25 April 2020

#ReviewnyahToskah: Lemantun

Saya baru saja menonton film ini di YouTube:


Judulnya Lemantun, bahasa Jawa yang artinya "Lemari". Tentang 5 (lima) orang anak yang menerima warisan lemari dari ibunya yang sudah tua. Dulu katanya ibunya beli lemari tiap anaknya lahir. Tidak dijelaskan di film pendek berdurasi 21 menit ini siapa saja nama-nama lengkap dari masing-masing anak, namun yang jelas, keempat anak-anak dari Ibu ini sudah berprestasi dan sukses dengan profesi di bidangnya masing-masing. Salah satunya anak terakhir, dr. Titik, yang berprofesi sebagai....dokter. YA DOKTER DONG, MASA BEAUTY VLOGGER? Walaupun bisa juga sih dokter jadi beauty vlogger, namun bukan itu point saya.



Ada satu anak, namanya Tri. Usianya sudah lumayan tua, mungkin sekitar akhir 40-an. Di antara keempat saudaranya, Mas Tri ini adalah yang paling terlihat tidak sukses di bidang karir dan ekonomi. Pekerjaannya 'hanya' jual bensin eceran di depan rumah, dia pun masih tinggal bersama ibunya. Tidak seperti keempat kakak-adiknya yang masing-masing sudah pindah rumah dengan kesuksesannya masing-masing.

Kelima anak Ibu Lemari ini pun mendapatkan lemari yang dipilih secara random pakai gulungan kertas seperti arisan. Mungkin kalo jaman sekarang, pemilihan random bisa dilakukan menggunakan roulette online. Jadi berasa di Casino-casino gitu..
*digebukin Paguyuban Bandar Judi Nasional, yang disingkat dengan PBJN. Tentu saja ini adalah paguyuban fiktif. Kalaupun beneran ada, pasti pergerakannya underground*

mas Tri membantu keempat saudaranya untuk memindahkan lemarinya saat itu juga, atas permintaan Ibu Lemari. Di film ini digambarkan betapa Mas Tri adalah orang yang penuh dengan compassion terhadap keempat saudara kandungnya, yang tentu saja, disalahgunakan oleh mereka bahkan dalam film ini terlihat adegan Mas Tri dibicarakan di belakangnya. Seperti,"Mas Tri tuh kegiatannya apa, ya?" dan salah satunya menjawab dengan,"Ya, masih seperti itu. Jualan bensin begitu kok" dengan bahasa Jawa dan ekspresi wajah yang nyinyir. INDONESIA BANGET BEB, SAUDARA BANYAKAN DIKIT, DIGIBAHIN. DIMANFAATIN PULA GA PAKE TENGKYU.
*elus-elus dada*
*dada Chris Hemsworth*
*eh ga jadi deh, terlalu kotak*

Mas Tri juga membantu saudara-saudaranya untuk mengangkut lemari satu persatu. Keempat saudaranya tentu saja tidak membantu, sibuk dengan dirinya masing-masing. Ada satu adegan di mana Mas Tri membawakan bensin untuk salah satu angkutan yang membawa lemari kakaknya, namun ditinggal begitu saja sebelum Mas Tri pulang membawa bensin yang dibutuhkan. DI SINI HATI SAYA SUDAH MULAI PERIH, PEMIRSA.

Keempat saudaranya pulang, hanya tinggal Mas Tri dan Ibu Lemari di rumah. Lemari yang didapat Mas Tri terletak di dapur, terlihat Mas Tri lagi sibuk mau mindahin lemarinya, sendirian. YA KARENA KEEMPAT SAUDARANYA UDAH PADA PULANG GA ADA YANG BANTUIN BISANYA CUMAN KOMENTAR DOANG EMANG BANGSAT LU PADA YA.
*emosi mulai tak terbendung*
Ibu Lemari pun bingung mo ngapein nih anak ketiga gue dorong-dorong lemari, batinnya. Ternyata Mas Tri 'dikomentari' sama kakaknya untuk memindahkan lemari warisan yang ia dapat, ke tempat lain. "Supaya tidak jadi beban Ibu", kurang lebih katanya begitu. YEEE, UDAH GA ADA KONTRIBUSI, NGATUR PULA. JANGAN MENTANG-MENTANG ANAK PALING TUA LO RASA LO PUNYA HAK BUAT NGATUR IDUP ORANG YA! REPOT!
*dan pahala puasa hari ini pun gugur seketika*
*eh jangan dong*
*lumayan lho hausnya hari ini*

Oke, lanjut.
Ibu Lemari pun bersabda bahwasanya Tri tidak perlu memindahkan lemarinya kemana-mana, karena dia kan tinggal di rumah itu. Ya bener juga, saya sempat mikir kenapa Mas Tri repot-repot mau memindahkan lemari padahal dia masih tinggal di rumah yang sama, namun karena dia orang yang compassionate dan selfless membuat dia merasa tidak enak kepada ibunya karena itu lemari masih aja kongkow di rumah ibunya.

Dan tak lama, terlihat scene di mana lemari-lemari yang menjadi warisan dari Sang Ibu di keempat saudara kandung Mas Tri, terlihat lusuh dan tidak terawat. Ada yang sudah dijadikan loakan, ada yang dijual di pinggir jalan, dan ada juga yang berdiri tanpa arti di salah satu ruangan kerja. Hanya lemari Mas Tri yang memiliki fungsi, yaitu menjadi display bensin dagangannya. JANGAN TANYA SAYA SE-NANGIS APA DI SCENE INI, PEMIRSA. Untung pas saya nulis post ini, sudah buka puasa.

***

Film ini, sangat penuh dengan rasa haru dan menyentuh, terlebih untuk anak yang cengeng kalo udah bahas keluarga kayak saya. Sosok Mas Tri, tentu saja mengingatkan saya kepada ayah saya. Beliau anak ke-6 dari 8 bersaudara, dengan 2 kakak laki-lakinya yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini di tahun 2006. Ayah saya merupakan laki-laki Jawa pada umumnya. Pemikir, bertutur kata halus, dan sangat memperhatikan keluarga: Ibunya, kakak-adiknya, juga istri dan anak-anaknya termasuk saya. YA IYA DONG TERMASUK SAYA, KALO SAYA NGGAK TERMASUK, NGAPAIN SAYA NULIS DI SINI.
*tenggak sirup lychee*
*sugar rush*

Ayah saya, seorang laki-laki yang tidak pernah berubah sejak dahulu: selalu membuat kami merasa nyaman dan baik-baik saja, yang mana baru sekarang-sekarang ini saya tau, bahwa, we're not. He's always been able to cover everything by himself. Dulu mah waktu saya kecil ya saya asik-asik aja nggak ngerti apa yang sedang terjadi. Yang penting sekolah males-malesan dan bolos sekolah juga kursus demi dibilang eksis di pergaulan. Sekarang setelah saya dan adik saya semakin banyak umurnya (baca: tua), kami belajar bahwa ayah kami adalah laki-laki paling hebat yang pernah kami temui. 

Sosok pria yang sederhana, nggak neko-neko, dan nggak suka minum boba. Takut keselek katanya. 
*keselek sedotan boba*
Saya tidak pernah mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi keluarga kami dulu waktu saya masih lebih muda, namun ketika sekarang saya mendengar cerita-cerita dari ibu saya, saya langsung lemas karena kalau saya menghadapi masalah yang dihadapi ayah saya waktu itu pun, mungkin saya sudah nabung buat beli bazooka. Ayah saya se-sabar dan se-legowo itu bahkan ketika dijahatin sama orang.
*di sini orang-orang yang kenal dekat dengan saya mulai menggumam,"Sifat itu yang gak turun ke si Anita tuh*
YA EMANG. TERUS KENAPA. MASALAH? HAH? HAH?
*panasin excavator*

Dari dulu, saya selalu berkata kepada diri saya sendiri bahwa saya tidak ingin menjadi seperti ayah atau ibu saya. Karena mereka terlalu protektif, naif, dan konservatif. Namun ketika saya menulis tulisan ini, saya sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. Not even close. Mereka terlalu hebat dan bisa menjalani permasalahan dengan undercover tanpa ketahuan sama anak-anaknya. Sayang aja sekarang mereka udah terlalu tua untuk daftar jadi secret agent
*ditembak di kepala*

***

Film Lemantun ini, sangatlah recommended untuk ditonton. Memang film lama, tahun 2014. Namun konflik dan jalan ceritanya masih sangat relevan, terlebih jika disandingkan dengan kondisi sekarang. Bulan Ramadhan, permasalahan global yang sangat memiliki efek terlebih pada kehidupan perekonomian. Ketika saya menonton film ini di tahun 2016 di Kineforum IKJ, saya menangis karena terharu dan kasihan sama Mas Tri. Namun 4 tahun setelahnya ketika saya menonton di YouTube, tangisan saya lebih dalam dan sendu lagi. Karena selain kasian sama Mas Tri, saya merasa haru karena sosoknya yang mirip dengan ayah saya. Bersyukurlah kalian yang masih bisa dekat dengan keluarga dengan segala kesulitan yang terjadi. Karena di luar sana, masih banyak yang tidak bisa ada untuk keluarganya through thick and thin, and even worse, tidak peduli dengan keluarganya sama sekali, seperti keempat saudara kandung Mas Tri. Setelah menonton film ini, saya belajar bahwa kesedihan terdalam bukanlah kehilangan, namun ketidakpedulian. Silakan ditonton filmnya, dan menangislah bersama saya ketika melihat scene ini nanti:


Bisa klik foto ini untuk menonton filmnya

ADIOS, TILCIKERS*)!


*) otentu saya masih menyimpan istilah ini untuk kelen para pembaca blog saya. You're trapped with my weirdness in this shit. HA!