"
Kemudian, kami bertukar cerita lagi. Lumayan lama. Dia, yang sehari-hari kalo telponan sama saya jarang cerita, kali ini cerita panjang lebar tentang pengalaman barunya. Saya senang dengarnya. Setidaknya, dia sekarang menikmati proses pembelajarannya. Saya makin bangga :)

Lalu kemudian, dia tidak menghubungi saya selama dua hari :))))
*berenang ke LA, telponan di sana aja*

Sampai tadi siang, saya lagi nonton TV sambil tidur-tiduran dengan manuver-manuver mahadahsyat (baca: guling ke kanan dan ke kiri dengan derajat sudut tertentu yang bahkan pakar matematika tidak dapat menjelaskannya), henpon saya bunyi: Unknown Number.
Saya langsung mikir itu stalker. Saya udah siap-siap sok cool. Tarik napas, lalu...
Saya: *dengan wibawa penuh* "Halo"
Dia: *3 detik kemudian* "Halo, lagi apa?"
Saya: "........"
Dia: "Halo?"
Saya: "Iya, lagi nonton TV. Kamu lagi apa?"
Dia: *3 detik kemudian* "Baru selesai kerja. Ini mau tidur"
Saya: "Tidur nah, besok bangun pagi, kan? Ini udah jam 12 (di sana)"
Dia: *3 detik kemudian* "OOO GITU NGUSIR AKU YA GITUUUU~"
Saya: "......serba salah aing mah"
Dia: *3 detik kemudian* Kamu kok tadi aku telpon nggak aktif nomernya?"
Saya: "Kapan? Aktif terus kok?" *seneng di-insecure-in*
Dia: *3 detik kemudian* "Tadi siang"
Saya: "Itumah aku tidur.. Semalem nginep di rumah sepupunya, terus bangun-bangun henpon mati"
Dia: *3 detik kemudian* "Ooo.."
Saya: *nyengir, ya dia nggak liat juga, sih. Yang liat ya poster Harry Potter di depan muka saya*
Lalu, kami kembali bertukar cerita. Bagaimana pekerjaan dia, bagaimana hari-hari saya dan panggilan-panggilan interview lainnya, bagaimana kami berharap yang terbaik untuk masing-masing kami, dan kami berdua, tentunya.

Sampai pada akhirnya,
"Aku dari kemarin mimpiin kamu, mimpiin keluarga di rumah"
"Iya, itu homesick. Aku emang kemaren nungguin kamu nelpon tapi nggak nelpon. Mind-connection kah? Nggak tau, sih. Dan nggak mau nyusahin kamu juga. I'm okay here, baby. Nggak usah mikirin, ya.."
"Iya.."
Lalu kami diam. Nggak 3 detik juga, mungkin sekitar 10 detik. Kemudian..
"Sayang, aku tidur ya.. Besok harus bangun pagi. Shift-nya pagi terus ini"
"Iya sayang.. Jaga kesehatan ya.."
"Iya. Dadah sayang"
"Dadah."
Oh, jangan lupa delay 3 detik pada setiap kalimat :))

Kemudian, percakapan berakhir.
Kemudian saya diam. Bukan, bukan kentut ataupun ketiduran, tapi mikir.

Dia, di antara seluruh pekerjaannya yang saya tau tidak mudah, masih menganggap saya good night call-nya.
Bisa saja dia tidak menelpon saya dan langsung tidur. Toh untuk nelpon saya dan ngobrol nggak penting dia harus keluar uang dan delay 3 detik tiap percakapan. But he's doing it anyway. Saya tidak tau atas dasar apa dia melakukan hal ini, karena dia sangatlah unpredictable.
Tapi saya senang, saya merasa dihargai.
Sayang, saya senang. Terima kasih.
Nanti kalo ketemu peluk, ya.. Nggak, nggak pake delay 3 detik.
:)

15 May 2012

Difference, it is.

Kamu tau apa yang paling saya rindukan dari kamu?
Percakapan kita di malam hari, setelah kita menyelesaikan ibadah masing-masing.
Tenang rasanya, kamu tau itu?

Ketika saya, sudah berkomunikasi dengan Tuhan saya,
menceritakan betapa saya, sayang kamu.
Betapa kamu, anak nakal, bersikap baik kepada saya.
Betapa saya menginginkan kamu mendapat kelancaran jalan pada mimpimu yang sekarang sedang kamu raih.
Betapa saya tidak tahu dimana kita akan berakhir, tapi saya tetap akan tunggu.
Tuhan bisa pikir saya bodoh,
Tuhan bisa pikir saya membuang-buang waktu,
tapi Dia akan tetap mendengarkan.
Dia akan tetap ada untuk saya.

Satu tahun bukanlah waktu yang singkat, saya tahu itu. Tahu persis. Dengan perbedaan waktu 14 jam, saya tau itu tidak akan mudah. Tapi saya yakin, kamu, akan datang ke hadapan saya tahun depan untuk keadaan yang lebih baik lagi. Jauh lebih baik.

Saya tidak tahu apa yang kita kejar, apa yang saya tunggu. Yang saya tau, kita akan baik-baik saja.

"Sayang, aku sholat isya dulu.."
"Aku juga mau sembahyang dulu, baru abis itu aku telpon kamu"
 :)

11 May 2012

Bali, kemarin.

Kamis kemarin, saya ke Bali. 3 hari 2 Malam.
Agak gondok pas berangkat karena maskapai Singa Udara yang menjadi pilihan saya karena harga tiketnya paling murah ini bikin saya pindah gate dan ngendon di pesawat selama 25 menit. Tapi mungkin karena faktor cuaca yang tidak memungkinkan (satu jam sebelum keberangkatan di airport hujan besar), jadi saya pura-pura maklum.

Sampai di Bali, satu jam terlambat dari jadwal.
Rasanya pingin saya lemparin bom kentut ke pesawat tadi, tapi niat mulia itu saya urungkan, karena saya lagi nggak punya stok bom kentut, adanya stok bom cinta, buat ketemu kamu :">
*dilemparin bom beneran sama pembaca*

Oh iya, saya lupa bilang apa maksud dan tujuan saya ke Bali kemarin. Tujuannya adalah......... Siap-siap......
*drum rolls*
SAYA MAU PACARAAAAAN!
*tebar confetti sepanjang postingan*
Kenapa harus hari Kamis dan pulangnya Sabtu?
Karena eh karena, saya mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bekerja 6 bulan belakangan dan SEMUA pekerjaan termasuk hand-over seluruh pekerjaan baru selesai hari Rabu, jadi saya memutuskan untuk berangkat hari Kamis. Juga, hari Minggu itu pacar saya udah bilang mau pulang kampung (which is saya bingung yang disebut "kampung" di Bali itu di mana) dan ada upacara yang khusus diadakan sebelum keberangkatannya ke Amerika sana. Jadi, begitulah jadwalnya. One of the advantage is, TIKET PULANGNYA SEHARGA TIKET PERGI. Jangan harap saya dapet tiket murah kalo pulangnya hari Minggu. Hayah.

Oke, lanjut.
Saya ini juga sengaja nggak bilang sama pacar saya kalo saya mau ke sana. Tapi emang dasar turunan dukun apa dia ikut REG sepasi JENENG, dari pagi dia udah repot nanyain saya di mana, lagi apa, sama siapa aja, abis ini mau ke mana which is menandakan kalau he's feeling something fishy. Dari saya mau ke airport, di airport, sampe saya di pesawat sebelum terbang, sampe nyampe Ngurah Rai, nanyaaaa mulu kayak pegawai kelurahan insecure. Saya sampe nyerah dan nggak bales satupun SMSnya maupun ngangkat satupun teleponnya. Jadi, begitulah. Untung abis itu dia bilang mau futsal bareng teman-temannya, jadi saya bisa tarik nafas lega.

Saya butuh satu jam untuk nyari hotel, ditemenin sama temen saya. Dengan rate dan fasilitas yang sepadan, saya memilih hotel di daerah Popies, Kuta. Kenapa di situ? Karena saya nggak kenal daerahnya dan nggak suka tempat yang sepi. So, there I go :D

Abis dapet kamar, taruh barang, saya pergi makan sama temen saya sampe akhirnya nyamperin pacar ke tempat dia main futsal. Saya melakukan hal genius yang tidak dapat diterima: Menelpon pacar. YAKALI ORANG FUTSAL BAWA-BAWA HENPON! Tapi ujung-ujungnya diangkat juga.
Him: "Halo"
Me: "Sayang, di mana?"
Him: "Futsal. Ntar dulu, ya"
Me: "Eeeh! Ntar dulu! Kamu keluar dulu!"
Him: "Keluar apa? Ini udah di luar"
Me: "Keluar dulu! Keluar lapangaaan!"
Him: "Ntar dulu aku mau main dulu!"
yes, people. Saya nggak pernah jadi prioritas kalo dibandingkan futsal dan video games :))
Me: "KELUAR SEKARANG!"
Dan percakapan pun berakhir di situ.

And there he was, memakai baju bola, keringetan, jalan kucluk-kucluk-kucluk nyamperin saya. TANPA EKSPRESI. Damn I hate him for being very "lempeng". I mean, INI GUE DATENG NYAMPERIN ELU NGGAK BILANG-BILANG LOOOH, MASA IYA ITU MUKE NGGAK BISA DIKASIH EKSPRESI KAGET WALAUPUN PURA-PURA, SEDIKIIIIIT AJA?
*geregetan sendiri*
Saya: *Nyengir*
Dia: "Aku tau kamu mau ke sini.. Lain kali harus lebih halus caranya, ya?"
SUMPAH DEMI APAPUN RASANYA PENGEN SAYA JAMBAK ITU PACAR SAYA PENGEN SAYA KETEKIN PAKE KETEK EVA ARNAZ JAMAN DULU YANG BULU KETEKNYA MASIH RUMBAI-RUMBAI TAPI SAYA NGGAK TEGA SOALNYA............pacar saya :">
*endingnya nggak enak*
*diketekin pembaca*

Kemudian terjadilah "Serah-terima Anita Si Anak Perawan Mama" antara teman saya dan pacar saya. Kemudian teman saya pulang, mungkin dengan perasaan bahagia karena tidak lagi direpotkan oleh ulah saya :)))

Dan kami pun juga pergi, saya pikir saya mau nemenin dia main futsal dulu, ternyata mister pacar pun memutuskan untuk langsung memboyong saya keluar dari tempat gedebak-gedebuk itu. TUHAN MASIH SAYANG SAMA SAYA!
*sujud syukur*
Sempet mampir ke kosan pacar untuk ngambil persiapan menginap 3 hari 2 malam buat dia padahal hotel saya sama kosannya nggak jauh-jauh amat jaraknya. For those who are wondering kenapa saya nggak nginep di kosan pacar saya, NGGAK ADA LAMPUNYA :)) saya bingung apa yang membuat pacar saya belom dapet hidayah untuk ganti bohlam yang mati dari dua bulan yang lalu, yang jelas I'm not staying there. Lagian tetangga kosannya banyak yang merupakan keluarga. Saya nggak enak hati, jaga sopan santun aja :)

LAGIAN KAN KITA MAU MELAKUKAN HAL-HAL YANG AKAN MENGELUARKAN BANYAK SUARA DAN MANUVER-MANUVER TAK BERKESUDAHAN BERUPA.........nonton bola pake taruhan sambil berantem saya boleh nonton sambil ngerokok atau enggak. Well, we're that lame, yes.
*seka air mata haru*

Saya lelah seada-adanya. Baru tidur-tiduran sebentar, udah ditelpon lagi sama temen saya untuk nyusul dia. Pas dengan keadaan perut kosong pacar saya yang kalo makan kayak orang hamil kembar, kami pun keluar untuk makan. Ngobrol-ngobrol sebentar, pacar saya selesai makan, saya ngeborong sama jajanan pasar yang murah dan beripkir kalo kami akan nonton TV sambil cemil-cemil lucu, kami pun balik ke hotel. KALI INI TIDAK ADA AMPUN, SAYA MAU TIDUR!!
Dan benar,
tidak sampai 5 menit,
saya tidur.
Pulas.
Pacar asik nonton bola sendiri. Sambil "bertanggung jawab" makan jajanan pasar yang saya borong sebelumnya. Bodo amat.
:))))

Keesokan harinya.
Saya bangun siang. BANGET. Niatnya padahal mau sok-sokan bangun pagi terus liat sunrise dari pantai Kuta yang tinggal selepetan dari hotel kami. Nyatanya........SUNRISE NDHASMU :))
Bangun tidur, sikat gigi, kami langsung turun sarapan yang disediakan hotel..............DI HOTEL SEBELAHNYA. Saya baru nemu ada hotel se-tenggang rasa ini. Dan dari sekian banyak tamu yang lagi sarapan, cuma kami berdua-lah yang muncul masih dengan piyama dan muka belom mandi. Ya tapi gimana, kita laper, jadi hajar weh mau diliatin apa enggak. Untungnya saya nggak bawa rokok ke meja makan, bisa diliatin dengan pandangan nista dari pengunjung lainnya udah nggak mandi, ngerokok pula. Jadilah setelah makan, KAMI KABUR BALIK KE KAMAR :))

Balik ke kamar, mandi, siap-siap, terus check out pas jam 12. NAUJUBILAHIMINJALIK PANASNYAAAA. Udah gitu, saya mau pindah ke hotel yang lebih murah karena di hari kedua ini saya yakin saya akan banyak berada di luar, jadi pikiran pelit ekonomis saya mendorong saya untuk melawan teriknya matahari untuk nyari hotel baru yang lebih murah. Muter-muter Kuta-Legian, akhirnya kami dateng ke satu hotel. Tempatnya enak, adem, pas masuk pekarangan itu ada taman luas dan adem banget. Pas masuk kamar, tanpa AC, cuman kipas angin gantung yang gede itu aja dan acceptable buat saya. Kamar mandi juga dari shower sampe flush berfungsi semua. And I said yes to that room, sampe akhirnya saya sadar...."Bli, nggak ada TV, ya?"
Si Bli cuman menggeleng.
Oke.
This will be the end of the world.
Mulai detik itu, saya dan pacar menganggap kalau malam ini akan menjadi malam hening di mana kami bisa meningkatkan sisi religiusitas masing-masing.
*menghibur diri*
Tapi bener, sih. Kami seharian itu jalan-jalan. Cuman ketemuan sama temen saya yang lagi di situ juga, terus ke tempat teman kami yang satu lagi, ngobrol-ngobrol sampe sore, terus kami ke hotel teman kami yang letaknya TIGA PULUH MENIT dari tempat sebelumnya. Yang empunya kamar mandi dan segala macem, saya, pacar saya, sama pacarnya temen saya duduk berjejer di depan TV, nonton championship free-style BMX bike. Kami ber "OOOH! WOGH! WOOSSSHH!" kayak lagi nyanyi koor ngeliatin TV. Seru :))
Malemnya, saya dan pacar saya balik ke hotel buat mandi dan ganti baju, terus balik lagi ketemu temen saya buat makan malem bareng-bareng.
Sempet mau makan di satu pasar yang saya agak lupa namanya, tapi yang saya inget, saya sempet ngelirik bunga yang dijajarkan untuk dijual dan dikasih satu sama ibu penjualnya. Saya nyengir lebar sambil pamer bunga yang dikasih ibu penjual bunga ke pacar saya. Dia cuman senyum, terus bilang, "Baik-baik orang Bali, ya?"
Saya diam.
Lalu senyum.
Iya, sayang.. Orang Bali baik semua. Saya senang :)

Kami selesai sekitar tengah malam. Sebelum balik ke hotel, saya beli tiket buat pulang dan senang bukan kepalang karena harganya sama kayak harga tiket waktu saya berangkat yang berarti saya nggak rugi. Abis bayar, kami pulang ke hotel. Saya yang takut gelap dan sepi langsung parno pas mau masuk pekarangan hotel. Tapi untungnya banyak bule yang masih nongkrong-nongkrong ngobrol, jadi nggak sepi-sepi banget :D
Sampai di kamar, kami nggak langsung tidur. Kami ngobrol lama tentang banyak hal. Dia dengan mie instan-nya, saya dengan rokok saya. Kami ngobrol di beranda kamar. Dari jauh terdengar sayup-sayup musik jedag-jedug yang sama sekali tidak menarik perhatian saya. Hanya ada saya, dia, dan satu sosok kecil menyebalkan yang tidak bisa dikontrol, namanya kangen.
*hayah*

Sampai akhirnya, malam itu saya berakhir aman dalam pelukannya. Lelap.
:)

Keesokan harinya.
Saya bangun duluan,
terbangun, to be exact. Dari luar terdengar suara orang-orang menyanyi dan alunan alat musik tradisional. Saya sebut itu "pengajian"nya orang Hindu, tapi dia tertawa, dia bilang itu namanya..................saya lupa apa yang dia sebut ya.
*dilelepin*
Saya heboh merengek minta sarapan bubur ayam. Dengan mata setengah terbuka, dia menuruti. Saya makin sayang :))

Pulang sarapan, kami balik ke hotel. selesai mandi, kami tidur-tiduran sambil ngobrol-ngobrol bercanda, which is something that really rare for us to have. Kami mengobrol, tentang bagaimana nanti hubungan kami setelah dia berangkat berlayar ke Amerika. Kesepakatan awal adalah kami jalan dengan fokus masing-masing. Tapi nampaknya belum bisa. Kami sayang, kami punya satu keyakinan yang sama walaupun agama yang kami peluk berbeda.
Jadi keputusannya,
Saya tunggu.
Satu kali dulu.
Dia peluk saya,
kencang.
Saya diam,
diam-diam nangis, maksudnya. Sedih, bok. Nggak pernah kebayang rasanya ditinggal setahun, beda zona waktu, beda iklim, kurang komplit apa cobak?
:))

Sudah jam 12, waktunya check out hotel. Kami keluar hotel dan nyusulin teman kami. Mau jalan-jalan, pokoknya. Pilihannya kalo nggak Bedugul, ya Kintamani, pokoknya yang adem-adem. Saya sama teman saya nggak mau panas-panasan.
Kemudian pada akhirnya,
kami berakhir di................
Padang-Padang Beach.
...
NGGAK USAH KETAWA!!

Emang jauh BANGET keputusannya, but in fact, we had fun. So much. Kami selesai sekitar jam 6, makan malam, lalu ngebut ke airport. Saya harus pulang..

Kami sempat bertengkar di airport. Sampai pada akhirnya saya harus masuk untuk check in dan waktunya semakin mepet, saya nggak berani peluk dia. Saya hanya menempelkan hidung saya di dadanya, kesukaan saya. Saya minta maaf, dan pamit pulang. Mata saya merah, mata dia merah, tapi tidak ada dari kami yang menangis. Saya bangga sama kamu, sayang :)

Saya check in, dia pulang.
Air mata saya jatuh di situ, saat itu juga.
Anak nakal, jangan nakal :)

Pesawat saya tidak delay, tapi di tengah-tengah perjalanan kecium bau asap cobak, bikin panik. Tapi untungnya nggak kenapa-napa. AMAAAAN =))
Saya sampai di rumah dengan suara pacar saya di telepon yang menemani saya sepanjang perjalanan.

Setelah tutup telepon, saya duduk, diam dulu sebentar.
Lalu berpikir,
saya, sayang kamu,
dan keputusan ini, membuat saya percaya,
kalau keyakinan tidak akan salah,
dan hal baik,
tidak akan pernah tidak muncul tepat waktu.
:)