Showing posts with label FIKTIF. Show all posts
Showing posts with label FIKTIF. Show all posts

29 July 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #7: Susi

Kepada yang tersayang, Mas Djatmiko..

Aku tidak tahu apa kamu sudah menerima suratku atau belum atau malah bahkan sudah membalasnya dan aku tidak tahu. Itu karena sampai saat ini aku masih di Jakarta, Mas. Aku menulis surat ini dengan diam-diam dan sekarang sudah jam 3 pagi di sini. Keadaan Papi semakin memburuk. Kami sudah mulai kehabisan biaya, hutang sudah di mana-mana. Tapi ada satu hal lagi yang lebih buruk dari itu:
Papi meminta aku menerima lamaran Soetopo, bajingan tengik anak Pak Eman sang Walikota yang memang sudah lama menaruh hati padaku.

Papi minta aku untuk menerima pinangannya karena keluarganya bisa membantu biaya berobat Papi. Aku sungguh tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku mencintai Papi dan aku akan berbuat apa saja agar Papi kembali sehat dan bahagia, tapi di sisi lain aku mencintai kamu dan aku ingin memperjuangkanmu sekeras mungkin. Air mataku sudah habis memikirkan semua ini setiap malam, Mas. Tentang kamu dan masa depan seperti apa yang akan kita hadapi, juga tentang keadaan Papi dan bagaimana cara keluar dari semua masalah ini. Ingin rasanya aku berteriak, namun menurutku itu terlalu kekanakan dan tidak akan menyelesaikan masalah.

Tadi pagi Soetopo mengajakku pergi makan malam hari Sabtu nanti, Papi memintaku untuk menerima ajakannya namun aku merasa ada yang aneh dan sesuatu yang tidak baik akan terjadi padaku.

Mas Djatmiko,
cepat pulang, Mas.. Aku mulai takut..

Susi Marina Dewi







---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini

28 July 2012

#CerpenPeterpan: Di Belakangku

Malam terasa sunyi, di kamar kost busuk ini ada aku dan kamu, saling menatap dingin satu sama lain.
"Siapa laki-laki itu?" Aku sudah tidak bisa memendam lagi. Ingatan tentangmu yang sedang dipeluk mesra oleh laki-laki itu sungguhlah menyakitkan.
"Bukan siapa-siapa" Kamu memang pintar akting dengan cara menjawabmu yang tetap tenang itu.
"Lalu mengapa dia merangkulmu mesra seperti itu? Kalian saling menatap dan tertawa. Itu yang kamu sebut 'Bukan siapa-siapa'? Aku juga sering merangkulmu. Apa aku juga bukan siapa-siapamu?
"Beda dong, Sayang.. Kamu kan tunanganku, dia teman kerjaku. Kamu paham, dong. Nggak usah kolot, ah." kamu sekarang tersenyum manis. Senyum beracun.
"Erlangga, sayangku, dengar aku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia. Dia hanya sedikit mabuk dan aku membantunya berjalan. Dia orangnya juga suka bercanda makanya aku tertawa-tawa karena dia kalau lagi mabuk suka aneh sekali.. Jangan marah ya, sayang, ya.." kamu mulai mengusap pipiku dan memelukku. Wangi parfummu yang khas menyeruak indera penciumanku dan meluluhkan hatiku. Kamu jalang, tapi aku mencintaimu, Mariska..

"Kau peluk aku sebelum membunuhku
Tersenyum melihatku merenung melihatmu.."

---

"Kamu sudah makan?" Kamu menghampiriku di taman biasa tempat aku menikmati sore.
"Sudah. Kamu dari mana saja?"
"Hmmm. Kantor sebentar tadi."
"Hari Minggu seperti ini?"
"Iya, kan sebentar lagi kantorku ulang tahun, sayang.. I have to work harder to make this happen. For the sake of my career, baby.." Kamu mendaratkan ciuman manis di pipiku. Harum parfummu kembali menyeruak ke dalam indera penciumanku. Tunggu, ini bukan wangimu.
"Kamu ganti parfum?" aku memalingkan perhatianku dari awan berbentuk pohon yang sedari tadi aku perhatikan. Entah kenapa matamu sempat sedikit terbelalak sebelum menjawab pertanyaanku.
"Masa? Nggak, tuh. Kenapa, sayang?" kamu sekarang menyandarkan kepalamu di bahuku, mengalihkan wangimu yang berbeda tadi dengan harum rambutmu.
"Wangimu berbeda" aku kembali memusatkan perhatianku pada langit sore. Warnanya bagus. Suasananya tenang, namun entah kenapa, hatiku tidak.
"Aku mengerti kamu mencintaiku, tapi kan aku sudah menjadi tunanganmu.. Kita akan menyelenggarakan pernikahan yang sudah kita rancang dalam waktu dekat ini.. Kenapa kamu masih curiga?"
"Aku bukannya curiga, tapi..."
"Sssh, sayang. Sudah. There's nothing wrong, okay? I love you, that's all" kamu lagi-lagi tersenyum manis dengan senyum beracunmu yang tanpa kusadari, membunuhku perlahan-lahan dengan kenaifan.

"Kau menungguku menunggu ku terjatuh
Setiap langkah tertuju setia dalam menunggu
"

---

Aku menutup pintu kamar kost-ku yang sudah penuh sesak dengan barang-barang pemberianmu. Bantal, ransel, celengan, gitar, dan barang-barang lainnya yang jika dijajarkan bersama, dapat dikategorikan dari 'Barang penting' ke 'Barang tidak penting'. Semuanya kamu. Aku duduk di pojok berdebu kamarku, satu-satunya gelintiran sentimeter persegi yang tidak tersentuh oleh barang-barang pemberianmu.
Di sana, aku duduk, memejamkan mata.
Bayanganmu dan laki-laki itu kembali muncul. Segala keanehan dan keganjilan yang terjadi kepadamu akhir-akhir ini juga muncul ke permukaan. Sering menghilangnya kamu, gerak gerikmu, hingga yang terjadi tadi sore: Harummu yang berbeda.
Aku membuka mataku, tiba-tiba merasa ingin muntah.
Aku muak. Terlalu muak olehmu yang sudah muak mencintaiku. Terlalu muak oleh semua kepura-puraanmu.
Kuambil telepon genggamku dalam hitungan detik, kemudian..
"Halo sayaaang" suaramu yang ceria menyapa panggilanku. Tetap menyenangkan, namun tidak lagi menenangkan.
"Kamu di mana?"
"Masih di kantor niiih"
"Selarut ini?"
"Iya, kan kemarin sudah aku ceritakan, sayang.. Ada apa kamu tumben nelepon? Nanti telepon lagi mau, ya? Aku lagi meeting"
"Nggak, tidak perlu, aku hanya ingin menyampaikan satu hal"
"Apa itu sayang? Please say it fast, don't have pretty much time"
"Aku mencintaimu. Maafkan aku sudah melemparkanmu dengan segala prasangka buruk"
"Aaah, sayaaang. I love you too. Besok malam kita ketemu, ya. Aku balik meeting dulu. Dadaaah"
Tanpa aba-aba, kamu menutup teleponnya. Aku tersenyum. Senyum bengis, lebih tepatnya. Kalau saja kamu tahu mengapa aku lebih memilih untuk meminta maaf dan mengatakan bahwa aku mencintaimu, sama jawabannya seperti, 'kalau kamu bisa berpura-pura selama ini terhadapku, mengapa aku tidak?'.


"Aku menunggumu menunggumu menunggumu mati
Di depanku di depanku di depanku.."


---

Pukul 3 pagi.
Telepon genggamku berdering. Aku terkaget dan bangun. Sebuah telepon masuk. Nomor teleponmu.
"Halo?" Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku untuk menjawab telepon itu.
"Halo selamat malam. Betul dengan saudara Erlangga?" Sebuah suara yang tak kukenal namun terdengar berat dan berwibawa berbicara denganku.
"Iya betul, siapa ini?" aku terkaget. Apakah kamu diam-diam sudah menjadi laki-laki?
"Saya dari kepolisian, menemukan telepon genggam ini di dalam tas korban" sayup sayup terdengar suara sirine. Aku membelalak. Ada apa ini?
"Sebentar. 'Korban'? Maksud Anda apa?"
"Pemilik telepon genggam ini mengalami kecelakaan, seorang perempuan, dan ketika kami cek telepon genggamnya, nomor Anda yang terakhir ada dalam daftar panggilannya"
"Mariska? Kecelakaan? Apa yang terjadi, Pak? Tolong jelaskan. Sekarang di mana Mariska berada?!" aku mulai panik.
"Korban sudah dilarikan ke rumah sakit, lalu........."
Percakapan berlanjut. Aku mendapatkan alamat rumah sakit tempat kamu mendapat tindakan gawat darurat. Dengan motor teman yang kupinjam, aku menuju rumah sakit.. Tunggu aku, sayang.

Aku menemui pihak kepolisian yang tadi menelponku. Kamu mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak trotoar kemudian tiang penyangga jalan layang. Ternyata kamu tidak sendiri, namun bersama seorang laki-laki  yang aku curigai selama ini. Si laki-laki meninggal di tempat, sementara kamu masih sempat diselamatkan dan dilarikan ke rumah sakit. Keadaanmu sangat kritis, kata mereka. Pendarahan di mana-mana. Setelah menghubungi keluarganmu, aku memilih untuk memisahkan diri sejenak dan duduk di kafetaria dengan segelas kopi hangat, sampai akhirnya ibumu meneleponku dan memberitahu bahwa kamu sudah sadar dan ingin berbicara denganku.
"Erlangga.." kamu mencoba tersenyum, walau robek di mulutmu tidak dapat kuhindari untuk tidak kulihat.
"Jangan berbicara dulu, kamu masih terluka" aku mencoba tenang, walaupun kepalaku berdenyut kencang. Aku tidak tahu aku harus marah atau sedih atau tetap berpura-pura kepadamu.
"Maaf...kan...ak....." kemudian kamu terbatuk hebat, mulutnya mengeluarkan darah. Setengah berteriak, aku memanggil dokter. Seluruh keluargamu langsung berkumpul dan terlihat panik, sementara aku memilih untuk diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kasihan kamu. Namun, mengingat apa yang sudah kamu lakukan kepadaku.... Ah, apa yang harus aku lakukan?

Dokter meminta kami semua keluar ruangan. Ibumu terisak sedih. Aku memilih untuk duduk dan membenamkan kepalaku ke dalam telapak tanganku. Kepalaku terasa semakin sakit. Tidak lama kemudian, dokter keluar. Kami semua bangkit dari tempat duduk, menunggu kabar, apapun itu..
"Mohon maaf, semuanya. Mariska telah pulang ke pelukan Yang Maha Kuasa.."
Seketika tangis ibunya meledak. Aku masih diam. Tuhan, ada apa ini?
Dokter menghampiriku dan memberi isyarat untuk agak menjauh dari kerumunan anggota keluarganya.
"Saya minta maaf atas apa yang telah terjadi. Saya sudah berusaha sekuat apa yang saya bisa, namun Mariska dan calon anak kalian tidak dapat terselamatkan.."
Dunia mendadak terasa hening. "Calon anak kalian?" aku mengulang perkataan sang dokter.
"Betul, Pak. Anda suami dari Mariska, benar? Sebenarnya dia tengah mengandung, namun akibat kecelakaan itu, dia dan sang jabang bayi tak dapat terselamatkan.."
Perempuan jalang.
Aku tidak pernah menyentuhmu sedikitpun dan kamu ternyata telah hamil?
Aku mengangguk kepada dokter itu, lalu memilih untuk menyelesaikan permainan yang akhir-akhir ini menjadi permainan favoritku: Pura-pura mencintaimu. Aku membantu pengurusan acara pemakamanmu. Aku tidak tidur selama dua hari. Mataku berat, kepalaku sakit, tapi semua ini tidak seberapa dibandingkan semua kebohongan yang kita rancang dengan cara masing-masing..

"Apa yang kau lakukan dibelakangku
Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku?
"

---

Aku duduk diam di depan pusaramu. Menebar bunga dalam genggam terakhir kemudian menyiramnya dengan sebotol air mawar. Aku menunduk, memejamkan mata, lalu memanjatkan doa untukmu, Mariska. Kutatap tanah yang masih merah dan hangat itu, kemudian tanpa sadar aku berbisik,
"Kamu jalang, tapi bagaimanapun, aku mencintaimu. Selamat jalan, Mariska.."
Aku bangkit, pamit kepada Ibumu, kemudian pergi meninggalkan semua tentangmu, di belakangku.

31 May 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #2 - Susi

Kepada yang terkasih, Mas Sersanku yang gagah, Djatmiko..

What's up, Mas? Jangan kaget kalau aku sedikit berbahasa Inggris, karena di sini ada tamu dari Pak Kades yang berasal dari Amerika. Orangnya seumuran kamu, tinggi, rambutnya warna cokelat, matanya warna biru, giginya warna kuning.. Tapi tetap setampan dan segagah apapun dia, tidak bisa mengalahkan pesonamu terhadapku.

Aku kadang berpikir, kamu di sana sendiri, apa bisa kamu merawat dirimu sendiri? Apa makanmu teratur? Apa kamu mencuci pakaianmu dengan bersih? Apa kamu menyetrikanya dengan rapih? Apa tidurmu cukup? Apa kesehatanmu terjaga? Apa kamu mengurangi konsumsimu akan kopi?
Di tengah seluruh pertanyaan ini, ada satu pertanyaan terbesar yang terus berputar di kepalaku, Mas..
Apa kamu tidak tergoda untuk mencari penggantiku?
Karena kita semua pun, maksud dari "kita" di sini adalah aku, kamu, dan rumput yang bergoyang ke kanan dan ke kiri seiring irama kopi dangdut, tau kalau tidak mungkin lelaki sepertimu tidak menarik perhatian perempuan. Apa kamu tidak tergoda untuk menggantikanku dengan seseorang yang senantiasa akan lebih dekat denganmu, setia menemanimu dan rela berkorban lebih banyak daripada aku, untukmu?
Aduh mas, maaf aku lagi insekyur. Ini juga aku tidak tau bagaimana cara penulisannya. Cuma si bule cengengesan itu yang kasihtau aku kalau aku ini insekyur..

Kapan kamu akan dipindahkan ke Aceh? Itu tandanya cinta kita akan berjarak MAKIN ujung ke ujung? Lalu bagaimana jika suratku tidak sampai? Bagaimana jika Pak Pos-nya malas mencari alamat? Bagaimana jika suratku atau suratmu terjatuh di antara surat yang hendak dikirim? Bagaimana nanti kita bisa terus bertahan, Mas?

Aku tidak tahu apa yang membuatku insekyur seperti ini, tapi aku rasa, kamu bisa mengerti. Martabak manis mana martabak manis.


Peluk hangat namun insekyur untukmu,
Susi Marina Dewi






Dalam keadaan insekyur luar biasa
---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini

11 July 2010

Fiktif #3: "Hape Obama"

Saya duduk. Kamu duduk, di sebelah saya pastinya.
Tidak, bukan di sebuah bukit penuh bintang bercengkrama, bukan juga di padang rumput luas dengan bulan tunggal memancarkan sinarnya.
Di pasar tradisional, sebelah penjual sayuran, seberang pemarut kelapa.
Kita mengamati. Banyak hal. Orang lalu lalang, pembeli dan penjual yang saling berinteraksi, kamu bilang kamu suka bunyi mesin pemarut kelapa di seberang kita, saya bilang saya suka bunyi pisau tajam menghantam leher ayam yang tak jauh dari tempat kita duduk sekarang. Lalu, kamu bilang saya sadis. Perempuan sadis.
Saya tak peduli. Saya seruput kopi hitam saya. Kamu, yang bukan penyuka kopi, memesan teh manis hangat.

Kita mendiskusikan banyak hal. Harga cabe yang menurut kita tidak sepadan dengan jumlahnya, kucing belang dua warna di depan kita dengan dominan warna putih dan sedikit coklat. Kita berdebat tentang hal itu. Kamu bilang kucing itu warna putih dengan motif coklat, saya bilang sebaliknya. Sampai ada seorang bapak tua tukang angkut sampah lewat di depan kita. Orang sekitar kita menutup hidung mereka, tapi tidak dengan kita. Bapak itu tersenyum kepada kita, dan berlalu. Kamu tertegun pilu. "Bagaimana seorang tua seperti itu bisa menarik gerobak sampah sebesar dan sebau itu?", katamu. Saya tertawa. "Itu memang garis hidupnya, hey laki-laki melankolis" saya menanggapi. Kamu mendengus dan bilang bahwa saya tak berperasaan. Saya kembali tak peduli. Saya bilang,"Bapak itu, memang disitu rejekinya. Pasti ada sesuatu dengan hidupnya sehingga dia, menurutmu, 'hanya' menjadi tukang angkut sampah. Tapi toh, dia tersenyum. Walaupun terlihat miserable, tapi menurutku, justru orang seperti itu yang dapat lebih mensyukuri hidup". Saya kembali menyeruput kopi hitam saya. Kamu memperhatikan saya. Tidak melakukan apa-apa selama 5 detik, lalu mengacak-acak poni saya. Selalu seperti itu jika kamu sudah tidak bisa melakukan apa-apa untuk perdebatan kita.

Saya nyengir. Kamu terbahak. Ada ampas kopi menempel di gigi saya, katamu. Saya tak peduli, lagi. Saya bilang, sekalipun ada gajah yang menyempil di sela-sela gigi saya, saya yakin kamu akan tetap bersama saya di sini, dengan gajah diantara kita berdua, pastinya.
Sekarang gantian kamu yang nyengir. Saya tidak melihat apapun yang nyangkut di sela-sela gigi kamu untuk ditertawakan, sialnya.
Pasar ini makin ramai. Bunyi mesin pemarut kelapa makin intens dan bising sehingga saya tidak bisa lagi mendengar bunyi hantaman pisau tajam yang menghantam leher ayam yang menjadi sound effect favorit saya. Saya protes, kamu diam. Saya cemberut, kamu hanya melirik.

Di depan kita terdapat penjual mainan anak-anak. Ada anak kecil, sekitar umur 3 tahun, merengek ke ibunya untuk dibelikan mainan handphone bohongan. "Hape Obama", tertulis di bungkusnya. Bentuknya mirip BlackBerry, kalu keypad 3 dan 9 dipencet, akan keluar bunyi kucing mengeong. Lain lagi jika 1 dan 7, jika keypad itu dipencet, akan keluar suara auman singa, dan beberapa jingle anak-anak yang bahkan saya tak mengerti bunyinya seperti apa. Absurd.
Sang ibu menolak untuk membelikan sang anak mainan. Uangnya gak ada, kata ibu itu. Sang anak merengek, sang ibu masih bertahan dengan keputusannya. Sang anak mulai menangis, sang ibu mulai menambahkan alasan,"Nanti kalau beli "Hape Obama" ini, kamu gak bisa jajan," sang anak tak perduli, ia mulai berteriak. Orang-orang sekitar menengok, mereka berdua menjadi pusat perhatian. Sang ibu menarik anaknya untuk pulang, sang anak meronta. Saya menyeruput kopi, tanpa menyadari bahwa saya sekarang duduk sendiri. Kamu, tiba-tiba sudah ada di depan anak dan ibu itu, mencoba menenangkan sang anak. Ya, sudah saya duga, kelembutan hatimu tidak bisa melihat anak itu 'menderita' lebih lama lagi. Kamu, membelikan "Hape Obama" untuk anak itu. Memberikannya dengan senyum teduh yang menjadi ciri khasmu. Anak kecil itu berhenti menangis. Ia tersenyum, lalu memelukmu. Kamu terlihat sangat bahagia, sampai.....
Kantong plastik berisi kangkung, cabai, petai, dan jahe menghantam wajahmu. Sang ibu pelakunya, ternyata.
Kamu tak mengerti, bahwa ia merasa terhina, juga merasa urusannya dicampuri. Sang ibu bilang, saya tidak suka sama orang sok pahlawan. Direbutnya "Hape Obama" dari tangan anaknya lalu dikembalikan ke kamu. Ia gendong anaknya yang mulai menangis lagi dan berjalan pulang, meninggalkan kamu yang tertegun.

Kamu terlihat bingung dan bodoh, dengan adanya "Hape Obama" di tangan kamu itu. Saya disini, di sebelah ibu penjual sayur, setengah mati menahan senyum. Kamu kembali untuk duduk di depan saya, masih dengan ekspresi tak mengerti. Kamu bilang, ibu itu tega. Saya bilang, ibu itu bertindak dengan seharusnya.
Kamu, lagi-lagi, bilang saya tidak berperasaan. Kamu bilang, saya akan menjadi ibu yang sangat buruk karena membiarkan anak saya menangis merengek meronta tanpa memenuhi apa yang menjadi keinginannya.
Dengan memandang sepasang matamu yang bersorot teduh itu, saya bilang, bahwa ibu itu bukannya tidak mampu, atau tidak mau menuruti. Ia juga bukan ibu yang buruk. Ia hanya tidak ingin melatih anaknya menjadi anak yang manja. Toh sampai dirumah nanti sang ibu akan memasak makanan favorit anaknya dan membuatnya tersenyum lagi, dengan hal lain. Sang ibu, yang tadi aku lihat di kantong plastik belanjanya terdapat jeruk dan mangga, akan membuat es bon-bon, yang aku yakini menjadi favorit anaknya juga. Kamu harus tau, bahwa tidak semua pilihan utama dapat menjadi jalan keluar. Kadang pilihan alternatif bisa menunjukkan kita hasil yang lebih baik. Dan ibu itu, membuktikannya.
Kamu memandangi saya. Terdiam, lalu kembali mengacak-acak poni saya. Saya tersenyum bangga, telah mengalahkanmu setuju kepada saya dalam dua argumen.

Pasar ini menjadi semakin ramai. Bisingnya mesin pemarut kelapa sudah tidak bisa ditolerir lagi. Kita sudah tidak bisa menikmati apa-apa disini, katamu. Saya setuju. Kita berdebat lagi, tentang siapa yang boleh membayar kopi dan teh ini. Kamu merasa, bahwa kamu laki-laki, memiliki 'tanggung jawab' untuk membayar. Saya merasa, saya tidak ingin 'menyerahkan' diri saya sendiri kepada kamu seharga kopi dan teh ini, juga memiliki argumen yang sama. Ibu penjual kopi dan teh senyum-senyum melihat kelakuan kita, kamu tidak malu? Sampai pada akhirnya, kamu meletakkan dua lembar seratus ribu rupiah di atas meja ibu penjual kopi itu, dan bilang,"Kamu sekarang gak merasa murah-murah amat, kan?". Gantian saya yang diam, ibu itu yang nyengir lebar. Kamu merapihkan poni saya yang daritadi sudah tidak karuan bentuknya, lalu merangkul saya, di bahu. Kita berjalan beriringan, meninggalkan pasar itu.

Berjalan ke parkiran, lalu masuk ke dalam mobil, kamu memainkan "Hape Obama" dan lalu kembali melontarkan pertanyaan,"Apa mungkin, suatu saat nanti, kamu atau aku, atau bahkan kita berdua, bisa bertemu Obama?" gantian saya yang terbahak. Kamu terlihat bingung, apa ada yang salah, tanyamu. "No, nothing's wrong. With those dreams and smart thoughts, you will" kata saya. Kamu protes, kenapa saya tak mau ikut. Saya bilang, saya gak ngefans sama Obama. Kalaupun saya jadi kamu, saya tidak akan menghabiskan banyak waktu dengan Obama. Saya hanya akan memberikan "Hape Obama" itu kepadanya, lalu pergi. Tanpa tanda tangan, tanpa foto bareng. Saya menambahkan, jika saya ke Amerika sana, saya akan lebih tertarik berfoto dengan badut theme park atau street performers. Atau dengan penjual kopi di pinggir jalan, atau dengan anak bule yang sedang belepotan es krim, kalau bapaknya duda ganteng, sama bapaknya juga boleh.
Kamu menjitak saya. "Dasar perempuan", katamu. Meletakkan "Hape Obama" di dashboard, menyalakan mesin, memutar lagu Iwan Fals favoritmu, lalu kita pulang.

Pulang, dengan sejuta cerita dan rencana selanjutnya di kepala kita yang besarnya tak seberapa, namun mampu meresapi indahnya dunia.
P.S: postingan ini dibuat dengan iringan lagu-lagu Suede. Yes, i'm in love with Brett Anderson. That gay vocalist yang ingin saya minta untuk menikahi saya.

01 April 2010

video: random dance with Ayank Jude.

Saya lagi browsing iseng-iseng, eh nemu temen saya dibikinin video kayak gini di facebooknya. Saya iseng, klik websitenya, klik sana sini, dan lalu..... TA DAAAAA!! Jadilah video dancing saya yang hampir HITS ini. Just check it out, people! :D



Personalize funny videos and birthday eCards at JibJab!

Iya, partner saya disini Jude Law, settingannya jadi spouse pula. emang saya sama dia cocok sih, liat aja muka kita mirip, jodoh berarti..
*nyiapin ember buat yang mau muntah*

20 January 2010

Fiktif #1 : Bella Luna.

"Mystery the moon, a hole in the sky..
a supernatural nightlight, so full but often wry..
a pair of eyes a closing one, a chosen child of golden sun..
a marble dog that chases cars to farthest reaches of the beach
and far beyond into the swimming sea of stars.."




Saya duduk sendiri, di restoran, bukan, rumah makan bebek, sendiri.
Bukannya mau sok ansos atau gak punya temen, tapi emang temen saya gak ada yang mau nemenin saya makan bebek hari gini. Mereka lebih milih ke coffee shop atau nonton film. Blah.


Diiringi sama pengamen yang nyanyi lagu favorit saya sama kamu, Bella Luna. Tumben banget ada pengamen jalanan yang tau lagu ini. Biasanya pengamen lain gak jauh-jauh dari Peterpan, Slank, dan ST12 (no offense, saya juga suka sama lagu-lagu mereka, really).
Dan di sela-sela malam yang agak mendung dan kepedesan bebek bakar, saya yang duduk di pojokan belakang, terbawa ke beberapa bulan yang lalu, ketika kita mendiskusikan lagu ini. Kamu yang bilang nadanya lembut dan saya yang membantah dengan bilang bahwa justru nadanya bikin goyang swing, dan kamu terbahak ketika saya bahkan tidak bisa mendeskripsikan seperti apa goyang swing itu.


DANG! Kepala saya langsung sakit. Bukan karena terbentur, tapi karena saya mengalihkan sakit hati saya ke kepala. Kamu jahat. Kamu pergi. Kamu hilang. Bahkan, diluar alam sadar saya, saya berharap kalau kamu meninggal. Biar kamu nggak bisa datang lagi ke hidup saya dengan wujud yang nyata. Biar perjuangan saya setengah mati menahan air mata dan teralihkan menjadi sakit kepala ini terbayarkan. Impas.


"Oh Bella, Bella please..
Bella you beautiful Luna
Oh Bella do what you do.."


Saya mengambil batangan tembakau itu dari tas saya. Membakarnya, lalu mengkonsumsinya. Saya bahkan lupa beberapa menit yang lalu saya lagi sibuk megap-megap kepedesan sambel bebek. Saya juga lupa kalo saya sudah berjanji untuk mengurangi konsumsi tembakau ini. Tapi saya gak lupa raut wajah kamu ketika memergoki saya sedang menghisap tembakau berinisial M.L itu.


Anak kecil yang duduk di 3 meja depan saya sedang asyik menikmati segelas segar es campur, sementara ibunya sibuk sendiri menikmati bebek goreng cabe hijau, yang hebatnya, sama sekali gak megap-megap kepedesan kayak saya. Ada 2 kemungkinan di otak saya: Ibu itu pintar mengendalikan emosi sehingga nggak keliatan kalo lagi kepedesan, atau ibu itu memang ratunya cabe. Melihat anak kecil itu, saya jadi ingat kamu yang suka anak kecil, kamu yang punya angan-angan mau jadi guru TK dan saya mentertawakannya. Setelah itu, kamu ngambek 3 hari.


Another DANG comes to my head.


"May I suggest you get the best
of your wish may I insist at no contest for little you or smaller I
a larger chance set, but all them may lie
on the rise, on the brinks of our lives.."


Kepala saya makin sakit. Saya matikan batangan tembakau itu dan berjalan ke arah kasir, dan membayar sepiring bebek dan segelas es teh manis yang saya nikmati tadi. Dengan kepala cenut-cenut, saya mengantri untuk membayar dengan si pengamen melantunkan bait terakhir lagu kesukaan kita, tidak. Itu lagu kesukaan saya sekarang. Cuman saya.


"Bella Luna, my beautiful beautiful moon
how swoon me like no other.."


Saya sudah selesai membayar, dengan kembalian yang cukup banyak di tangan saya. Berjalan menjauhi kasir, saya mendengar pengamen berbicara, "Saya tau ibu-ibu atau bapak-bapak sekalian nggak tau lagu ini, tapi saya rasa lagu yang barusan saya bawakan dapat menenangkan hati yang sedang gundah."


Berjalan ke arah pengamen, saya bilang, "Saya tau lagu ini mas. Lagu favorit saya, tapi anehnya, saya malah jadi sakit kepala." sambil memasukan seluruh kembalian yang saya terima ke kantong kain yang disiapkan sang pengamen untuk menampung imbalannya, saya berjalan keluar, ke arah mobil saya. Masuk mobil, menyalakan mesin mobil dan mengemudi keluar restoran Oh, sudah turun gerimis kecil-kecil ternyata. Air turun dari langit berbarengan dengan hilangnya sakit kepala saya, dan mengalirnya airmata pertama setelah kamu pergi..