08 May 2021

Ale: The Closure

Bukan tentang siapa yang salah.
Tentu juga bukan tentang siapa yang mengalah.
Kita sudah sepakat, kita juga yang tentukan waktu.
Namun saya tidak menyangka bahwa
ternyata kamu,
se-istimewa itu.

Saya tidak memiliki apa-apa selain waktu,
untuk menerima semua yang sudah lalu.
Jangan minta saya mengumpulkan energi untuk beranjak
karena jelas sang intuisi masih bersikeras menolak.

Luka ini, adalah luka yang belum pernah saya temui.
Sama seperti bahagia terhadapmu,
sayang, kamu tidak tahu betapa saya berharap ini semua hanya mimpi.

Saya tidak tahu apa rencana dari Yang Maha Kuasa
Dia senantiasa dengar isak saya.
Namun jika memang jalan untukmu sudah tersedia,
ya saya bisa apa..

22 August 2020

Ale

Teruntuk kamu.

Kamu datang dengan tenang namun serta merta, telah mengisi hari-hari saya dengan detak jantung yang berlomba-lomba dan tak acuh irama. 

Kamu, membuat aliran darah saya naik cepat ke kepala, hanya dari memandangi matamu ketika kamu berbicara. 

Kamu, yang membuat saya menoleh ke kiri setiap kali saya pulang, hanya untuk melihatmu dan merasa tenang. 


Kamu sudah tau apa yang saya rasa setiap kamu hadir di dekat saya. 

Kamu sudah tau bahwa kamu adalah istimewa yang berbeda, karena kamu tidak hanya datang, namun juga menghadirkan ruang. 

Kamu sudah tau bagaimana saya tidak ingin kamu beranjak, karena lembutmu telah membuat saya kembali berpijak.


Pada tulisan saya yang ini, saya bercerita tentang bagaimana saya, untuk pertama kalinya melihat orang yang sama sekali tidak saya kenal, sangat memasrahkan hidupnya pada Yang Maha Memiliki: Doa yang terdengar nestapa, air mata yang mengalir tanpa jeda, berlindung lemah pada sujud yang bersimpuh luruh. Semua terjadi di depan mata saya, menyadarkan saya bahwa hidup ini memang bukan milik kita. Semua rasa yang dirasa, asa yang dipuja, tidak pernah benar-benar kita punya.  


Teruntuk kamu, yang baru saja mendengar isak khawatir saya.


Saya tidak tau Dia memiliki rencana dan kehendak apa untuk kita, namun saya ingin menikmati hadirmu dengan seksama. Saya juga mau kamu tau bahwa kamu membuat saya merasakan jenis nyaman yang belum pernah saya raba, dengan cara yang belum pernah orang lain tawarkan kepada saya sebelumnya. 


Kamu, membuat saya merasa utuh.

Karenamu, saya menjadi perempuan paling bahagia di dunia.

25 April 2020

#ReviewnyahToskah: Lemantun

Saya baru saja menonton film ini di YouTube:


Judulnya Lemantun, bahasa Jawa yang artinya "Lemari". Tentang 5 (lima) orang anak yang menerima warisan lemari dari ibunya yang sudah tua. Dulu katanya ibunya beli lemari tiap anaknya lahir. Tidak dijelaskan di film pendek berdurasi 21 menit ini siapa saja nama-nama lengkap dari masing-masing anak, namun yang jelas, keempat anak-anak dari Ibu ini sudah berprestasi dan sukses dengan profesi di bidangnya masing-masing. Salah satunya anak terakhir, dr. Titik, yang berprofesi sebagai....dokter. YA DOKTER DONG, MASA BEAUTY VLOGGER? Walaupun bisa juga sih dokter jadi beauty vlogger, namun bukan itu point saya.

21 February 2020

One Magical Journey

Orang bilang Umrah adalah perjalanan spritual yang maknanya tidak akan sama pada tiap orang. Saya, sebagai orang yang beragama namun tidak terlalu taat, menganggap Umrah hanyalah sebuah ‘liburan’ biasa dengan latar belakang agama. Setidaknya, pemikiran tersebut menetap di pikiran saya hingga saya mengalaminya sendiri. Saya baru saja kembali dari menjalani ibadah Umrah bersama keluarga: orang tua dan adik saya. Pesawat kami landing tadi pagi, 20 Februari 2020, pukul 09.30 pagi.

Hari-hari pertama menjalani rangkaian wisata ibadah ini memang menyenangkan: kami landing di Madinah, jarak dari airport ke hotel tidak terlalu jauh, dan yang paling penting, jarak dari hotel tempat kami menginap ke masjid Nabawi, hanya 1 menit jalan kaki. Dekat sekali sampai kami bisa mendengar adzan yang berkumandang dari kamar kami. Suhu udara masih sejuk cenderung dingin karena kami datang di mana musim dingin baru berakhir dan musim panas belum datang. Semangat sekali saya jalan kaki ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Masjidnya bagus, bersih, dan teratur. Kebanyakan orang di sana — petugas hotel, penjaga toko, sampai petugas masjid, bisa berbahasa Indonesia walaupun mendasar sekali. Saya jatuh cinta pada damainya Madinah.

Tiba pada hari ke 4, di mana kami sekeluarga bersama rombongan harus berangkat ke Mekkah. Di sini keindahan itu mulai terkikis.....

Kami harus melakukan perjalanan kurang lebih 5 jam dengan bus. Di awal perjalanan, kami sudah harus memakai baju ihram, serta larangan-larangan yang telah berlaku: tidak boleh ada sehelai pun rambut yang terlepas dari tubuh, tidak boleh ada sesenti pun kuku yang patah karena dipotong atau digigit secara tidak sadar, tidak boleh memakai wangi-wangian (ini yang paling membuat iman saya tergoyahkan, karena saya paling takut sama yang namanya bau — selalu stand by minyak wangi di tas saking takutnya badan saya bau dan mengganggu orang sekitar), dan hal-hal lainnya. 

Kami tiba di Mekkah sudah malam sekali, lalu langsung ke hotel untuk check in dan tidak lama dari situ, diharuskan untuk berkumpul lagi dan melakukan Tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali) dan Sa’i (berjalan bolak-balik bukit Safa dan Marwa, sebanyak 7 kali juga). Pengalaman pertama kali melihat Ka’bah memanglah sangatlah luar biasa. Perasaan kagum, haru, dan bahagia kurang lebih bercampur jadi satu. Jarak dari hotel tempat kami menginap ke Masjidil Haram di mana Ka’bah berdiri kokoh selama ribuan tahun di dalamnya, juga sangat dekat. Namun kedua faktor tersebut tidak bisa membuat saya menyembunyikan emosi saya dari rasa lelah dan pegal karena energi yang sudah sangat menipis. 

Kami selesai Tawaf dan Sa’i kurang lebih pukul 1 dini hari. Kaki saya mau copot rasanya. Pegel luar biasa. Saya menjadi anak yang sangat cranky dan melemparkan attitude tidak ramah kepada sekitar terutama pada orang tua saya, yang saya yakini membuat orang tua saya malu punya anak se-nyebelin itu. Kami baru tidur sekitar jam 2 dini hari, sehingga adzan subuh pun tidak terdengar dan kami sekeluarga kesiangan, padahal di dalam kamar ada speaker yang tersambung ke sound system Masjidil Haram sehingga adzan dan shalat berjamaah yang sedang berlangsung, bisa terdengar. Emang kayaknya kami aja yang agak kebo’ sih tidurnya.
*ditabok*

Tawaf dan Sa’i kedua di 2 hari setelah Tawaf dan Sa’i pertama saya jalani dengan less cranky karena sudah cukup tidur dan belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak mau membuat orang tua saya malu. Walaupun pegelnya masih nggak masuk akal, saya sampai berpikir, mungkin ini cara Tuhan kasih tau saya bahwa I’m not good enough for this. Hahaha.
*ketawa pasrah nahan nangis*

Hari-hari di Mekkah yang seharusnya lebih menyenangkan karena saya bisa merasa lebih dekat dan ‘intim’ dengan Tuhan, justru lebih berat rasanya. Karena Mekkah ini lebih padat, lebih ‘berantakan’ karena lebih banyak jenis manusia yang datang ke situ, dan suhunya tidak sesejuk Madinah, yang tentunya lebih mudah membuat saya cranky karena rame banget boooosssshhhh nggak shanggup eke. Banyak orang-orang nggak tau aturan yang main selak antrian, untuk datang dan shalat di spot yang nyaman dan beralaskan karpet pun lebih kecil kemungkinannya. Mau minum air zamzam juga ngantri banget dan berdesakan, intinya sih ya Mekkah untuk saya, tidak senyaman Madinah. Saya mulai malas datang ke masjid dan lebih memilih untuk shalat di hotel saja yang pastinya lebih sejuk dan tenang. Sempat istighfar, namun tetep aja kalo nggak bareng sama Ibu saya, saya ogah jalan sendiri ke mesjid. 

Tiba pada akhirnya di hari terakhir, hari kepulangan ke Jakarta. Namun sebelum pulang, ustadz pembimbing kami meminta kami berkumpul jam 02.30 DINI HARI lalu melakukan Tawaf Wada yang merupakan gestur ‘pamitan’ kepada Tuhan karena kami akan meninggalkan tanah suciNya. Saya sudah pasrah dan honestly, mulai mempertanyakan kenapa Tuhan menetapkan cara begini banget sih buat komunikasi. Saya menjalani tawaf dengan biasa saja, tidak ada perasaan sedih ataupun haru lagi, karena tujuan saya hanya satu: TIDUR DI PESAWAT MENUJU PULANG.
Ustadz pembimbing memberi kami 2 pilihan untuk dilakukan jika sudah selesai Tawaf: Menunggu sekitar 2 jam menuju subuh namun bisa shalat subuh sambil memandangi Ka’bah, atau balik ke hotel, tidur, dan sholat subuh di hotel saja karena kalau sudah ‘pamit’ dengan melakukan Tawaf Wada, kami tidak diperbolehkan untuk mendatangi Masjidil Haram lagi. Oh tentu saja tekad saya sudah mantap untuk BALIK KE HOTEL DAN TIDUR LAGI. Karena capek dan ngantuknya ya Tuhaaaaan!

Kami selesai Tawaf Wada, saya shalat sunnah Tawaf 2 rakaat, seperti seharusnya. Ngantuk dan capek jadi satu. Maka kalimat pertama yang saya ucapkan setelah mengucap salam di tahiyatul terakhir adalah:
“Ya Allah, capek.....”
Yang tadinya maksud saya adalah saya ‘capek’ karena tawaf ini, namun mendadak seluruh memori buruk yang saya alami, dimuntahkan semua oleh Hippocampus otak saya, seolah-olah dia bilang,”Capek? Nih semua memori nggak enak yang bikin capek NIHHHH SEKALIAN NIHHHH!” 
...
Saya menangis luar biasa, dalam diam. Setengah mati menahan isak, karena Ibu saya berjarak tidak jauh dari saya jadi kalo beliau nengok dikit, beliau bisa liat anak perempuannya lagi cirambay berlinangan air mata dan ingus. Mana gak bawa tissue, jadinya meper ingus di ujung lengan baju, kadang kerudung yang saya pakai, yang memang agak panjang. 

Kalimat singkat yang terdiri dari tiga kata namun satu inti tersebut membuat saya berubah pikiran: saya akan tetap berada di sini. Nunggu 2 jam nggak masalah, yang penting bisa berlama-lama memandangi Ka’bah. 

Saya menghabiskan waktu menunggu subuh dengan banyak hal: main game, dzikir, main game sambil dzikir, apapun yang membuat saya tidak ketiduran dan kehilangan wudhu (karena kalau tidur yang sampai hilang sadar, katanya wudhu dianggap batal. Sementara tempat wudhunya ada di luar mesjid yang kalo saya keluar lalu balik lagi, belom tentu nemu spot di depan Ka’bah lagi).

Ketika saya main game, ada 1 ibu-ibu Arab yang berdiri di sebelah saya, membaca Al Qur’an. Ada kali tuh 15 menit dia berdiri. Saya agak heran juga ngapain dia baca Al Qur’an sambil berdiri padahal mah enakan duduk kan ya. Namun dengan banyaknya pengalaman liat kelakuan orang-orang yang ‘unik’ di Masjidil Haram ini, saya memutuskan untuk nggak mikirin kira-kira apa alasannya baca Al Qur’an sambil berdiri begitu, karena toh suaranya enak juga, lalu saya kembali ke game yang sedang saya mainkan dengan backsound suara Ibu tersebut baca Al Qur’an. Lumayan juga nih, perasaan jadi adem. 
Saya main game.
Ibu itu masih baca Al Qur’an sambil berdiri.
Saya masih main game.
Kemudian ibu itu meletakkan Al Qur’an yang tadinya dia baca, ke paha saya. 
HAH HAH APA-APAAN INI SEMBARANGAN BANGET WOY KAGET GUAAAAAH!
Saya nengok ke arah ibu itu, dan dia sedang dalam posisi Rukuk.
HAH HAH TERNYATA DARI TADI DIA BACA AL QUR’AN SAMBIL BERDIRI ITU......DIA SHOLAT????
Saya kaget. Yaiyalah kaget, masa huruf udah segede gitu tanda tanya sebanyak itu masih kurang menunjukkan ekspresi kaget?
Ibu itu masih sholat. Yaiyalah menurut ngana?
*digampar kursi lipet*
Kemudian ibu itu sujud. Lama sekali. Ada kali 5 menit. Asli. 
Di sujudnya, dia berbicara dalam bahasa Arab. Saya tidak tau artinya, namun saya bisa merasakan kelirihannya. Dia terdengar pasrah, dan benar-benar berserah. Saya mulai nyuekin game yang lagi saya mainin, dan fokus mendengarkan si Ibu.
Dia bangun dari kedua sujudnya, saya ngasih Al Qur’an-nya ke dia, supaya dia bisa baca lagi di dalam sholatnya. 
Durasi baca Al Qur’an sambil berdiri masih sama dari sebelumnya. Namun kali ini bye-bye Matchington Mansion. Saya mendengarkan si Ibu baca Al Qur’an. Jika rakaat pertama saya menganggap suara dia membaca Al Qur’an menyejukkan, di rakaat kedua ini, saya mendengar intonasi yang lebih sendu namun tetap kuat.

Air mata saya mulai berkumpul di sudut mata, seolah-olah mereka mau konvoi turun ke pipi saya, barengan sama ingus.
Dan benar, saya menangis, hanya karena mendengar bacaan Al Qur’an yang saya nggak tau itu surat yang mana ayat berapa artinya apa.
Si Ibu rukuk dan kembali memberikan Al Qur’an-nya kepada saya. Berbeda dengan rakaat pertama yang mana saya hanya meletakkan Al Qur’an di paha saya lalu saya lanjut main game, kali ini saya peluk Al Qur’an-nya, saya jaga baik-baik. Si Ibu sujud, suaranya makin lirih, saya makin nangis. Padahal ngerti dia doa ape juga kagak. Saya ngeliatin dia sujud, berdoa sungguh-sungguh, nadanya pasrah, seolah-olah dia benar-benar menyerahkan kehidupan nasibnya kepada Tuhan. Saya serasa ditampar melihat kejadian ini. Di sebelah saya ada yang benar-benar mempercayakan kehidupannya ke Tuhan, sementara saya masih mempertanyakan beberapa hal sepele yang berhubungan dengan agama ini. 

Si Ibu selesai sholat, saya kembalikan Al Qur’an-nya ke dia. Dia tersenyum dan mengucapkan,”Syukron”. Matanya berkaca-kaca, dia mengusap Al Qur’an-nya dan mengusap wajah saya sambil berbicara dengan bahasa Arab, yang walaupun saya tidak mengerti artinya, saya yakin dia mendoakan saya. Saya makin menangis, dia mengusap pipi saya, memandang saya sungguh sungguh dan berbicara dengan bahasa Arab yang lagi-lagi walaupun saya tidak mengerti artinya, namun saya merasakan ada energi yang menguatkan saya untuk menjauhkan diri dari keputus asaan. 

Adzan subuh berkumandang, kami pun mengikuti shalat berjamaah. Saya memang merasa istimewa ketika bisa shalat sambil memandangi Ka’bah, namun shalat kali itu benar-benar berbeda rasanya. Lebih istimewa dan ‘mewah’, karena saya mendapatkan pengalaman dengan si ibu ini. Saya menangis tidak berhenti dari mulai rakaat pertama. Saya merasakan kepasrahan yang mengalir deras dari air mata saya, merasakan bahwa sebagaimanapun saya melawan, saya hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan energi. Dan hanya dengan berserah diri lah saya mendapatkan dorongan energi baru untuk terus berjuang dan melawan diri sendiri dari keputusasaan.

Shalat subuh berakhir, Ibu saya menghampiri saya dan mengajak saya pulang ke hotel untuk siap-siap check out. Saya merapikan barang-barang saya yang honestly, prosesnya saya lama-lamain supaya Ibu saya jalan duluan. Dan benar, beliau jalan duluan. Saya berdiri untuk berjalan menyusul ibu saya, namun ada perasaan yang mengganjal. Lalu saya menghampiri si ibu tadi, dan menggenggam tangannya.
“Thank you so much”
Hanya kalimat itu yang bisa saya ucapkan di dalam tangis saya kepadanya. Dia juga ikut menangis, mengusap punggung tangan saya, dan tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya sambil berbicara bahasa Arab, yang saya yakini sebagai sarannya kepada saya untuk terus berdoa. Saya hanya bisa mengangguk sambil menangis, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan dia karena saya harus menyusul Ibu saya yang kalau jalan udah kayak pake sepatu roda saking cepetnya.

Saya kembali ke hotel, packing, dan lalu bergegas check out bersama keluarga saya. Di jalan saya terus memikirkan si Ibu itu, dia gimana sekarang, masalah apa yang sebenarnya lagi dia alami, apakah doa-doanya sudah terjawab, namun kemudian saya sadar bahwa yang penting bukanlah doa yang terjawab atau tidak, melainkan kerendahan hati kita sebagai manusia untuk selalu berserah diri karena tidak ada ketenangan hati yang lebih murni dari keyakinan akan doa sebagai fondasi utama dari segala sesuatu yang sedang kita usahakan atau lakukan.

Saya datang ke Mekkah dengan perasaan sombong sebagai manusia, dan saya meninggalkan Mekkah dengan perasaan haru, di mana Tuhan menyadarkan saya dengan mempertemukan saya dengan Ibu-ibu random yang baca Al Qur’an sambil berdiri namun dia menjadi sosok yang sangat hebat di mata saya, dengan keimanannya.
Terima kasih, Tuhan. Saya tidak akan melupakan pengalaman berharga ini sebagai pengingat saya bahwa do’a adalah sumber energi terbaik yang pernah ada. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. 

11 September 2018

Dear Brave One

Hello, Brave One.
How are you up there?
How does the sky look from there?
How does it feel to be closer to the moon and the stars?

I know it's not 6th of October yet, but I just want to write this letter to you.
Because lately, I've been thinking about you.
I miss you so much it still hurts.

Dear Brave One,
things are different now, you know.
And you must have known that I wish you're still here,
to be by my side,
to hear my story,
and walk through our journey.

Saya paham jika kamu tidak lagi mau singgah di mimpi saya,
karena kamu pasti tau, terakhir kamu singgah, saya menangis sendu ketika saya membuka mata dan tidak menemukanmu.
Saya rindu kamu, sangat rindu.

I once promised myself not to cry over you anymore,
I thought I have succeeded,
but not today.
I have completely failed.

If I could turn back the time and have a chance to not do something I have done, it's the one I did on your last day.
I wish I was there.
I wish I could do more.
I wish I was wiser.
And I'm, very sorry about that.
I'm a disappointment,
a failure,
and I'm sorry about that..

16 January 2018

I'm sad.
I'm sad everytime I think about you.
I'm sad everytime I think about the memories we had.
I'm sad everytime I try so hard to convince myself that I'll get through it.
Because simply, I don't want to.

I don't want to feel any pain.
But I am fully aware that it's impossible.
It's important to feel things, I know.
But sometimes it's necessary to not feeling anything.

You mattered to me. So much.
You came into my life just like that, an easy step.
When I was broken, and empty.
A broken emptiness, I called it..

I thought I could do better.
But the fact that I couldn't, made me upset.
I was sad.
And lonely.
I actually still am.

11 October 2017

Dua Puluh Tujuh

7 September 2017.

Hari di mana usia saya memasuki tahun ke dua puluh tujuh.
Semakin banyak hari yang dilewati, semakin banyak hal baru yang dipelajari, dalam kata lain: saya makin tua.
Namun tidak cukup tua untuk tidak bersyukur.
Apa yang saya hadapi selama ini, saya serap baiknya, saya buang buruknya.
Karena saya tidak tahu hidup saya akan sesingkat apa. 
Karena saya tidak tahu apakah saya akan mencapai titik kebahagiaan sejauh apa selama menjalani hidup saya. 

Saya menerima banyak ucapan yang diiringi senyuman, doa, sukacita bahkan kejutan-kejutan manis dari orang-orang terkasih. Dari mereka yang menyempatkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengejutkan saya dengan kue yang ditancapkan lilin dan dengan riangnya menyanyikan "Happy birthday", dia yang menelpon interlokal dari ranah Sumatera di tengah-tengah waktu liburannya, dan tentu saja, mereka yang dengan tulus mendoakan saya dari berbagai macam bentuk media. 

Saya merasa sangat istimewa dan tentunya bahagia. Dua puluh tujuh tahun sudah saya menjalani kehidupan sehari-hari. Jatuh-bangun, asam-garam, suka-duka, tawa paling bahagia juga tangis paling sendu pernah saya alami, dan tentu saja, saya syukuri.
Rasa syukur. Gratitude.
Itulah satu hal yang saya minta sama Tuhan sebagai kado ulang tahun saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang lebih bersyukur. Saya menjalani hari-hari saya dengan fisik yang sehat, sanctuary berupa orang tua dan adik laki-laki yang tak hentinya menghujani saya dengan kasih sayang dan doa, juga orang-orang yang mengelilingi saya dengan kebaikan hati dan ragam karakternya, yang tentu saja membuat saya belajar hal baru tiap harinya, dan membuat saya merasa membutuhkan rasa syukur yang lebih banyak lagi, dan lagi.

Saya sadar bahwa rangkaian kata yang diuntai sedemikian rupa diuntai menjadi ucapan terima kasih tak akan cukup untuk menggambarkan betapa tentramnya hati saya memiliki support system sekuat dan se-membahagiakan ini. Namun saya tetap melahirkan tulisan ini, untuk sedikit berdoa:
Semoga mereka yang membuat saya bahagia, lebih berbahagia lagi. 
Semoga doa-doa baik yang dipanjatkan ke saya, berkali-kali lipat dikembalikan kebaikannya kepada mereka yang mendoakan saya, oleh Tuhan.
Semoga mereka yang tulus ikhlas hadir di kehidupan saya, diberi cinta kasih yang meluap tak terbendung.
Aamin ya rabbal'alamin.

28 July 2017

A letter to an old friend

Hello, old friend.
It's been a long time.
Did you miss me? Because I missed you, so much.
I'm sorry I haven't talked to you in ages. It's because my head's been filled with things, and responsibilities.
I know it's not supposed to be an excuse, because you're always here, waiting for me to have a moment with you, just like our old days.

Old friend,
I'm no longer a girl you used to know.
I'm, obviously, older.
But I don't know whether age makes me wiser or not.

I'm still fighting, like you see.
For everyone's sake: the people I love, those who I care about.
The number's not as big as those days when you first met me, but the value is much meaningful.
Because I don't have time to think about things I'm not supposed to consider.

Old friend,
There are so many things I wanted to tell you.
But it's not like the old days that I could tell you rightaway,
I become more.....cautious.
And worried, sometimes.
That's why I kept the words in my head. Only in my head.

I'm happier now.
Of course I had my hard days, but as you always know, I'm stubborn enough to fight.
Are you proud of me? Because that's what I always been worrying about: whether I make the people I love proud of me or not.
I cried a bit on my hard days, but I know I always have the smile of a mother, the courage of a father, and the bravery of a brother that will always put me in their warmth.
You know how much I love them, old friend.
You know I'll fight for their happiness, no matter what.
That's what always put me into a whole person, over and over again.
No matter how exhausted and broken I am.

Old friend,
thank you for being a good company after all this time.
The warmth of your embrace and the peaceful silence of yours never fails to amaze me.
I'm sorry for being too busy, but it's always nice having you around.
And I know that I'll always have you,
until my last breath takes me to another place.
Thank you, Night.
You're so special to me.

Your (not so) Favorite Night Owl,
Anita

***

Just in case you people read this and wondering who am I writing to, you're not reading it wrong. It really is for the night. Yes, night time, the time when people are supposed to sleep, when the stars and moon are hanging beautifully up there. I know I'm weird, feel free to judge me however you want, but at least I'm being honest.

07 May 2017

I am not okay.
I've been exhausted.
Restless.
And hurt.

I was in my happiest days.
I thought I lived a proper life: 
Work, family, friends, and of course you.
Until that Sunday night, 
Everything I've been building, destroyed by only a single phone call. 

How dare you.
Coming into my life, to my monochrome world, 
bringing lights and colours,
then taking it all out so suddenly,
leaving me in darkness, sorrow, and despair?

I've been faithful to you,
and you left me broken into pieces.
What did I do to you, to deserve this?

I don't know who to trust anymore.
Not even myself.
Now I won't listen to Feist's "Now At Last" as the same beautiful song anymore. 

26 February 2017

First time

The first time I saw you.
I caught that pair of eyes,
which is yours,
staring at mine.

First time I saw you.
You were sitting there,
at the corner of the bar,
with your bottle of beer

First time I saw you.
I said hello,
You hello-ed me back,
And there goes the conversation,
On and on.

The first time I saw you.
I knew I wouldn't waste my first precious 5 minutes for judegement,
because, man, you're absolutely worth it.

Thanks for filling the space this whole time.

Intuisi

Saya baru bertemu seorang teman baik sore ini. Sebut saja dia Ms. Theressa.
Kami duduk berhadapan, dengan cangkir kopi masing-masing dan sebuah asbak yang setengah terisi. 
Kami bercerita tentang current issue yang sedang kami alami sekarang-sekarang ini. Dia memulai sesi dengan sebuah cerita yang agak membuat pupil mata saya memperbesar ukurannya dan rahang saya agak terbuka dengan sendirinya. Saya tidak menyangka dia akan mengalami hal sebegitu menyakitkannya. Dia bercerita sambil tertawa getir, dan saya menangis di hadapannya. Tidak membantu, memang. Namun tidak ada airmata yang jatuh dari sepasang mata indahnya. "Udah lewat nangisnya", kata dia. Saya menghapus airmata saya dan menceritakan apa yang akhir-akhir ini menambah kisah di dalam hidup saya. Tidak banyak, memang. Hanya seputar pekerjaan dan keluarga. Namun, untuk kedua kalinya, saya menangis di hadapan dia. Cengeng emang si Anita. Dengerin cerita orang nangis, menceritakan cerita sendiri ke orang pun nangis. Saya tadinya mau menyalahkan hujan yang turun dan menghadirkan mood gloomy, tapi saya malu sama isi dompet yang lebih membuat gloomy daripada hujan. Jadi, ya saya diam saja.

Kemudian saya dan Ms. Theressa melanjutkan percakapan. Topik yang kami bicarakan lebih ringan dan cenderung tolol, sebenarnya. Kami banyak menghabiskan waktu untuk tertawa-tawa bodoh diiringi hujan dan suara knalpot Kopaja. Apapun bisa jadi bahan tertawaan kami: dari gosip terkini hingga ukuran sepatu. I spent a great time with her. Hingga akhirnya saya menulis postingan ini, saya masih bisa nyengir mengingat berbagai jenis kebodohan yang kami lakukan tadi sore. Saya rasa orang tidak akan mengira jika dua perempuan di pojokan tersebut mengalami kejadian yang menguras tenaga dan pikiran di minggu sebelumnya. 

Saya dan Ms. Theressa memiliki benang merah yang kurang lebih sama dalam kehidupan kami: Kerap dihantam intuisi. 

pic source


08 September 2016

7 September

Seharian ini, saya dihujani.
Bukan hujan air, bukan hujan batu, apalagi hujan uang.
Namun hari ini saya dihujani doa.
Doa baik dari orang-orang baik.

Saya tidak menyangka bahwa masih ada yang peduli sama saya. Sayang sama saya, mau meluangkan waktu, tenaga dan kuota mereka untuk mendoakan bahkan memeluk saya dengan hangat. Dari pagi hari awal saya membuka mata, hingga ketika blogpost ini saya publish, saya masih membaca kalimat-kalimat baik yang dirangkai dengan indah menjadi doa yang saya amini sepenuh hati dari mereka yang menyayangi saya.

Saya tidak dapat berbuat apa-apa selain berterima kasih, dan kembali mendoakan mereka sekuat mampu saya. Saya memang bukan orang yang religius. Kualitas ibadah saya patut ditertawakan oleh mereka yang lebih taat. Tapi saya percaya kebaikan. Saya percaya doa. Saya tau, meskipun saya memenuhi kriteria untuk dijebloskan ke lubang neraka saat ini juga, saya tau Tuhan masih memperbolehkan saya berdoa.
Untuk mendoakan mereka yang mendoakan saya.
Mendoakan mereka yang baik sama saya.
Mendoakan mereka yang peduli akan keadaan saya.

Saya melewati 2 kali pergantian usia di tahun-tahun sebelumnya dengan isak tangis sendu.
Namun hari ini, rangkaian doa dan kebaikan yang saya terima dapat saya gubah menjadi alunan melodi yang merdu.
Untuk mengiringi langkah saya di usia yang baru,
kemanapun saya menuju.

 Let's do better this time, shall we, self?

01 July 2016

13

Sekotak memori penuh terisi.
Ratusan hari,
ribuan jam,
jutaan menit,
milyaran detik.

Sekotak memori penuh terisi.
Baik dan buruk,
hitam juga putih,
tawa bahagia serta tangis sendu,
diselipi luapan rindu kala jarak memisahkan untuk sementara waktu.

Sekotak memori penuh terisi.
Seperti tumpukan benang yang menunggu untuk ditenun hingga menjadi kain.
Merapuh seiring berjalannya waktu,
dilapisi debu.

Peluk hangat menjadi penanda,
bahwa apa yang pernah ada,
memang harus binasa.

Saya memang bukan ahli puisi.
Tapi saya sedikit tau cara merangkai kata untuk meluapkan isi kepala ini.
Yang entah kenapa,
hanya berisi kamu,
sejak tadi pagi.

Sekotak memori penuh terisi.
Tidak mati.
Penuh arti.
Tersimpan rapat terkunci.
Di satu sudut hati.
Sejak empat Januari.

07 May 2016

#ReviewnyahToskah: AADC 2!

Halaw, tilcikers sekalian duakalian tigakalian dan seterusnya! Bagaimana long weekend meresahkan karena tiba-tiba gaji kalian sudah habis duluan? HAHAHA!

...sama, saya juga.
*nangis di depan mesin ATM*

Saya mau nyombong, dong. Saya habis nonton satu film happening yang merupakan bentuk reuni setelah 14 tahun berpisah. Bukan, bukan film tentang jalinan kasih dan di-host oleh Dian Nitami, namun film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang dibintangi oleh Dian Sastro, atau mari kita persingkat dengan AADC 2. Jangan tanya saya nonton flim ini sama siapa. Jangan aja. IYA KARENA SAYA NONTON SENDIRI. PUAS KALIAN HAAAAH?
*baru paragraf pembuka udah marah*
*ditinggal pembaca*

Dan seperti yang kalian sudah tebak karena saya anaknya predictable, saya mau nulis review AADC 2 ini. Di postingan kali ini saya mau menulis penuh dendam. Kenapa penuh dendam? Karena timeline Twitter dan Path saya dipenuhi oleh spoiler dari film ini! Dan karena saya sebel sama orang-orang yang ngasih spoiler tanpa tedeng aling-aling dan And so, let the #ReviewnyahToskah begins!

pic source
YAK, BENAR! ADA APA DENGAN CINTAAAAAAHHHHH~~
 WARNING: This post will contain A LOT OF spoilers. Jadi kalo kalian belom nonton film ini dan nggak mau penglihatan kalian dipolusikan oleh spoilers, mendingan nggak usah dibaca #ReviewnyahToskah indang. Capcus!

17 April 2016

LOL: Laugh Of Life.

Ehai! Di hari Minggu yang ntar hujan ntar nggak ini, bagaimana keadaan kalian? Saya lumayan ngantuk pas nulis blogpost ini karena tadi pagi bangun jam 7 untuk bantu Mama saya nyiapin buat arisan di rumah, terus siang tidur, bangun tidur makan, bantuin Mama beresin selesai arisan, terus ke Bekasi sama adik dan sepupu saya untuk makan......chicken wings.
Sekarang saya udah pulang, terus...........flu. Ini daritadi udah srat srot srat srot aja hidung saya.
Dibawa ke Bekasi bentar aja raga ini udah flu. Dasar kamu penduduk Bekasi KW, Anitah.
*digebuki*

Kembali pada tag '9 PM' pada kali ini, sebenarnya saya dan partner menulis saya hampir tidak punya tema tulisan untuk minggu ini. Tapi akhirnya muncullah sebuah tema, topik, dan spirit menulis untuk tulisa kali ini karena saya sayang sama kalian para tilcikers dan tilcikerswati yang hari Minggunya akan terasa sepi tanpa membaca tulisan saya.
*dimuntahi*

Maka dengan pemikiran yang seksama dan matang, kami pun memutuskan untuk menulis tentang....
Menertawakan diri sendiri.
*tertawa getir, mengingat banyak sekali kekurangan dalam diri saya yang patut ditertawakan*
Dan tema, topik dan spirit pada tulisan kali ini pun cocok sekali rasanya. Dari beberapa tulisan yang kami setujui untuk dituliskan, topiknya hanya seputar hal yang bagus-bagus aja dan agak serius (review Batman V Superman minggu lalu nggak usah dihitung, saya menuliskannya dengan sampah sementara dia menuliskannya dengan baik, as usual), ada baiknya kali ini kita sedikit melihat sekilas apa yang ada di dalam raga ini yang patut untuk ditertawakan. Dan saya memilih untuk menulis keburukan-keburukan yang ada di dalam diri saya yang bisa kalian tertawakan. Baik kan saya, hari Minggu begini kalian lagi galau mau menghadapi Senin saya kasih bacaan yang membuktikan bahwa ada yang hidupnya lebih menyedihkan dari hidup kalian? IYA HIDUP SAYA. PUAS??
*nangis di bawah kalender yang disobek harian*

Yang namanya hidup pasti ada aja naik-turunnya. Ntar good mood ntar nangis karena cranky karena lapar kayak saya, nanti jatuh cinta tapi tak lama patah hati, atau di hari yang sama, paginya segar bugar lalu sorenya dibawa ke Bekasi dikit pulang-pulang sampe Rawamangun hidung udah kayak air terjun Niagara produksi ingus.
*digebuki warga Bekasi*
Termasuk hidup saya. Saya sangat mensyukuri hidup saya yang seperti roller coaster ini. Walaupun sekarang-sekarang ini adalah masa paling netral dan tenang selama saya hidup hampir 26 tahun yang tanpa prestasi, tapi saya pernah (dan saya yakin akan terus) mengalami naik-turunnya dalam menjalani kehidupan. Kali ini, saya akan menuliskan 3 (tiga) kekurangan saya yang banyak menyebabkan kejadian bodoh terjadi dalam hidup saya, yang tentu saja menyebabkan kegagalan dalam hal yang saya lakukan.

1. Pelupa.
Saya itu orangnya pelupa. Lupa nama hari, nama orang (bahkan yang sudah beberapa kali saya temui), lupa arah (oh saya berencana mau bikin bubur merah putih dan daftar ke kelurahan untuk merubah nama saya, dari Anita Prabowo jadi Anita Nyasar Prabowo) bahkan saya bisa lupa apa yang mau saya lakukan dalam 5 menit. Dalam track record ke-pelupa-an saya ini, saya seringkali bikin orang-orang terdekat saya geleng-geleng kepala. Bahkan ada yang sempet nyinyir,"Pelupa begini kok jadi sekretaris". OH JANGAN SALAH I'LL DIE TO REMEMBER EVERY DETAIL ON MY JOB. Makanya kalender dan reminder di HP saya penuh sama hal-hal bahkan hal kecil yang perlu saya ingat yang bersangkutan dengan pekerjaan saya: jadwal bos saya, jadwal apa yang harus saya ingatkan ke bos saya, jadwal apa yang harus saya tanyakan ke bos saya, dll. Makanya saya terlihat agak lebih tua sekarang, karena otak saya kayaknya overused hahahaha.
*telen minyak ikan sama ikan-ikannya*
Kejadian bodoh yang berhubungan dengan otak pelupa saya ini? Mostly nyasar, karena saya anaknya lupa arah. Dari rumah ke kantor sempat nyasar (karena saya baru beberapa bulan kerja di kantor ini), saya bahkan sempat nyasar dari rumah teman saya ke arah rumah saya sendiri yang jaraknya nggak lebih dari 15 menit naik ojek, setelah saya cerita ke teman saya, saya habis ditertawakan. YA GIMANA NGGAK DIKETAWAIN SAYA TEMENAN SAMA DIA SUDAH TAHUNAN JALAN PULANG MASIH NYASAR JUGA. PUAS KALIAN SEKARANG KALIAN TAU SAYA BAHKAN BISA NYASAR BAHKAN ADA GPS DI TANGAN SAYA??
*nangis di bawah peta kota Jakarta*
Pernah juga saya lupa untuk....goreng kentang. Saya nggak tau saya pernah cerita apa nggak sebelumnya di sini, tapi saya pernah ceritanya mau goreng kentang, terus lagi manasin minyak goreng, saya balik ke kamar untuk ganti baju, terus habis ganti baju saya malah......tidur-tiduran mainan henpon. Sampe akhirnya saya kepingin ke kamar mandi, dan saya bingung, kok terlihat terang dari kejauhan, setelah saya cek, itu ternyata........kobaran api yang sudah naik ke wajan yang berasal dari minyak yang terlampau panas. Saya langsung panik dan mengingat dari pelajaran PLKJ, katanya nggak boleh madamin api dari kompor dengan air langsung, harus pakai karung goni basah dulu. Berhubung di rumah saya nggak ada karung goni, maka saya pakailah.....keset. Saya rendam keset di dalam air terus saya langsung lemparin kesetnya ke atas wajan yang............MENYEBABKAN APINYA MAKIN BERKOBAR. Saya makin panik, saya panggil adik saya untuk bantu memadamkan api. Kalian tau apa yang dilakukan adik saya? Dia ambil air segayung, dan BYUR. Kompornya disiram. Dia melakukan apa yang tidak disarankan di buku PLKJ. Namun apakah apinya masih tetap berkobar? APINYA PADAM SEKETIKA, PEMIRSAAAA!
*robek-robek buku PLKJ yang selama ini ternyata telah membohongi hidup saya*
See? Bahkan sifat pelupa saya ini bisa menyebabkan rumah saya hampir kebakaran.
Lesson learned: Kalo lagi kepingin kentang goreng delivery ajalah udah, nggak usah sok-sokan kepingin goreng sendiri kalo kamu punya sifat pelupa.

2. Ngantukan.
Mungkin bisa kalian baca di postingan ini kalau dari kecil, waktu tidur saya di malam hari itu tepat waktu. Karena kalau saya tidur lebih dari jam yang ditentukan orang tua saya, saya akan terancam tidak bisa dibelikan buku cerita sama Papa saya di weekend berikutnya. Maka dari itulah saya sampai sekarang mudah sekali ngantuk. Waktu tidur saya sempat berantakan ketika kuliah dan beberapa tahun pertama kerja, tapi sekarang sudah mulai teratur lagi, dan sudah jarang sekali saya berangkat kerja dalam keadaan belum tidur sama sekali, malah seringnya kalau lagi terlibat percakapan via text, saya 'menghilang' di tengah percakapan, IYA KARENA SAYA KETIDURAN PADAHAL TOPIK PEMBICARAAN MASIH BERJALAN. Dan saya bukan tipikal orang yang butuh keheningan sebelum tidur, jadinya tidur di tengah keramaian pun bukan hal tabu bagi saya. Kejadian bodoh yang pernah saya lagi nonton Sicario , pada Desember 2015 kemarin di bioskop. Nah Sicario ini adalah salah satu film yang menurut saya jalan ceritanya terlalu berat bagi otak saya yang kapasitasnya tak seberapa, dan saya pun nggak merasa engaged dengan jalan ceritanya, saya berusaha mencerna film itu dengan seksama, namun ternyata saya gagal karena kemudian.........saya ketiduran. Saya waktu itu nontonnya sama pasangan saya (waktu itu), dan saya emang lagi nyender di bahu dia. EH TERNYATA KETIDURAN. Saya kebangun di beberapa menit menuju akhir film, dan melihat dia sedang serius dan terlihat terpukau dengan mata yang berbinar-binar. Wait, kayaknya dia nggak ngeh saya ketiduran. Jadi saya pura-pura terpukau juga dengan film itu. Sampai akhirnya film habis dan kami keluar bioskop, saya komat kamit dalam hati meminta satu doa spesifik pada Tuhan: Jangan sampe dia bahas film itu karena saya mostly ngga ngerti film itu dan ketiduran. Itu hal yang paling penting, Tuhan. Jangan sampe dia bahas film itu karena saya ketiduran, gimana nanti kalo dia bahas part di mana saya lagi lelap dalam buaian suara senapan yang berasal dari film? Dia bisa marah dan saya terlalu ngantuk untuk berargumen. Selamatkan nyawa saya kali ini, Tuhan...
Tapi ternyata waktu itu Tuhan lagi kepingin bercanda sama saya.
Iya, benar. DIA BAHAS FILM ITU.
Saya cuma manggut-manggut setuju sama dia sepanjang jalan pulang dia bahas film itu, kelihatan sekali kalau dia suka sama Sicario ini. Namun walaupun Tuhan tidak mengabulkan doa saya supaya dia tidak membahas filmnya, namun Tuhan masih mau menyelamatkan hidup saya malam itu. Dengan hanya bermodalkan anggukan-anggukan setuju dan ke-sok-tahu-an saya akan jalan cerita film itu, dia tidak curiga kalau saya ketiduran, dan saya pun diantar pulang selamat sampai tujuan.
Lesson learned: Kalo udah punya sifat ngantukan begini dan diajak nonton film di bioskop sama pasangan yang pemarah, tontonlah dulu trailernya. Kalau kira-kira tipe filmnya adalah tipikal yang akan membuat kalian ketiduran di bioskop, cucilah mata kalian dengan kopi sebanyak tujuh kali. Niscaya......mata kalian akan perih. Kalo tetep ketiduran (yang sebenernya itu urusan kalian, saya nggak tanggung jawab), sering-seringlah mengangguk setuju dan bilang,"Ya aku juga suka bagian itu. Bagus ya filmnya". Kalau bisa, alihkan perhatiannya untuk membelokkan topik pembicaraan seperti,"Denger-denger, sekarang harga jagung naik ya? Udah bukan per karung lagi dijualnya, per kebon". 

Lanjout!

3. Takut gelap.
Saya ini anaknya cemen. Apa-apa takut. Takut setan, takut kethilangan, takut kalo orang tua marah, takut sama tagihan kartu kredit, pokoknya saya itu punya banyak ketakutan di dalam diri saya. Salah satu ketakutan yang menempel dalam diri saya dari kecil adalah: Saya takut sama gelap.
Mungkin awalnya berasal dari fakta bahwa saya itu takut banget kalo diajak nonton film horror. Kan gelap-gelap terus muncul hantunya tuh. Nah dari kecil saya emang ngga suka nonton film horror. Film BoBoHo kalo ada gelap-gelapnya aja saya takut. Bahkan dari kecil sampai sekarang, saya tidak bisa tidur dengan keadaan gelap total. Senggaknya harus ada cahaya dari lampu redup ataupun guratan cahaya TV. Tapi nggak pernah saya tidur dalam keadaan gelap total, sendirian. Nggak deh terima kasih wassalam. Ketakutan saya akan gelap ini pun meningkatkan awareness saya terhadap darkness itu sendiri. Let's say kalo tengah malam mati listrik dan lampu padam, saya pasti kebangun dari tidur saya dan teriak,"MAMAAAAAA!" lalu ngibrit lari pindah tidurnya ke kamar Mama saya. Iya, sebegitu takutnya saya sama kegelapan, walaupun kalo laper saya suka makan dengan gelap mata, tapi bukan itu point saya. 
Ada salah satu kejadian yang membuat jantung saya mau copot rasanya. Saya lagi di apartment pasangan saya (waktu itu), ada barang saya yang ketinggalan dan akhirnya dia pun turun duluan dan menunggu saya di bawah. Otomatis saya turun sendiri dong pakai lift. Semua berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya pas sudah sampai bawah......
Lift-nya mati.
IYA MATI SAMA LAMPU-LAMPUNYA ITU SAYA SENDIRIAN DI DALEM LIFT GIMANA COBA RASANYAAAAAA.
Saya panik. Saya gedor-gedor pintu lift dari dalam, teriak-teriak minta tolong. Dari awalnya mencoba jaim teriak seadanya, sampai akhirnya teriak sambil nangis sesenggukan. MUNGKIN ITU RASANYA BERADA DI ANTARA HIDUP DAN MATI. Orang juga udah banyak berkumpul di depan lift, terdengar ada yang ikutan panik, which doesn't help at all. Ada juga yang mencoba menenangkan saya, suara ibu-ibu,"Tenang ya sayang.. Kita lagi cari orang buat bukain lift-nya.. Tenang ya, sabar ya.." Mungkin ibu-ibu itu menyangka yang terjebak sendiri di dalam lift adalah anak kecil, karena saya dengar dia bilang sama orang di luar,"Eh cepetan ini benerin lift-nya ini anak kasian udah panik banget pasti di dalem kejebak lift!" saya masih menangis sambil gedor-gedor dan teriak-teriak minta tolong, sampai akhirnya.....
Lampu lift menyala.
Pintu lift terbuka.
Dan benar dugaan saya, sudah banyak orang berkumpul di depan lift. Dan mereka cukup kaget kalau ternyata yang terjebak di dalam lift adalah mbak-mbak paruh baya (baca: SAYA. PUAS??) dengan mata sembab, hidung merah, dan keringat sekujur tubuh yang diakibatkan oleh ketakutannya terhadap gelap. Saya pun berusaha tenang berjalan ke luar lift dan langsung menuju parkiran di mana saya sudah ditunggu. Ada satu orang perempuan di depan lift terlihat shock dan ngeliatin saya ketika saya keluar lift, yang saya duga penuh itu adalah ibu-ibu yang mencoba menenangkan saya. Mungkin dia menyesal, saya nggak tau juga.
Lesson learned: Kalo takut sama gelap, BAWA SENTER KEMANA-MANA. 
Udah itu aja.

Tadi adalah beberapa kekurangan dan kebodohan yang ada di dalam hidup saya yang sebenernya waktu dijalanin, sebel, malu, dan berpikir,"I could've done better". Tapi pasti ada pelajaran yang saya pahami dari tiap kejadian dalam hidup saya yang membuat saya menjadi orang yang lebih baik lagi ke depannya. Ada amin, saudara? AMIIIIN!
Saya memang sangat membebaskan diri saya merasakan dan menyerap setiap energi, positif maupun negatif, yang datang ke hadapan saya. Kalau energinya terlalu besar, kadang saya agak larut dalam emosi tersebut. Tapi toh saya bisa mempelajari baik-buruknya, juga biasanya saya mentertawakan keburukan yang ada di dalam diri saya, karena memang tidak ada gunanya juga saya terus meratapi tentang apa yang sudah terjadi, toh? Makanya saya pernah ngetwit begini:

Enjoy the rest of your Sunday, tweeps! Semoga yang lagi flu kayak saya, flu-nya lekas kabur kalah sama daya tahan tubuh kalian. Ingat, menertawakan diri sendiri itu bukan perbuatan bodoh, tapi sebagai pengingat bahwa hidup yang hanya sekali ini ada baiknya dibawa senang saja :)
*tenggak obat flu sepabrik*

10 April 2016

#ReviewnyahToskah: Batman vs Superman

Halaw! Kalian semua pasti sudah menanti-nanti menunggu-nunggu mengingat menimbang dan memutuskan (woelah, bikin SK kali ah) blogpost saya yang satu ini. Yak, benar. Pada postingan kali ini saya akan kembali menulis #ReviewnyahToskah! WOO HOO! MANA SAMBUTANNYAAAA SUARANYAAAA KEPROK TANGANNYAAAA DJ MATIIN LAMPUNYAAAAA~
*dijejelin speaker*
*cepetan kalo mau nulis review ya tulis aja siah pake segala banyak cingcong*

Oke. Kali ini, saya akan menulis review tentang film yang sangat hits akhir-akhir ini dikarenakan dari judulnya aja sudah menggambarkan peperangan.
(((PEPERANGAN)))
Yoi. Saya akan menulis review film di bawah ini:

pic source
 YAKBETOOOOL! BATMAN VS SUPERMAN!
*nyalain petasan rentet*
*kesundut sendiri*

Jadi, Jumat kemarin saya akhirnya nonton juga film yang banyak diperbincangkan orang ini. Saya sengaja nonton film ini nggak langsung setelah film ini release karena pasti ngantrinya naujubilah. Maka jadilah saya nontonnya baru Jumat kemarin. Telat? Bodo amat.

DISCLAIMER: REVIEW INI MENGANDUNG BANYAK SEKALI SPOILER DAN DITULIS DARI SUDUT PANDANG SAYA YANG AWAM AKAN PERKOMIKAN DAN PER-SUPERHERO-AN. Jadi mohon maaf kalau tulisan minim pengetahuan saya ini nggak cocok sama selera baca kalian yang ngerti sepenuhnya sejarah Batman maupun Superman.

03 April 2016

A (future) Letter

Sebelum saya memulai postingan ini, ada baiknya saya memberi sepatah-dua patah kata sebagai pembuka. 
EHAAAAAI TILCIKERS DAN TILCIKERSWATI YANG TERKASIH TERSAYANG TERMEHEK-MEHEK BAGI YANG JOMBLO~
*digebuki*
Jadi, masih dalam rangka tulisan rutin tiap hari Minggu pukul 21.00, saya (alhamdulillahnya) masih konsisten menulis di dalam tag '9 PM' ini. Berunding untuk topik "What to write next?", saya yang emang gak bisa mikir berat-berat dan partner menulis saya yang tulisannya hanya menjadi konsumsi pribadi saya karena dia sempat punya blog tapi sayangnya sekarang udah ga ada pun sempat bingung menentukan tulisan bertemakan apa lagi yang akan kami tulis. Kemudian saya mengingat-ingat, tulisan pertama bertemakan masa sekarang (ibarat kata tenses, it's a 'present tense'), tulisan kedua berisikan tentang masa lalu (past 'tense') dan tulisan ketiga berhubungan dengan masa sekarang (present 'tense') lagi. Kemudian saya bilang sama dia,"Gimana kalo tulisan berikutnya kita pake 'future tense'?" dan kemudian dia setuju, dan dia mengusulkan kalau tulisan selanjutnya yang akan saya post jam 9 malam di hari Minggu yang entah kenapa nggak hujan-hujan ini bertemakan tentang........
A Letter to Your Child.
*petir menggelegar*
*tukang fogging siap-siap*
*kenapa tiba-tiba ada tukang fogging?*
*lagi jamannya DBD, buat jaga-jaga aja*
*oh oke*
Saya sempat lumayan bingung memikirkan untuk menulis apa kalau saya harus menuliskan surat untuk anak saya kelak. Karena jangankan punya anak, menikah aja belom ada di bayangan saya dalam waktu dekat ini :)))
*dipelototin Mama*
*oke Ma saya akan menikah, doain aja ya, Ma*
Jadi, dengan segenap energi dan rasa kenyang yang melanda, let me write you a letter. A letter to my (future) child, to be exact.

27 March 2016

Sanctuary

pic source
Rumah. Kebanyakan orang menganggap bahwa rumah adalah tempat kita mengistirahatkan diri dari segala macam energi negatif yang berasal dari rasa lelah akan aktivitas sehari-hari; pekerjaan yang memberatkan, guru di sekolah yang mendadak mengadakan ulangan (eh masih 'ulangan' nggak sih bahasanya? Jaman saya sih masih. #MenolakTua). Saya juga sering tanpa sadar berpikir bahkan mengatakan,"Aku mau pulang ajaaaa ngumpet di ketek Mama" tiap kali saya mengalami hari yang tidak begitu menyenangkan. Emang, Anita anak cengeng dikit-dikit kepingin pulang. Tapi yang bisa saya simpulkan adalah, hingga saat ini, rumah dan keluarga adalah tujuan saya untuk pulang dan mencari nyaman.

Masing-masing dari kita memiliki definisi sendiri untuk rumah. Apapun itu, saya yakin tiap orang pasti tersenyum ketika membayangkan rumah; baik bersenda gurau dengan keluarga ataupun duduk-duduk selonjoran nonton TV pake piyama belel lalu kemudian ketiduran (kayak saya HAHAHA). Namun selain rumah, ada satu lagi tujuan kita untuk pulang. Tidak hanya untuk mencari nyaman, namun untuk membuat kedamaian yang kita tidak bisa ajak orang lain untuk ke sana. Hanya diri kita sendiri. Dan biasanya, tempat itu biasa disebut dengan Sanctuary

Sanctuary, atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan suaka menurut Google Translate. TOLONG JANGAN BAYANGKAN SAYA BERSEMEDI DI BAWAH AIR TERJUN NGGAK MAKAN NGGAK MINUM TUJUH HARI TUJUH MALAM. Karena jangankan tujuh hari tujuh malam, tujuh jam nggak makan aja asam lambung saya udah demo.
Oke, fokus, Anita.
*tenggak Aqua*
Tiap orang memiliki sanctuary atau 'tempat ngumpet' masing-masing. Kebanyakan menjawab bahwa hobi adalah sanctuary mereka, di mana mereka bisa mendapatkan inner peace dan kesenangan dengan diri sendiri ketika melakukan dan 'tenggelam' di dalamnya. Kalau kalian tanya sanctuary saya apa, tentu saja saya jawab kalau sanctuary saya adalah berkuda, setelah itu minum teh dan kukis Inggris yang tentu saja saya import......dari Indomaret Rawamangun.
*disepak kuda*

Nggak deng, sanctuary saya adalah hal sederhana yang kalian semua tau, yaitu menulis.

20 March 2016

Mistakes

Ehai! Selamat hari Minggu. Bagaimana hari Minggu kalian pada tanggal tanggung ini? Nggak kemana-mana karena bokek? HAHAHAHA KASIAN.

Sama dong sama saya.
*ditiban mesin ATM*

Masih ingat tulisan saya sebelumnya yang ini? Nah kali ini, masih dengan orang yang sama, saya 'janjian' lagi nulis dengan topik yang berbeda. Bukan, topiknya bukan Hidayat meskipun saya napsir berat sama dia apalagi kalo lagi tanding terus wajahnya teralirkan keringat, saya bawaannya mau lari-lari ke tengah lapangan bawa-bawa handuk Good Morning terus elap-elap keringatnya.
*dijejelin nett bulu tangkis ke lobang hidung*

Seperti postingan sebelumnya, saya kali ini akan menulis tentang suatu hal yang mana adalah yaitu:
Mistakes in life I wish I could change.

People make mistakes, they say. Di dalam hidup ini yang namanya kesalahan pasti ada aja muncul di waktu dan tempat kami persilakan yang pastinya tidak terduga. Namanya juga manusia, hidupnya bersosialisasi. Sama diri sendiri aja suka salah paham, apa lagi sama orang lain yang isi kepalanya nggak bisa kita paksakan?
*kibas poni*
*ke kanan dan ke kiri*
Apalagi orang yang ceroboh kayak saya, pasti ada aja kesalahannya. Entar terlambat, entar salah ngerti padahal udah dikasih instruksi, entar ini, entar itu. Tapi dari sekian banyak kesalahan yang sudah saya lakukan, saya mau menuliskan 2 kesalahan yang sedikit-banyak mengubah hidup saya, yang kalau saya pikirkan lagi hari ini, saya ingin menjadi ilmuwan dan menciptakan mesin waktu agar saya bisa kembali ke masa ketika saya melakukan kesalahan tersebut dan tidak melakukannya.

09 March 2016

Most Precious Thing(s) In Life

Ehai, para tilcikers dan tilcikerswati dari berbagai macam sudut dunia jagad raya ini. Pada bingung ya kenapa saya mendadak nulis lagi? Jawabannya mudah, karena saya pintar dan produktif dalam menulis.
*diselengkat blog statistic*
Maka apa yang membuat saya posting dua blog posts dalam dua hari berturut-turut? Memang inisiatifnya bukan dari jiwa dan skill menulis saya yang amatir, namun berawal dari percakapan via WhatsApp ini:


Maka kami pun sepakat untuk menulis tentang topik yang sudah disepakati sebelumnya: 
The most precious thing(s) in life. 

Saya sempat bingung (dan bahkan bengong) ketika topik itu muncul ke permukaan untuk sesuatu yang saya tuliskan. Spontan saya berbicara pada diri sendiri: “Apa ya?” pertanyaan itu pun terus berputar di otak saya yang kosong ini.
Bagi beberapa orang yang mengenal saya dengan baik, kehidupan saya akhir-akhir ini sungguhlah selow kalo kata anak jaman sekarang. Bangun tidur, siap-siap, pesan ojek online, pergi ngantor naik ojek, sampai di kantor ceritanya kerja, lalu pulang. Udah, gitu-gitu aja. Palingan kalo ada janji ngopi sama temen-temen saya aja saya baru keluar rumah. Sudahkah hidup saya terlihat cukup membosankan bagi kalian semua? Kalau sudah, sekarang saya akan menceritakan tentang betapa lebih membosankannya lagi hidup saya, and now let me tell you about the most precious thing(s) in my life, as mentioned above.